Perangi Kemiskinan dan Politik Dinasti, Sulsel Butuh Hero Sekaliber NH – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Perangi Kemiskinan dan Politik Dinasti, Sulsel Butuh Hero Sekaliber NH

RADARBONE.CO.ID_MAKASSAR – Mayoritas masyarakat Sulsel kini menantikan datangnya pemimpin baru. Seorang ‘hero’. Bukan pemimpin dinasti yang anti-perubahan. Dan, tokoh paling ideal untuk bisa memotong mata-rantai politik dinasti itu ada dalam sosok Nurdin Halid yang berpasangan dengan Aziz Qahar Mudzakar dalam Pemilihan Gubernur tahun 2018.

Gelombang perlawanan kembali memanas setelah dipicu oleh pidato politik mantan Ketua KPK Abraham Samad pekan lalu di Anjungan Pantai Losari. Dalam orasi pencapresannya untuk Pilpres 2019, Abraham Samad melontarkan kritikan keras terhadap praktik politik dinasti yang merongrong hakikat demokrasi dan menyuburkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Meski tidak secara spesifik menyebut politik dinasti di Sulawesi Selatan, kecaman Abraham Samad seperti memberikan amunisi baru bagi sejumalah kalangan yang selama ini menolak politik dinasti di Sulawesi Selatan. Apalagi, pilihan lokasi pidato pencapresan Abraham Samad di Anjungan Pantai Losari, bermakna simbolik karena tepat di depan lokasi megaproyek reklamasi CPI yang ditentang berbagai kalangan.

Fenomena penolakan terhadap politik dinasti di Sulawesi Selatan sudah mengemuka sejak satu setengah tahun lalu. Tepatnya, ketika ada indikasi Ichsan Yasin Limpo (IYL) siap maju dalam Pilgub Sulsel 2018 untuk menggantikan kakaknya Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang sudah menjabat dua periode. Penolakan datang dari berbagai elemen masyarakat Sulawesi Selatan, mulai dari akademisi, politisi, aktivis, LSM, hingga masyarakat umum.

“Jika IYL maju dan terpilih, bisa dipastikan dinasti Limpo akan eksis 10 tahun ke depan. Berarti sudah 25 tahun kalau dihitung dengan masa kepemimpinan SYL. Dan, dinasti ini berpotensi berkuasa hingga tahun 2038 karena anak IYL kini menjabat bupati Gowa. Ingat bahwa SYL dan IYL masing-masing pernah menjabat bupati Gowa dua periode,” ujar seorang mantan guru besar Universitas Hasanuddin awal 2017 lalu.

Penolakan politik kekerabatan menguat setelah IYL dipastikan maju dalam Pilgub Sulsel 2018. Kekuatiran muncul karena IYL yang didukung kakanya SYL memiliki kekuatan jaringan politik dan basis massa serta kapital. Kalkulasi yang logis mengingat SYL menjabat wakil dan gubernur selama 15 tahun dan IYL menjadi bupati selama 10 tahun.

Maka, dari berbagai diskusi internal, mereka yang menolak politik dinasti pun sampai pada kesimpulan: harus menemukan tokoh Sulsel hebat untuk bisa mengakhiri politik dinasti. Dan, sosok itu mereka temukan dalam diri Nurdin Halid.

“Kami meyakini hanya Pak Nurdin yang bisa memotong mata rantai dinasti politik di Sulsel ini. Dulu, dia yang anak seorang guru bisa menerobos hegemoni politik elitis di Sulsel dengan menjadi ketua AMPI, lalu terpilih menjadi anggota DPR RI. Kini, sebagai tokoh nasional dan figur kunci di DPP Partai Golkar, dia pasti mampu memotong hegemoni politik dinasti dalam kepemimpinan Sulsel,” demikian Sang Profesor tentang kesimpulan diskusi dengan teman-temannya.

