Setengah Abad Melaut, Satu Kapal pun tak Dimiliki – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Setengah Abad Melaut, Satu Kapal pun tak Dimiliki

Ruki yang mengabdikan setengah abad hidupnya sebagai nelayan tetap tersenyum lebar, meski penghasilannya hanya cukup untuk makan. Nelayan ini kecil patut bantuan modal dari pemerintah untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Ruti, Potret Buram Nelayan Miskin di Bone

Ruti merupakan potret buram getirnya kehidupan sebagian besar nelayan di daerah ini. Sudah setengah abad dia habiskan hidupnya di laut. Namun, nasib mujur belum berpihak kepadanya.

Usman Sommeng, Watampone

Tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan seorang nelayan kecil seperti Ruti. Dia usianya yang sudah senja, pria 65 tahun ini masih tetap ikut di kapal nelayan lain. Singkatnya, ia cuma seorang buruh nelayan, karena tak memiliki kapal.

Penghasilan yang ia peroleh, dari bagi hasil tangkapan dengan pemilik kapal.
Setiap hari Ruti keluar melaut, melabuhkan pukat dan mendapat tangkapan. Tapi hidup kadang kala tak semudah dan seindah yang dibayangkan. Sebagian mungkin menganggap nelayan adalah pekerjaan yang mudah. Namun kenyataannya tidak demikian. Nelayan seperti Ruti harus melewati ombak yang besar dan menahan angin yang kencang. Bahkan, harus rela mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan ikan.

BACA JUGA  Tanah Bangkalae, Gabungan Tanah Tiga Kerajaan Besar

Sudah 50 tahun Ruti menjalani kehidupan keras seperti itu. Pria ini diperkenalkan mencari ikan oleh ayahnya sejak masih duduk di bangku kelas IV SD. Ruti terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi membantu orangtua kala itu.

“Nelayan itu sudah mendarah daging di tubuh saya,” tutur Ruki saat ditemui RADAR BONE, beberapa waktu lalu.
Upaya Ruki untuk menghidupi kakak perempuan yang tinggal bersamanya makin sulit setelah dirinya mengalami kecelakaan di laut. Bekas jatuh di kapal ternyata menimbulkan luka abadi. Ruki tak lagi bisa berjalan sempurna layaknya orang pada umumnya. Namun hal itu tidak menjadi masalah baginya.

Sejauh ini ia masih bekerja sebagai seorang nelayan, dan diakuinya profesi nelayan sudah mendarah daging di dalam dirinya. “Inilah tumpuan hidup saya,” ungkapnya.

Dengan berbekal alat pancing seadanya, dia bisa menangkap ikan untuk dijual. Saat semua orang terlelap tidur dalam dekapan dinginnya malam, Ruti dan kakaknya sudah harus bangun. Kakaknya sibuk menyiapkan bekal, sementara Ruti sibuk menyiapkan perlengkapan untuk melaut di pagi hari.

BACA JUGA  Ini Kasus Besar Yang Pernah Dan Sementara Ditangani Novel

Sebelumnya Ruti tinggal bertiga dengan ayahnya di rumah yang cukup sederhana di pinggir laut. Rumah mungil itu cuma memiliki dua kamar. Di rumah inilah Ruti tinggal bersama sang kakak, Ira. Kini mereka tinggal berdua setelah ayahnya meninggal dunia.

Sehari-hari, Ruti pergi melaut, sementara Ira menunggu kedatangan sang adik membawa hasil tangkapannya.
“Saya hanya tinggal berdua dengan kakak saya di rumah ini, apabila saya ke laut, saya harus meninggalkan kakak saya sendiri di rumah demi mendapatkan ikan yang banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya” bebernya.

Belum lagi persoalan yang dihadapi para nelayan, ketika cuaca yang tidak bersahabat.
Sebagai nelayan tradisional yang hanya menggunakan perahu atau sampan untuk menangkap ikan. Ruki memang harus bekerja keras.

“Dalam sebulan, saya hanya mendapatkan penghasilan sebanyak Rp300 ribu. Kalau sedang bagus, saya bisa membagi hasil tangkapan menjadi Rp500 ribu. Namun ketika cuaca buruk, saya memutuskan untuk tidak keluar ke laut. karena takut dengan ombak yang tinggi,” tambahnya.

BACA JUGA  Foto Pelajar Diduga Siswa SMAN 2 Cenrana, Terjatuh di Jalan Berlumpur Poros Labotto Jadi Viral

Laut nan luas ibarat surga bagi setiap nelayan yang hidup di pesisir pantai, namun kenyataannya tak,seperti yang dialami Ruki. Sebagian nelayan di daerah ini masih hidup di bawah garis kemiskinan dan membutuhkan dukungan dari pemerintah. (*)

Click to comment
To Top