Proyek Sumur Bor di Bone Mubazir? – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Proyek Sumur Bor di Bone Mubazir?

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Proyek sumur bor yang dibangun untuk mendukung irigasi lahan pertanian di daerah ini terkesan sia-sia. Petani tak bisa memungsikan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut. Kabupaten Bone memiliki 110.760 hektar lahan persawahan. Dari lahan seluas itu, cuma 43.508 hektar atau 39 persen saja yang memiliki jaringan irigasi.

Selebihnya 67.252 hektar atau 61 persen hanya mengandalkan tadah hujan atau non irigasi.
Atas kondisi tersebut, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bone meluncurkan proyek sumur bor untuk lahan pertanian yang jauh dari sumber mata air.

Proyek yang menggunakan dana alokasi khusus (DAK) ini dibagi menjadi dua jenis sumur bor, yakni sumur dalam dan sumur dangkal. Khusus tahun ini, ada 74 sumur bor dibangun yang terbagi 63 unit sumur dangkal dan 11 unit sumur dalam. Untuk sumur dangkal anggarannya sebesar Rp90 juta per unit.

Sedangkan sumur dalam memakan biaya Rp200 juta per unit. Rekanan yang mengerjakan proyek ini ditunjuk langsung pihak Dinas Pertanian dengan masa pengerjaan selama 70 hari kerja.

Untuk menentukan titik koordinat lokasi pengeboran telah ditetapkan ahli geolistrik. Untuk sumur dangkal kedalamannya 20 hingga 60 meter, sedangkan untuk sumur dalam di atas 60 meter. Selain melakukan pengeboran, rekanan juga dituntut untuk menyediakan mesin diesel jenis Kubota atau Yanmar.

Agar sumur bor yang digali sumber airnya konstan, maka pihak rekanan diharuskan melakukan tes pumping 3×24 jam dengan air konstan. Hanya saja, setelah proyek ini rampung, petani tak bisa menikmatinya karena tak berfungsi.
Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE di Kelurahan Polewali, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Selasa, 1 Agustus lalu menemukan proyek sumur bor tersebut tak berfungsi.

Salah satu Ketua Kelompok Tani setempat, Beddu Rahman mengungkapkan sejak dibangun proyek sumur bor di wilayahnya tak bisa dioperasikan, karena adanya peralatan yang mengalami kerusakan.
“Jadi memang bantuan irigasi yang merupakan sumur dalam dari Dinas Pertanian itu, sampai saat ini tidak difungsikan karena kelistrikannya rusak dan itu dua tahun lalu dibangun,” ungkap Beddu Rahman, Ketua Kelompok Tani Pallepo.

Selain sumur dalam, sambung Beddu Rahman, tahun ini juga dibangun sumur dangkal yang menghabiskan anggaran Rp90.000.000 per unit. Namun nasibnya tak berbeda dengan proyek sumur dalam.
“Kalau bantuan sumur dangkal di kelompok tani ini, sejauh ini kami belum bisa memastikan apakah berfungsi atau tidak, karena sejak selesai dibangun belum pernah difungsikan,” bebernya.

Namun demikian, Beddu Rahman ada proyek sumur dangkal lainnya hingga kini tak berfungsi maksimal, alias tak bisa mengairi sawah di sekitar bangunan sumur bor dangkal dimaksud.

“Tapi kalau sumur dangkal yang bersamaan dibangun yang ada di kelompok tani ini memang sudah nyata bahwa ada yang tidak berfungsi secara maksimal, yakni tidak bisa mengaliri sawah yang ada dekat sumur tersebut,” katanya.

Beddu Rahman menilai proyek sumur bor hanya mubazir dan pemborosan anggaran karena tak bisa difungsikan. “Proyek ini hanya pemborosan. Pemerintah mengeluarkan bantuan tapi tidak tepat sasaran, karena di sini kan petani tidak terlalu memerlukan bantuan (sumur bor) itu, meski di sini tidak dilalui saluran irigasi, tapi sumur dangkal ini jangkauannya sangat terbatas,” pungkasnya.

Pihak Dinas Pertanian Kabupaten Bone yang berusaha dikonfirmasi terkait proyek sumur bor tersebut memilih bungkam.

Kabid Sarana dan Prasaran Dinas Pertanian Kabupaten Bone, A Tenriawaru SP yang dikonfirmasi RADAR BONE mengatakan dirinya tidak bisa memberikan keterangan tanpa seizin pimpinan.

“Kalau soal ini, mungkin bagusnya kalau ketemu langsung dengan kepala dinas,” ungkapnya. Sikap serupa diperlihatkan Kasi Lahan Irigasi dan Pembiayaan yang juga Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Proyek Sumur Bor, Farhan.

“Saya tidak berani memberikan informasi mengenai hal ini, tanpa ada persetujuan dari kepala dinas karena di sini memang sistemnya begitu, seandainya ada perintah baru kami berikan,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bone, Ir H Sunardi Nurdin yang beberapa kali hendak dikonfirmasi tak berhasil. Yang bersangkutan tak berkantor. Kabar yang diperoleh RADAR BONE, kadis sedang keluar kota.

Demikian pula saat disambangi di kantornya, Rabu, 2 Agustus lalu, Kadistan tak berhasil ditemui. Informasi dari staf di kantor itu menyebutkan kadis sedang sibuk.

“Kepala dinas lagi sibuk karena ada tamunya, tidak boleh digangu, nanti lain kali ke sini kalau mau ketemu,” ujar seorang staf Dinas Pertanian.

Salah satu Konsultan Proyek Sumur Dangkal, A Kanna yang dihubungi via telepon menyebutkan proyek sumur dangkal tertunda pengerjaannya, karena faktor cuaca buruk.

“Kalau saat ini pengerjaannya kami tunda karena terkendala cuaca, yakni waktu penghujan. Makanya kami tambah waktu pengerjaannya,” ungkap Kanna kepada RADAR BONE, Kamis, 3 Agustus kemarin.

Diakui Kanna, ada beberapa proyek yang belum rampung, sehingga belum bisa dfungsikan. “Saat ini memang beberapa unit itu belum rampung secara keseluruhan dan itu masih dalam tahap pengetesan,” jelasnya.

Terkhusus proyek sumur dalam di Polewali, Kanna mengatakan segera melakukan pengecekan ulang.“Kalau yang itu, nanti kami akan turun ke sana untuk mengecek kondisinya,” ujarnya.

*

To Top