Bagi mereka, sosok NH tentu bukan sekadar mampu menghentikan dinasti politik. Lebih jauh dari itu, NH memenuhi sejumlah kriteria yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai perubahan mendasar demi kemajuan Sulsel di masa depan, terutama memerangi kemiskinan dan kesenjangan yang sudah sangat dalam. “Pak NH itu tokoh nasional dan internasional yang memulai karir dari bawah, dari sini, dari Tanah Sulsel. Semua pencapaian beliau hingga ke puncak organisasi koperasi, sepakbola, dan politik memperlihatkan kemampuan, kematangan, bakat kepemimpinan yang luar biasa. Kalau hanya untuk memajukan Sulsel, kami sangat yakin dan menaruh harapan besar pada sosok beliau,” ujar Bupati Bone, Andi Baso.

Pemimpin Multi Talenta Keyakinan terhadap sosok NH sangat logis dan realistis. Bakat, kemampuan, totalitas dan pengalaman panjang NH dalam berbagai organisasi – terutama di koperasi, sepakbola, dan politik – sejak muda di Sulsel hingga kini di level nasional dan internasional sudah sangat teruji dan sukses hingga ke pucuk tertinggi. Pengakuan terhadap kepemimpinan NH datang dari berbagai kalangan.

Salah satu pengakuan datang dari tokoh senior berpengaruh di Partai Golkar, Akbar Tanjung. “Saya kenal Nurdin Halid sejak di organisasi kepemudaan. Ia sosok yang enerjik, pintar, tegar, dan mudah diajak kerjasama. Kalau ia terjun di satu bidang, ia tidak mau setengah-setengah, total, rela berkorban, dan berani melakukan lompatan-lompatan besar, sehingga ia sukses di semua bidang yang digelutinya. Pengorbanannya tak sebatas tenaga dan pikiran, tetapi juga materi. Sangat sulit sekarang ini kita menjumpai tokoh seperti dirinya,” kata politikus ulung ini.

Rahasia sukses kepemimpinan NH diungkapkan tokoh sepakbola Indonesia yang juga pengusaha sekaliber Nirwan Bakrie, pemegang kendali bisnis Bakrie Group. “Nurdin Halid seorang organisatoris yang hebat dan komit pada organisasi yang dipimpinnya. Ia menjiwai pekerjaanya, jiwanya terbuka dan dinamis. Ia taat azas, menghargai kedudukan, dan teguh mengawal organisasi yang dipimpinnya. Ia angkat orang, lalu dijadikan partner. Bukan lagi atasan dan bawahan sehingga orang mau bekerja total karena merasa dihargai dan menjadi bagian dari organisasi,” kata Nirwan yang menjadi partner NH sejak di klub Pelita Jaya hingga berduet sebagai ketua umum dan wakil ketua umum PSSI 2004-2011.

Menteri Sosial Idrus Marham bahkan secara eksplisit menyebut NH adalah sosok yang paling memenuhi syarat memimpin Sulsel di era penuh tantangan ini. “Saya lama bekerjasama dengan Pak Nurdin Halid di banyak organisasi. Karakter yang paling menonjol beliau adalah fleksibilitas dalam pergaulan dan kokoh dalam prinsip. Kedua, jika punya ide, beliau tidak akan berhenti sebelum ide itu dapat diwujutkan. Nah, ciri karakter Pak Nurdin seperti itu sangat penting dimiliki oleh calon pemimpin di Indonesia, termasuk pemimpin di Sulawesi Selatan dalam menghadapi berbagai tantangan hari ini dan di masa depan,” ujar Idrus, politikus handal Partai Golkar berdarah Sulawesi Selatan.

Pengakuan akan kekuatan karakter NH meluncur dari mulut Gubernur Sulawesi Selatan periode 2003-2008, Amin Syam. “Nurdin Halid ini orang cerdas. Hanya orang cerdas yang bisa mengatasi masalah di Sulsel. Dia punya banyak kelebihan dibanding calon lain di Pilgub 2018. Dua yang paling menonjol. Pertama, beliau seorang yang sangat tau diri, sopan, akhlak bagus, menghormati orangtua, serta menyayangi sesama yang di bawahnya. Dengan status beliau sebagai tokoh nasional dan internasional, jarang ada orang yang memiliki karakter seperti ini. Kedua, dia warani (pemberani). Orang yang memimpin Sulsel harus berani, tidak bisa kalau tidak mase’ge karena akan dipandang enteng orang. Mase’ge nasaba patujui. Berani karena benar.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top