Pohon Bakau di Desa Kajuara Awangpone Dibabat, Ini Kata DLH – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Pohon Bakau di Desa Kajuara Awangpone Dibabat, Ini Kata DLH

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone menegaskan hutan bakau yang berada di wilayah pesisir pantai tidak boleh dirusak. Karenanya DLH pun memperhatikan kelestarian pohon bakau yang tumbuh di wilayah pesisir.

Kabid Pengembangan Kapasitas dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, Jamaluddin menegaskan pohon bakau yang berada di wilayah pesisir pantai harus dijaga.”Kecuali di luar pesisir dan milik pribadi tidak ada masalah,” ungkap Jamaluddin kepada RADAR BONE, Senin, 7 Agustus kemarin.

Jamaluddin menambahkan untuk wilayah pesisir Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone, pihaknya pernah melakukan penaman pohon mangrove selama dua tahun berturut-turut, yakni 2014 dan 2015. Diakui Jamaluddin wilayah pesisir merupakan milik negara sehingga tidak boleh ada pembabatan di dalamnya.

Terkhusus lahan bakau yang diklaim Kepala Desa Kajuara, Mastiati sebagai lahan pribadi, Jamaluddin mengatakan dirinya tidak mengetahui status lahan dimaksud. Meskipun diakui dirinya juga mendengar informasi, bahwa ada lahan milik kepala desa setempat yang berada di luar wilayah pesisir. Menurut dia, untuk memastikan hal itu Badan Pertanahan Nasional paling yang berwenang untuk menjelaskan.

“Kami tidak tahu status tanah yang ada di sana (Kajuara), apakah kawasan atau bukan,” tuturnya.
Mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bone, Ir Baharuddin yang dikonfirmasi soal status hutan bakau di Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone mengaku tidak mengetahui persis.

“Saya tidak tahu kalau itu (Hutan bakau di Kajuara). Tapi intinya begini apakah status hutan itu baru penunjukan atau sudah ada ketetapan, prinsipnya sama. Tidak boleh dirusak atau diperjualbelikan,” kunci dia.

Kepala Desa Kajuara, Mastiati kepada RADAR BONE menegaskan, lahan bakau yang dibabat tersebut adalah lahan milik pribadi bukan kawasan hutan. Diakui, dirinya memiliki lahan seluas 4 hektar.

“Di lokasi itu suami saya yang menanam sejak puluhan tahun lalu, karena memang sudah ditanami baru saya menikah. Saya sudah 30 tahun lebih menikah. Lahan kami luasnya kurang lebih empat hektar dan sudah bersertifikat,” akunya.

Suami Kepala Desa Kajuara, Arifuddin D menambahkan lahan bakau yang berada di Dusun Lompo, tepatnya di pinggir sungai adalah miliknya. Ia mengakui memiliki bukti seritifikat atas kepemilikan lahan tersebut.

“Lokasinya berada di pinggir sungai dan itu merupakan tanah saya dan ini dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan yang terbit tanggal 11 Agustus 1999. Tapi hak kepemilikan turun temurun. Sudah lama saya pegang, karena dulu itu lokasinya empang,” bebernya sambil memperlihatkan sertifikat tanah dimaksud, kemarin.

Arifuddin menceritakan, dahulu lokasi tersebut merupakan daerah pemukiman sebelum diubah menjadi empang dan ditanami pohon bakau dan sekarang sudah menjadi hutan bakau..

“Kan dulu itu penguasaan nenek saya. itu tanaman kayu digunakan sebagai tiang, sero’ belle. Itu dulu. Nah setelah sampai ke anak cucunya, turunan saya, saya bikin jadi empang. Setelah jadi empang karena tidak ada pajaknya, makanya diuruskanlah PBB. Setelah lama diuruskan PBB, baru diusulkan menjadi sertifikat. Dulu tak ada pohon di situ, masih empang. Dan saya sendiri yang tanam pohon bakau di pematang empang supaya tidak roboh. Sudah puluhan tahun itu, makanya sekarang sudah besar dan menjadi hutan bakau.” tambahnya.

Soal dugaan lahan yang dikapling lalu dijual, Arifuddin yang juga Camat Tellu Siattinge mengakui sudah menjadi haknya karena didasari kepemilikan sertifikat.

“Kalau saya kapling dan saya mau jual kan apa salahnya karena saya punya apa artinya itu saya punya sertifikat sebagai bukti kepemilikan. Mau saya jual atau kasi orang itu hak saya. Itu pohon kan hak saya karena saya yang tanam. Yang ditanam BLHD masih kecil. Kalau ditanam mahasiswa itu cuma puluhan pohon di pinggir-pinggir sungai,” jelas Mantan Kades Kajuara itu.

Diberitakan sebelumnya, hutan mangrove di Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone terancam beralih fungsi. Lahan bakau diduga sudah dikapling untuk dijadikan kawasan permukiman. Aksi pengrusakan pohon pun tak terhindarkan. Lahan bakau yang telah dirusak itu diapit laut dan sungai.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top