Praktik Bom Ikan Diduga Jadi Ladang Pungli – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Praktik Bom Ikan Diduga Jadi Ladang Pungli

Pelaku Bom Ikan diamankan Jajaran Satuan Polair Polres Bone, Senin 20 Maret.

Dugaan Pungli Nelayan di Kampung Bajo

PENULIS : HERMAN

Dugaan pungli pada nelayan ini mengemuka setelah seorang nelayan asal perkampungan Suku Bajo, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur bernama Bacotang (38) ditangkap, Senin, 20 Maret lalu sekira pukul 05.30 Wita.

Pria diringkus saat bersiap-siap hendak melaut. Di atas kapalnya ditemukan barang bukti berupa 12 detonator, sembilan botol berisi pupuk, tiga jeriken berisi pupuk, dua bekas korek kayu, dua korek gas dan empat keping obat anti nyamuk. Hingga saat ini, Bacotang masih mendekam di sel tahanan Polres Bone. Dia dijerat Undang-undang Nomor 12 Tahun 1951 ayat 1 pasal 1 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Yang menarik, nelayan yang tertangkap petugas Satuan Polair Polres Bone ini ternyata disebut-sebut sebagai salah satu nelayan yang ikut memberi setoran kepada oknum petugas Polair selama ini. Salah seorang warga setempat berinisial HA membeberkan hal ini saat ditemui RADAR BONE, Senin, 27 Maret lalu.

Ia memprotes penangkapan nelayan tersebut. Pasalnya, nelayan yang tertangkap rata-rata rutin membayar per bulan kepada oknum petugas Polair. Disebutkan HA, besar setoran nelayan Rp200 ribu sampai Rp400 ribu.
Untuk nelayan yang menggunakan perahu besar membayar Rp400 ribu. Sedangkan untuk nelayan menggunakan perahu kecil menyetor Rp200 ribu.

Ada puluhan nelayan yang diduga menggunakan bom ikan. “Yang jadi masalah karena nelayan membayar namun tetap ditangkap. Contoh kasus Bacotang, hanya terlambat (Membayar) tiga hari kemudian ditangkap. Proses penangkapan Bacotang juga terbilang janggal. Pada saat ditangkap, kapal dia (Bacotang) diapit empat kapal lain.
Dua kapal di depannya, dua kapal juga di belakang. Kenapa yang di tengah saja (Kapal milik Bacotang) ditangkap padahal empat kapal lain berisi bom ikan semua,” terangnya.

HA berharap jika ingin melakukan penegakan hukum, jangan terkesan tebang pilih.
“Nelayan membayar untuk menggunakan bom ikan. Namun tetap saja ditangkap sementara yang lain tidak ditangkap padahal mereka melakukan hal yang sama,” jelasnya seraya mengakui dirinya pernah membantu menyerahkan setoran nelayan di kampung Bajo kepada oknum petugas Polair.

Anggota DPRD Bone, Rudianto Amunir membenarkan adanya praktik pungli pada nelayan di perkampungan suku Bajo tersebut. Bahkan, sejak lama disuarakan, tapi tak ada reaksi, baik dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukm. “Ini sudah lama saya sampaikan melalui rapat maupun pertemuan seminar-seminar. Tapi tak ada aksi dari pihak pemerintahan maupun aparat penegak hukum. Semoga dengan berita ini pelaku kejahatan laut berkurang.

Semoga tidak ada lagi oknum yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya,” jelas politisi muda Partai NasDem ini seraya membeberkan, bahwa pelaku bom ikan dimintai pembayaran bervariasi besarannya. Untuk pemilik kapal kecil, kata Rudianto dimintai sekira Rp250 ribu, sedangkan kapal besar dikenakan Rp400 ribu.
Rudianto meminta dinas terkait untuk meningkatkan pengawasan.

Kepala Satuan Polair Polres Bone, AKP Armin Sukma yang dikonfirmasi RADAR BONE via sambungan telepon membantah adanya praktik pungli tersebut. “Tidak ada pungutan yang terjadi. Saya sudah tanya ke anggota yang dimaksud,” kata Armin seraya mengungkapkan, bahwa dirinya baru saja pulang dari menunaikan ibadah umrah.
Armin juga mengakui munculnya isu pungli ini ada kaitannya dengan penangkapan yang dilakukan anggotanya terhadap pelaku bom ikan, Bacotang, pekan lalu.

“Ini ada kaitannya dengan penangkapan terhadap Bacotang. Waktu pulang dari umrah, saya menghadap ke pak kapolres menyampaikan bahwa saya sudah kembali dari umrah. Saat hendak ke kantor mengecek pelaku bom ikan yang ditangkap. Tiba-tiba ada info dari anggota bahwa ada yang datang (Berinisial HZ, HH dan AS) meminta agar pelaku dilepas. Tapi pelaku terbukti dan dilengkapi barang bukti makanya permintaannya ditolak anggota,” jelas Armin.

Anggota Komisi I DPRD Bone, HA Suaedi, SH MH menyayangkan adanya dugaan praktik pungli tersebut. Menurut dia, nelayan yang menggunakan bom ikan sejatinya dibina, karena menangkap ikan adalah sumber kehidupan bagi nelayan di perkampungan suku Bajo.

“Sangat kita sayangkan jika ini benar terjadi. Pak kapolres harus mengusut ini, termasuk tim saber pungli harus bergerak,” tandas politisi Partai Demokrat itu. Lebih jauh Suaedi mengharapkan tak ada tebang pilih dalam penegakan hukum, termasuk bagi nelayan yang menggunakan bom ikan.

Namun demikian, kata dia nelayan yang ditengarai menggunakan ikan hendaknya dibina, sehingga mata pencaharian mereka sebagai nelayan tidak berhenti.

To Top