Pilkada Bone Turut Dipantau Peneliti Senior LSI. Simak Analisanya Termasuk Kemungkinan Pilkada Melawan Kotak Kosong – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Pilkada Bone Turut Dipantau Peneliti Senior LSI. Simak Analisanya Termasuk Kemungkinan Pilkada Melawan Kotak Kosong

Peneliti senior LSI, Adjie Alfaribi tampak serius berdiskusi dengan tokoh pemuda asal Bone, A Yuslim Patawari

 

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 segera bergulir. Agenda itu sangat menentukan secara signifikan konsolidasi demokrasi, termasuk di Kabupaten Bone, yang juga akan memilih kepala daerah, menyusul berakhirnya masa jabatan periode pertama pasangan HA Fahsar M Padjalangi-H Ambo Dalle.

Kedua figur yang pada Pilkada 2013 lalu mengusung tagline Tafa’dal, dipastikan kembali berpaket di 2018 dengan mengusung tagline Tafa’dal jilid 2.

Sejauh ini, baru pasangan tersebut yang telah mendeklarasikan pencalonan mereka di pilkada dan telah mengantongi SK dari DPP Partai Golkar. Sehingga secara matematis, pasangan tersebut memenuhi syarat bertarung di Pilkada Bone (Golkar meraih 15 kursi DPRD Bone. Sementara persyaratan maju, minimal mengantongi dukungan 9 kursi parpol di DPRD).

Dilain sisi, tokoh yang bakal maju, masih disibukkan dengan penjajakan figur dan pendekatan di masing-masing parpol pengusung. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaribi punya pandangan lain terkait sistem perpolitikan di Bone jelang pilkada.

Satu catatan penting yang perlu diwaspadai kata Adjie, yakni adanya skenario melawan kotak kosong. Dimana pasangan yang akan bertarung berusaha merebut rekomendasi seluruh parpol pengusung.

“Di luar sisi hukum dan aturan lainnya yang kini membolehkan pasangan calon tunggal, ada ironi demokrasi yang mengemuka dari fenomena ini. Ironi itu ialah masih abainya peran partai politik dalam menyediakan kanal yang kompetitif dalam pemilihan kepala daerah,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, fenomena ini harusnya dievaluasi seluruh partai politik. Pilkada lanjut dia, tidak semata-mata urusan prosedural dan instrumental, tetapi juga harus menguatkan aspek substansialnya.

“Pasangan lebih dari satu membuat adu konsep, adu gagasan, ruang dialektika, dan juga akan menghadirkan banyak sekali panggung yang menguji kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin daerah,” terangnya.

Terpisah, komisioner KPU Sulsel divisi teknis, Misnawati Attas mengatakan, merujuk ke Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, pemilihan dengan satu pasang calon dapat dilaksanakan dengan beberapa syarat. Salah satunya apabila setelah dilakukan penundaan dan sampai dengan berakhirnya masa perpanjangan pendaftaran, hanya terdapat satu pasangan calon yang mendaftar.

*

Click to comment
To Top