Poros Bone – Wajo Darurat Abrasi. Dua Titik Longsor Ini Jadi Bukti – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Poros Bone – Wajo Darurat Abrasi. Dua Titik Longsor Ini Jadi Bukti

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pendangkalan sungai Walannae di sepanjang poros Bone-Wajo kian memprihatinkan. Ancaman abrasi kini menghantui penduduk yang bermukim di sepanjang bantaran sungai tersebut.

Pendangkalan Sungai Walannae, diduga terjadi akibat maraknya aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Walannae. Mulai dari Desa Welado, hingga ke Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge. Selain itu, longsor juga mengancam arus lalu lintas di sepanjang poros Bone-Wajo.

Setidaknya, terdapat dua titik longsor ditemukan kawasan poros jalan tersebut, yakni di Desa Tawaroe, Kecamatan Dua Boccoe dan Desa Welado, Kecamatan Ajangale. Di Desa Tawaroe, longsor sudah mengikis separuh badan jalan. Akibatnya arus lalu lintas di titik tersebut diberlakukan satu jalur.

“Kalau tidak segera disikapi, dikhawatirkan terjadi kecelakaan. Karena lokasi longsor (Tawaroe), tepat berada di tikungan jalan. Ditambah pada malam hari, tidak ada penerangan jalan di lokasi ini,” ungkap Muhammad Justang, warga Desa Solo, Kecamatan Dua Boccoe.

Warga lainnya, Samsul Alam turut mendesak dihentikannya aktivitas tambang pasir di sepanjang aliran Sungai Walannae.

Selain bisa merusak lingkungan, abrasi akibat ditambang secara liar, juga mengganggu ketertiban umum dengan menempatkan galian pasir di wilayah terlarang.

Pantauan RADAR BONE, pasir disedot menggunakan pompa disel untuk mencapai daratan.
Penambangan ini setiap harinya berhasil mengeruk pasir dari aliran Sungai Walannae rata-rata 3 truk dengan berat 6 hingga 7 ton per truk.

Aktivis Lingkungan, Ahmad Irfan menyatakan prihatin melihat maraknya aktivitas penambangan pasir ilegal di sepanjang aliran Sungai Walannae.

Irfan menegaskan, salah satu fungsi dari pasir di dasar sungai adalah untuk menghambat laju aliran air, hal ini akan sangat terasa pada saat hujan lebat yang menyebabkan debit air meningkat. “Saat debit air sungai meningkat, maka laju aliran airnya juga akan ikut meningkat, jika tidak ada penghambat yang dapat mengurangi laju aliran air tersebut, maka dikhawatirkan akan dapat menyebabkan banyak kerusakan di sepanjang aliran sungai tersebut.

Makanya aktivitas yang dapat menghancurkan penghambat laju air tersebut (Penambangan liar), harus dihentikan,” ujarnya.

Kerusakan yang sering terjadi jika laju aliran air sangat besar, tanpa ada yang menghambatnya, kata Irfan yaitu, akan ada banyak longsor di sepanjang tepi aliran sungai, jika aliran sungai menghantam pondasi jembatan maka akan menyebabkan resiko jembatan rubuh. “Dari kedua kemungkinan di atas saja, akan ada banyak jiwa yang mungkin terancam keselamatannya. Belum dihitung dengan dampak ekonomi dan juga sosial yang mungkin saja ikut hancur,” tukasnya.

Pemerhati Lingkungan, Supriadi turut mengingatkan dampak lingkungan terhadap aktivitas tambang pasir. Salah satunya kata dia, penurunan kualitas air.

“Terjadinya penurunan kualitas air akibat dari pencucian pasir-pasir maupun karena akibat dari lahan yang telah menjadi terbuka karena tidak ada vegetasi penutup, sehingga air dapat mengalir dengan bebas ke badan-badan air,” ujarnya.

Dampak negatif lainnya, yakni rusaknya jalan. Para penambang yang telah mendapatkan pasir kata dia, biasanya meggunakan alat atau mesin-mesin berat seperti mobil pengangkut. “Mobil yang mengangkut pasir tersebut tentu menggunakan jalan raya yang tentunya akan membuat jalan raya semakin rusak di karenakan berat beban oleh kendaraan pengangkut material tersebut diduga melebihi kapasitas yang ditentukan. Aktivitas tambang liar ini patut mendapat perhatian pihak terkait,” bebernya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top