RSUD Tenriawaru Turun Kelas. Ini Penyebabnya – Radar Bone

Radar Bone

Berita Utama

RSUD Tenriawaru Turun Kelas. Ini Penyebabnya

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru di deadline. Dalam waktu 28 hari, pihak rumah sakit harus melengkapi persyaratan untuk bisa kembali menyandang status rumah sakit Tipe B.

Akibat adanya evaluasi dari Kementerian Kesehatan, berdasarkan hasil
review yang dilakukan oleh pihak Kemenkes secara online, berdampak pada status rumah sakit plat merah itu.

Hasil keputusan Kementerian Kesehatan RI tersebut memberi  rekomendasi penyesuaian kelas RSUD Tenriawaru dari sebelumnya tipe B turun menjadi tipe C. Lantas bagaimana pelayanan di rumah sakit itu?. Humas RSUD Tenriawaru, Ramly memastikan pelayanan di rumah sakit pemilik pemerintah daerah ini tak berubah.

“Tetap pelayanan tipe B. Kan ini baru rekomendasi, belum diturunkan. Rumah sakit masih diberi waktu untuk klarifikasi,” ungkapnya kepada RADAR BONE, Senin 22 Juli kemarin. Ramly melanjutkan, penyebab rekomendasi penurunan kelas RSUD, dikarenakan adanya keterlambatan dalam penginputan data. Data yang dimaksud, yakni data dokter ahli di rumah sakit itu.
Diduga, adanya unsur kalalaian dari pihak pengelola  rumah sakit dalam proses pengimputan data. Dimana salah satu konsultan RSUD Tenriawaru tidak terinput dalam sistem, sehingga dianggap tak memenuhi syarat, meski RSUD Tenriawaru Bone telah mengantongi status akreditasi tingkat
paripurna.

“Kebetulan petugas untuk pengimput data online, terlambat mengimput data. Sehingga yang sampai ke pusat tidak ada. Makanya itu yang menyebabkan direkomendasikan turun tipenya,” jelasnya.

Ia menegaskan, petugas pengimput data akan mendatangi Kementerian Kesehatan untuk klarifikasi.  “Bahwa sebenarnya persyaratan itu sudah lengkap. Hanya saja pengimput datanya yang terlambat. Kita akan maksimalkan waktu 28 hari ini untuk klarifikasi,” tukasnya.
Adanya rekomendasi penurunan kelas rumah sakit, turut menjadi perhatian Komisi IV DPRD Bone.

“Ini yang akan kita rapatkan bersama manajemen rumah sakit, kenapa bisa tipenya turun. Karena tentu jika rumah sakit ini menyandang status tipe C, akan berdampak pada pelayanan kesehatan di rumah sakit itu,” tukas Sekretaris Komisi IV DPRD Bone, Rismono Sarlim.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat
Jenderal Pelayanan Kesehatan merekomendasikan penyesuaian kelas rumah sakit.
Hasil keputusan Kementerian Kesehatan RI tersebut memberi rekomendasi penyesuaian kelas rumah sakit berdasarkan hasil review yang dilakukan oleh pihak Kemenkes secara online.

Dua rumah sakit di Kabupaten Bone masuk dalam penyesuaian  kelas. Dua rumah sakit itu, masing-masing RSUD Tenriawaru dan Rumah Sakit Datu Pancaitana.  RSUD Tenriawaru turun kelas dari sebelumnya tipe B ke tipe C.

Sementara Rumah Sakit Datu Pancaitana, dari tipe C ke tipe D. “Rekomendasi penurunan kelas rumah sakit ini tidak hanya terjadi di Bone, akan tetapi terjadi di seluruh rumah sakit yang
ada di Indonesia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten  Bone, dr Hj Khasma Padjalangi MKes kepada RADAR BONE kemarin.

Menurutnya, penurunan kelas tersebut karena berdasarkan hasil pemantauan (review) yang dilakukan pada awal Januari 2019 lalu. Kemenkes RI menemukan ada rumah sakit di Bone yang
tidak sesuai kelasnya dengan yang ada saat sekarang ini.

“Kalau rumah sakit Datu Pancaitana sebenarnya tidak diturunkan, karena memang sekarang sudah tipe D. Memang dulunya tipe C. Karena rumah sakit pancaitana memang Kadis sendiri yang menentukan tipenya, bukan dari tim penilai, beda dengan RSUD Tenriawaru, ditentukan oleh tim
penilai.

Makanya waktu kekurangan dokter saya turunkan menjadi tipe D,” ujarnya.

Berbeda dengan RSUD Tenriawaru kata dr Khasma. Penurunan kelasnya, diduga adanya unsur kalalaian dari pihak pengelola rumah sakit dalam proses pengimputan data. Dimana salah satu
konsultan RSUD Tenriawaru tidak terinput dalam sistem, sehingga dianggap tak memenuhi syarat, meski RSUD Tenriawaru Bone telah mengantongi status akreditasi tingkat
paripurna.

“Di RSUD Tenriawaru Bone itu ada dua konsultannya yakni dr Hasim Kasim ahli ginjal, dan dr Muskamal ahli kebidanan. Ternyata dr Muskamal tidak terinput dalam sistem, sehingga
hanya satu konsultan yang terbaca, makanya tipe RSUD
Tenriawaru Bone yang dulunya B kini turun menjadi C,” terang kakak kandung Bupati Bone, HA Fahsar M Padjalangi itu. Namun apa yang menimpa RSUD Tenriawaru Bone kata Khasma
Padjalangi masih bisa dilakukan klarifikasi. Karena pada faktanya apa yang menjadi syarat BPJS telah dipenuhi hanya saja tidak terbaca dalam sistem.

“Makanya rumah sakit yang mengalami penurunan tipe ini, diberikan kesempatan melakukan klarifikasi sampai 28 hari mendatang,” ujarnya.

Proses klarifikasi terkait tenaga konsultan RSUD telah berjalan. “Saya sudah koordinasi dengan Direktur RSUD Tenriawaru Bone, dan pengelola sudah melakukan penginputan dalam aplikasi
secara online, sisa ditindaklanjuti saja ke pusat,” tandasnya.

Ia menegaskan, regulasi yang dikeluarkan BPJS Kesehatan ini, merupakan upaya menekan defisit dalam pembayaran klaim rumah sakit. Karena besarnya klaim yang ingin dibayar ke rumah
sakit, makanya langkah yang dilakukan dengan cara mencari celah agar tipe rumah sakit mengalami penurunan.

“Kalau tipe rumah sakit turun, klaim jasa yang ingin dibayar BPJS Kesehatan juga mengalami penurunan. Jika ini terjadi tentu akan berdampak pada pelayanan rumah sakit ke masyarakat. Karena klaim jasa yang diberikan tidak lagi seperti tipenya saat sekarang
ini,” ujarnya.

Bahkan Hj Khasma mencontohnya, dengan tipe B yang disandang RSUD Tenriawaru Bone untuk kamar kelas 1 saja klaimnya lebih besar dari pada RSUD Datu Pancaitana yang
masih bertipe D.

“Di RSUD Tenriawaru Bone ini, kelas 1, satu malam klaim jasanya bisa mencapai Rp750 ribu,” bebernya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top