Petugas SPBU ‘Kebanjiran’ Uang Receh – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Petugas SPBU ‘Kebanjiran’ Uang Receh

Penghasilan Jasa Pompa hingga Uang Kembalian Konsumen 

Anda mungkin pernah mengalami, saat mengisi bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), uang receh kelebihan dari pembayaran anda tidak dikembalikan petugas SPBU. Lantas kemana uang receh kelebihan pembayaran konsumen itu.

Risnawati, Watampone

Salah seorang konsumen, Nasir mengakui tak jarang dirinya merelakan uang kembalian saat mengisi BBM di SPBU, khususnya jika kembaliannya tergolong uang receh. “Berkali-kali saya mengisi bensin di SPBU, saya minta full tangki, dan seharusnya saya bayar cuma Rp19.400 (Sesuai harga tertera di meteran), akan tetapi saya bayar Rp20.000. Dan itu tanpa ada kembalian,” ungkap Nasir.

Jika di minimarket uang receh atau kembalian pembayaran konsumen biasanya ditukar dengan permen, atau didonasikan untuk bantuan sosial, kata Nasir, tapi di SPBU jarang dijumpai hal demikian. Lantas, berapa banyak uang receh yang ‘menumpuk’ di tangan petugas SPBU. Ternyata dana yang terkumpul cukup lumayan.

Berdasarkan pengakuan dari salah seorang petugas SPBU di daerah ini, uang receh tersebut ternyata menjadi ‘berkah’ bagi mereka. Tak hanya uang kembalian konsumen, tapi tip jasa pompa saat mengisi jeriken ternyata lebih besar.

Bayangkan dalam sehari, uang jasa pompa yang terkumpul mencapai ratusan ribu rupiah, bahkan hingga di atas Rp1 juta. “Dari hasil pengumpulan uang receh itu paling banyak saya dapat ketika ditugaskan di bagian solar, yakni paling tinggi pernah Rp1.200.000. Dan rata-rata Rp500.000,” beber seorang petugas SPBU berinisial AR. Uang yang dimaksud AR ini adalah tip yang diberikan konsumen saat mengisi solar melalui jeriken.

Namun uang receh kelebihan pembayaran konsumen juga diperoleh ketika bertugas di bagian premium, pertalite, dan pertamax. “Kalau di bagian premium dan lainnya itu paling banyak hanya bisa medapatkan Rp300.000 dan paling sedikit R50.000, dan hasil pengumpulan ini biasanya saya belikan jajanan, pulsa, dan lain-lainnya,” cerita AR.

Tak jarang juga ia setor sebagian kepada bosnya. “Kami juga kumpul di bos akan tetapi tidak seberapa, biasanya kalau kami dapat Rp500.000, kita kasinya cuma Rp100.000 saja,” jelasnya.
AR mengakui bekerja di SPBU diberi gaji sebesar Rp100 ribu perhari. Pihak SPBU juga menanggung makannya saat bertugas.

Salah satu pimpinan SPBU di daerah ini, Andi Yenni mengatakan di tempatnya tidak pernah mempersulit konsumen jika hendak membeli BBM, jika tidak cukup uangnya. “Kami selalu melayani pembeli meskipun uangnya tidak mencukupi harga dari satu liter karena kami sudah menetapkan sesuai dengan bilangan di rempoa,” katanya.
Dia menegaskan selalu menegur karyawannya ketika ada konsumen yang mengisi BBM tetapi dibayar lebih tinggi dari pada harga yang tertera pada layar digital SPBU.

“Saya selalu menegur kalau ada karyawan saya yang begitu, dan juga disampaikan kepada masyarakat kalau ada yang seperti itu masuk saja ke kantor melapor,” tegasnya,

Hanya saja, terkait uang receh dari kelebihan pembayaran konsumen, Yenni mengaku tak mengetahui persis hal seperti itu. Pasalnya, dirinya cuma menghitung dari saldo awal hingga saldo akhir.
“Kalau masalah uang dari hasil recehan yang didapat saya juga kurang tahu dikemanakan itu, karena uang yang dikumpul itu sesuai dengan yang mereka dapat, karena kami periksa dulu teler awal dan juga periksa teler akhirnya,” bebernya.

(*)

To Top