Ponpes Pajalele Dianggap Diskriminatif , Pemberian Rekomendasi Pindah Pilih Kasih – Radar Bone

Radar Bone

Pendidikan

Ponpes Pajalele Dianggap Diskriminatif , Pemberian Rekomendasi Pindah Pilih Kasih

WATAMPONE, RB–Diharuskannya siswa mondok di Pondok Pesantren Pajalele Desa Mattoanging Kecamatan Tellu Siattinge membuat sejumlah siswanya banyak yang meminta rekomendasi pindah ke SMPN 1 Lamurukung. Akan tetapi dalam pemberian rekomendasi surat pindah ini, pihak Ponpes Pajalele terkesan pilih kasih, ada yang disetujui dan adapula siswa dipersulit. Salah satunya Nurlia warga Desa Mattoanging menilai Ponpes Pajalele diskriminatif dalam pemberian rekomendasi pindah. “Sebelumnya sudah banyak siswa yang mengajukan pindah ke SMPN 1 Lamurukung, giliran anak saya atas nama Jumaslan yang mau pindah dipersulit,” ungkapnya.
Kepala Ponpes Pajalele H. Darwis SAg yang dikonfirmasi terkait hal tersebut mengaku sudah menerima surat permohonan pindah Jumaslan, namun dirinya tidak bisa menandatangani surat itu tanpa ada persetujuan yayasan. “Saya tidak bisa tandatangani surat rekomendasi tersebut tanpa seizin yayasan,” ungkapnya, Senin, 28 Maret lalu.
Disisi lain, pengelola Ponpes Pajalele atas nama Hj. Misra yang dikonfirmasi mengenai dipersulitnya siswa pindah ke SMPN 1 Lamurukung membenarkan hal itu. Dirinya tidak bisa memberikan rekomendasi pindah ke SMPN 1 Lamurukung dengan alasan tidak boleh siswa dari yayasan swasta pindah ke sekolah negeri, dan bisa saja pindah ke sekolah negeri yang lebih rendah akreditasinya. “Saya sudah koordinasi dengan pak Sekretaris, itu penjelasan beliau kepada saya. Jadi kalau ada yang mau pindah saya tidak larang, tapi cari sekolah swasta juga dan jangan ke SMPN 1 Lamurukung,” ungkapnya.
Mengenai adanya sejumlah siswa yang telah lolos pindah ke SMPN 1 Lamurukung itu tidaklah salah. “Itu benar, tapi saat ini kami perketat, kami sudah mengacu pada aturan,” katanya.
Mengenai adanya kebijakan pihak Ponpes Pajalele agar siswa bisa tidak mondok, itu juga benar. Namun pada saat itu kepala sekolah yang lalu yang menerapkan aturan itu. “Kepala sekolah yang lalu bertindak tanpa sepengetahuan yayasan, setelah ketahuan, maka dilakukan pergantian Kepsek, sehingga tidak ada lagi siswa yang tidak mondok semua diwajibkan,” terangnya.
agustapabaddahu@gmail.com

To Top