Pintu Gerbang Perdagangan Lintas Provinsi, Bone Berpeluang Pusat Grosir – Radar Bone

Radar Bone

slider utama

Pintu Gerbang Perdagangan Lintas Provinsi, Bone Berpeluang Pusat Grosir

WATAMPONE, RB–Kabupaten Bone merupakan jalur lintas perdagangan antar Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Setiap, hari truk pengangkut barang dan hasil bumi melintas di Bumi Arung Palakka melalui Pelabuhan Penyeberang Bajoe-Kolaka. Jika ini peluang ini ditangkap, maka Bone bisa menjadi salah satu pusat perdagangan di Sulsel.

Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, Bone memiliki kontribusi besar sebagai penyangga perekonomian di Sulsel. Apalagi, angka pertumbuhan ekonomi di daerah ini melampaui Sulsel, bahkan nasional.
“Saya buka data BPS, angka pertumbuhan ekonomi Bone 8,92%. Pertumbuhan ini melampaui Sulsel 7,15%. Bahkan sangat jauh dari nasional yang pertumbuhannya 4,94%. Saya lihat melihat istimewa pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Dan Bone memberikan kontribusi yang besar,” kata A Muh Yusuf, Kabag Informasi dan Komunikasi OJK Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua saat memberi sambutan pada acara peresmian pada salah satu kantor bank di daerah ini, Senin 14 Maret lalu.
Yusuf juga memuji pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) Bone yang masuk dalam tiga besar di Sulsel. Dimana perputaran uang di Bone, kata Yusuf mencapai Rp20 triliun. Tinggi perputaran uang di Bumi Arung Palakka tersebut tentu membuka peluang Bone menjadi salah satu pusat perdagangan di Sulsel.
Pengamat Ekonomi, Baruddin, SE,MM mengatakan posisi strategis yang dimiliki Kabupaten Bone, seharusnya dikelola secara serius pemerintah daerah. Arus lalu lintas perdagang setiap hari melewati daerah ini, melalui truk-truk pengangkut barang dari Sulsel ke Sultra, atau sebaliknya suplai hasil bumi dari Sultra ke Sulsel. Selama ini, Kabupaten Bone hanya menjadi tempat persinggahan atau transit bagi warga dari berbagai daerah di Sulsel yang hendak ke Sultra atau sebalikmya. Belum ada kontribusi yang signifikan diperoleh pemerintah daerah. Yang ada, hanya menjadi tempat persinggahan untuk beristirahat. Padahal jika pemerintah daerah bisa menangkap peluang tersebut, Bone bisa menjadi pusat perdaganga. Warga dari Sultra tak perlu lagi melanjutkan perjalanan ke Makassar, karena semua kebutuhan barang tersedia di Bone. “Selama ini warga Sulawesi Tenggara ke Makasar untuk membeli barang-barang industri untuk kebutuhan daerahnya, seharusnya mereka tidak perlu ke sana, karena mengingat Kabupaten Bone lebih dekat aksesnya,” ungkapnya.
Kalau pemerintah cerdas menangkap peluang ini, kata Badaruddn tidak perlu melakukan hal yang banyak, cukup hanya menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh kabupaten tetangga. “Kalau masyarakat Sulawesi Tenggara berburu ke Makassar dan Surabaya untuk mendapatkan barang, kenapa barangnya yang disediakan di Bone. Ajak investor untuk berinvestasi di Bone, sehingga peluang perekonomian di Bone bisa menjadi lebih besar,” sarannya.
Pernyataan Badaruddin tersebut cukup beralasan. Jika melihat angka produksi angkutan lebaran di Pelabuhan Bajoe pada 2015 lalu (21 Juli 2015), khusus untuk penumpang berjumlah 1.200 orang dalam sehari. Ini terbagi atas atas penumpang pejalan kaki 500 orang dan penumpang dalam kendaraan 700 orang. Kemudian kendaraan sebanyak 269 unit. Terbagi atas kendaraan roda dua sebanyak 202 unit, roda 42 unit dan roda empat lebih sebanyak 25 unit. Angka ini menunjukkan tingginya arus penumpang dan kendaraan yang melintas di Pelabuhan Bajoe.
Anggota Komisi II DPRD Bone, Herman ST menilai, Bone sangat berpeluang menjadi pusat perdagangan di Sulsel. Mengingat Kabupaten Bone dinilai memiliki potensi besar di berbagai sektor. Mulai dari sektor pariwisata, pertanian, perkebunan hingga perdagangan. Terkhusus di sektor perdagangan, Bone dianggap salah satu daerah yang berpotensi menjadi pusat perdagangan di Sulsel, khususnya perdagangan grosir. Hal itu cukup beralasan, mengingat daerah yang berjuluk Bumi Arung Palakka ini memiliki pelabuhan yang cukup besar yang melayani antar pulau.
Hanya saja, pemerintah daerah belum terlalu melirik potensi itu.
“Sisa bagaimana pemerintah daerah berkresasi guna menarik investor maupun pengusaha untuk berinvestasi di Bone,” ungkapnya.
Herman menyatakan pihaknya siap mendukung untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
“Kami di dewan tentu akan mendorong jika seyogyanya pemerintah daerah berkeinginan menjadikan Kabupaten Bone sebagai pusat grosir di Sulsel,” imbuhnya.
Senada diungkapkan Wakil Ketua DPRD Bone, Bustanil Arifin Amry.
“Bukan hanya di Bajoe, Bone memiliki beberapa pelabuhan, seperti Cappa Ujung dan di Kajuara. Di sinilah mungkin pemda perlu memikirkan bagaimana agar pengusaha grosir misalnya di Tanah Abang bisa menanamkan investasinya di Kabupaten Bone,” kuncinya.

agustapa-askarsyam

To Top