Sabarki, Kurang Anggarannya Pemerintah – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Sabarki, Kurang Anggarannya Pemerintah

Siswa dari beberapa desa, seperti Tocina, Pakkasalo dan Kampoti berdesak-desakan menumpang di atas perahu yang dijadikan angkutan sekolah. Aktivitas terbilang menantang maut ini berlangsung setiap hari, karena tidak adanya jembatan yang menghubungkan perbatasan Desa Lebongnge Kecamatan Cenrana dan Desa Kampoti Kecamatan Dua Boccoe.

Pembangunan Jembatan di Lebongnge Butuh Anggaran Rp150 M

WATAMPONE, RB–Pemerintah Kabupaten Bone melalui Dinas PU dan SDA menyatakan jembatan yang didambakan warga di perbatasan Desa Lebongnge Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, Provinsi Sulsel, telah menjadi agenda untuk diwujudkan. Hanya saja, sejauh ini, pemerintah daerah masih terkendala anggaran. Pasalnya, biaya yang diperlukan untuk membangun jembatan sepanjang 120 meter tersebut berkisar Rp150 miliar. Ini belum termasuk dengan biaya pembebasan lahan di dua titik ujung jembatan yang merupakan kawasan permukiman penduduk.

Hal ini diakui Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PU dan SDA Bone, Jibang saat dikonfirmasi RADAR BONE, Rabu 13 April kemarin. “Ini membutuhkan waktu yang lama, karena anggarannya diperkirakan kurang lebih Rp150 miliar. Selain itu, juga dibutuhkan biaya besar untuk pembebasan lahan. Karena banyak perumahan di pinggir sungai tersebut,” ungkapnya.
Namun demikian, Jibang mengakui, bahwa pihaknya telah mengusulkan pembangunan jembatan tersebut kepada Pemprov Sulsel. Pihak pemprov sendiri, lanjut Jibang sudah melakukan survei di lokasi beberapa waktu. “Sudah kita usulkan ke provinsi. Dan provinsi sudah turun meninjau lokasinya,” bebernya.
Jibang menambahkan, yang menjadi pertimbangan dalam membangun jembatan adalah apakah biaya yang dihabiskan sebanding dengan pengguna manfaat dari jembatan tersebut.
Diberitakan sebelumnya siswa dari empat desa yang berada di sekitar Sungai Walannae, yakni Desa Tocina, Kampoti, Pakkasalo Kecamatan Dua Boccoe dan Desa Lebongnge, setiap hari menggunakan perahu sederhana sebagai angkutan sekolah. Aktivitas menantang maut ini sudah berlangsung puluhan tahun, karena tidak adanya jembatan yang menjadi akses bagi mereka untuk mencapai sekolah. Bukan hanya anak sekolah, namun aktivitas warga juga bergantung dari angkutan perahu tersebut.

baharuddin/usmansommeng

To Top