Pengemis Cilik Marak, Satpol Bone Janji Tertibkan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Utama

Pengemis Cilik Marak, Satpol Bone Janji Tertibkan

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Maraknya pengemis cilik yang muncul di dalam kota mendapat perhatian serius Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bone. Satpol PP menyatakan segera turun melakukan penertiban.
Kepala Satpol PP, M Zainal N kepada RADAR BONE, Senin, 3 Juli kemarin mengatakan sesungguhnya sudah pernah melakukan penertiban, namun pengemis cilik kembali beraksi.

Zainal pun setuju aktivitas mengemis ini ditertibkan sebelum pelakunya semakin bertambah banyak. “Bagi pengemis yang dari luar daerah, kita kembalikan ke kampungnya. Kemudian yang berasal dari Bone kita buatkan surat pernyataan, panggil orangtuanya,” tegas Zainal.

Zainal menegaskan, aktivitas mengemis di dekat traffic light tidak bisa dibiarkan. Apalagi, beberapa diantara pengemis cilik tersebut tercatat sebagai pelajar SD dan berasal dari keluarga mampu. “Harus diberikan efek jera, sebelum bertambah banyak. Karena jika sudah banyak tentu sulit untuk diatasi,” jelasnya.

Pengemis cilik ini kerap mangkal di dua titik traffic light di bilangan Jl Ahmad Yani, yakni di perempatan Jl Ahmad Yani-Jl Besse Kajuara-Jl Gunung Klabat, dan perempatan Jl Ahmad Yani-Jl Hos Cokroaminoto-Jl Dr Wahidin Sudirohusodo atau sekitar Masjid Al Markaz Al Ma’arif. Bahkan, kini sudah meluas ke traffic di Jl Agussalim.

Salah seorang pengemis cilik, Riski yang disambangi RADAR BONE, Minggu, 2 Juli lalu, mengatakan saat ini dirinya masih tercatat siswa di salah satu SD di dalam kota. “Saat ini saya sementara menempuh pendidikan di SD Inpres 12/79 Biru. Saya menjadi pengemis atas inisiatif sendiri. Bahkan orangtua saya tidak mengetahui kalau saya menjadi pengemis,” ungkap bocah asal Jl Sambaloge itu.

Riski mengaku setiap keluar mengemis beralasan berangkat menjual kantong plastik di Pasar Sentral Lama.
“Alasan saya ke orangtua, saya menjual kantongan di pasar, dan hasil dari ngemis ini saya sisipkan sebagian buat belanja orangtua, dan sebagian buat jajan di sekolah,” jelasnya.

Diakui Riski, dalam sehari bisa mendapatkan uang berkisar Rp100.000 sampai Rp130.000.
“Kalau orang tua saat ini dia bekerja sebagai petani, makanya saya begini karena saya tidak pernah dikasi uang jajan,” bebernya.

*

To Top