Pungli Diberantas, Jembatan Timbang Tutup – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Pungli Diberantas, Jembatan Timbang Tutup

Suasana lengang juga terlihat di jembatan timbang yang berada di area Pelabuhan Penyeberangan Bajoe. Sementara itu Jembatan Timbang di Tana Batue sudah ditutup sejak Oktovber lalu.

PENULIS : BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB—Ditengah gencarnya pemerintah membe-rantas praktik pungutan liar (Pungli). Sejumlah jembatan timbang mendadak tutup. Benarkah, tidak beroperasinya jembatan timbang terkait dengan praktik pungli? Pemerintah pusat gencar melaksanakan pemberantasan praktik pungli di berbagai lini. Sejumlah instansi pun melakukan aksi bersih-bersih di internal masing-masing. Mulai dari pihak kepolisian melalui pelayanan pengambilan, SIM dan pengurusan STNK, Badan Penyelenggara Perizinan Terpadu (BP2T), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dengan penerbitan KTP dan KK-nya, hingga Dinas Pendapatan Daerah dengan pelayanan pajak bumi dan bangunan (PBB).

Hanya saja yang menjadi pertanyaan publik adalah tertutupnya beberapa jembatan timbang, termasuk jembatan timbang di Tana Batue. Penutupan terjadi di tengah gencarnya upaya pemberantasan pungli yang digalakkan Presiden Joko Widodo. Tak beroperasinya jembatan timbang ini tak pelak membuat sopir truk yang selama ini melintas di jalur poros Bone-Makassar bisa bernapas lega. Betapa tidak, mereka tak perlu lagi singgah memeriksakan bobot muatan di jembatan timbang. Ini setelah jembatan di Tana Batue tak beroperasi.

Pantauan RADAR BONE di jembatan timbang Tana Batue, pekan lalu menemukan jembatan timbang dalam kondisi sepi. Pintu masuk dan pintu keluar jembatan timbang tertutup rapat.
Penutupan jembatan timbang tersebut sesungguhnya berpotensi memperburuk kerusakan jalan yang terjadi di jalur poros Bone-Makassar. Truk bermuatan berlebih tak lagi mendapat pe-ngawasan. Dengan begitu, sopir bebas membawa muatan di luar ketentuan tonase.

Bayangkan, dalam sehari, belasan truk yang melintas di jalur Poros Bone-Makassar. Setidak-nya ini dapat dilihat dari jumlah truk yang dimuat di kapal feri, baik dari Pelabuhan Bajoe maupun sebaliknya.
Berdasarkan data yang diperoleh dari PT ASDP Cabang Bajoe menyebutkan, dalam sehari rata-rata 6-7 tujuh truk yang dimuat melalui tiga feri yang berangkat setiap hari. “Jumlah truk yang menyeberang setiap hari dari Pelabuhan Penyeberangan Bajoe menuju ke Pelabuhan Kolaka tidak menentu. Dimana masing-masing kapal terkadang hanya memuat dua truk sehari,” tutur Zaenuddin melalui Anas Supervisi ASDP Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Rabu 16 November kemarin.

Tertutupnya jembatan timbang Tana Batue juga diakui sopir truk yang mangkal di Pelabuhan Bajoe. Herman misalnya, mengakui sejak Oktober lalu, dirinya tak lagi singgah di jembatan timbang Tana Batue. Sebelumnya, kata dia diwajibkan singgah mengecek bobot muatan yang dibawa. Jika beban muatan yang dibawa dalam kondisi normal, maka dirinya tak perlu merogoh isi kocek dalam-dalam. “Jika muatan normal pembayarannya terkadang cuma Rp10.000. Bahkan, biasa juga hanya Rp5.000 per mobil,” ungkapnya. Tapi sebaliknya, jika muatannya over, pria ini rela membayar berkali-kali lipat agar muatan tidak dibongkar. “Dari pada dibongkar muatannya, maka lebih baik bayar Rp100.000 yang penting tidak dibongkar muatan,” beber Herman.

Pengakuan Herman tersebut sekaligus menegaskan, kuatnya dugaan praktik pungli di jembatan timbang yang sudah berhembus sejak lama. Tapi benarkah, jembatan timbang Tana Batue tutup gara-gara pungli?
Kepala Tata Usaha UPTD Lalu Lintas Angkutan Jalan Wilayah V Bone, Soppeng, Wajo Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi, A Eliyana yang dikonfirmasi RADAR BONE, menegaskan jembatan timbang Tana Batue ditutup karena dalam masa transisi pengalihan wewenang pengelolaan. Bukan karena pungli. “Jembatan timbang itu akan diambilalih pemerintah pusat pada tanggal 1 Januari 2017 mendatang. Makanya sekarang ditutup sebelum diambil alih.” jelasnya.

jembatan-timbang

Eliyana mengatakan dirinya tidak bisa menjelaskan lebih jauh kenapa jembatan timbang sampai harus ditutup. “Kami sudah laporkan ke pimpinan, kalau jembatan timbang itu akan diambilalih pemerintah pusat. Itu saja yang kami bisa sampaikan, saya tidak bisa jelaskan secara panjang lebar, kami hanya bisa jelaskan sesuai dengan kapasitas saya,” paparnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa 15 November kemarin. Penutupan jembatan timbang hanya gara-gara pengalihan pengelolaan dinilai tak masuk akal. Buktinya, Terminal Petta Ponggawae yang diambilalih pusat tetap dioperasikan sebagaimana biasanya.

Praktisi Sosial Rahman Arif tidak yakin jika jembatan timbang tersebut ditutup lantaran adanya pengalihan kewenangan dari provinsi ke pusat, Januari 2017 mendatang. “Seharusnya jembatan timbang tetap berope-rasi lantaran banyaknya truk yang melintas setiap harinya baik dari arah Makassar ke Bone maupun sebaliknya,” ungkapnya kepada RADAR BONE, Rabu malam 16 November kemarin.

“Kalo ditutup, menegaskan jembatan timbang selama ini sarat pungli. Karena ditutup bertepatan gencarnya pemberantasan pungli,” urainya. Rahman mendukung penutupan jembatan timbang, jika alasannya untuk pembenahan, bukan karena dalih pengalihan pengelolaan.

*ASKAR SYAM

To Top