Simak Penjelasan Bupati Bone Soal Lahan TTP Wollangi – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Simak Penjelasan Bupati Bone Soal Lahan TTP Wollangi

Lokasi Taman Teknologi Pertanian Wollangi di Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo bak hamparan lapangan karena tidak adanya tanaman yang menonjol maupun aktivitas lainnya. Beberapa fasilitas yang tersedia seperti kandang dalam keadaan kosong alias tidak difungsikan. Gambar direkam, Rabu, 26 April kemarin.

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pemerintah Kabupaten Bone tidak terlibat dalam pembebasan atau penyediaan lahan untuk pembangunan proyek Taman Teknologi Pertanian (TTP) Wollangi, Desa Wollangi, Kecamatan Barebbo.

Bupati Bone, Dr HA Fahsar Mahdin Padjalangi MSi yang dikonfirmasi RADAR BONE di kantor bupati, Rabu, 26 April kemarin mengakui dirinya pernah mengeluarkan surat keputusan (SK) tentang penunjukan wilayah proyek taman teknologi pertanian (TTP). Namun surat keputusan dimaksud, hanya untuk penunjukan wilayah, bukan titik lokasi.

Fahsar menegaskan pembebasan atau pengadaan lahan tidak ditangani pemkab.
“Memang ada surat keputusan yang kami terbitkan tentang penunjukan lokasi. Hanya saja kami cuma mencantumkan desa, bukan titik lokasi proyek,” jelas Fahsar.

Bupati Bone, Dr. HA.Fahsar M Padjalangi MSi

Ditambahkan Fahsar terkait pengadaan lahan, pihaknya tidak memiliki kewenangan.“Itu bukan kewenangan kami karena anggarannya kan dari pusat dan ditangani provinsi,” katanya sambil tersenyum.

Surat keputusan yang dimaksud Fahsar adalah Keputusan Bupati Bone Nomor 292 Tahun 2015 tentang Penunjukan Lokasi Taman Teknologi Pertanian Kabupaten Bone Tahun 2015. Dalam surat ini disebutkan, memutuskan menunjuk lokasi TTP Kabupaten Bone 2015 di Desa Kajao Lalliddong dan Desa Wollangi Kecamatan Barebbo. Dan segala biaya yang timbul sehubungan pelaksanaan keputusan ini bersumber dari APBN Kementerian Pertanian RI pada Bidang Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Keputusan ini ditetapkan di Watampone tertanggal 4 Mei 2015.

Sementara itu, pihak DPRD Bone mengaku tidak mengetahui adanya proyek dari Kementerian Pertanian di Wollangi. Ketua Komisi II DPRD Bone, A Muh Idris Alang SH MH menegaskan tidak tahu ada anggaran pertanian dalam bentuk proyek Taman Teknologi Pertanian di Wollangi. “Kami tidak tahu ada anggaran pertanian di sana. Makanya kami dari Komisi II tidak pernah meninjau lokasi tersebut,” ujarnya singkat.

A.Muh.Idris Alang SH MH

Pemerintah Desa Padangloang yang ternyata membawahi sebagian lokasi TTP Wollangi menyatakan tidak tahu-menahu siapa lagi pemilik lahan yang ditempati proyek TTP Wollangi.

Kades Padangloang, Muhammad Amin yang ditemui di kantornya, Rabu 26 April kemarin, mengungkapkan lahan TTP seluas 19 hektar lebih itu diketahuinya milik seorang pengusaha.

“Tahun lalu, pajak bumi dan bangunan lahan itu masih dibayar pengusaha pak H Darwis,” terangnya.
Namun diakui Amin, H Darwis pernah bercerita kepadanya jika lahan yang ditempati TTP sudah dijual kepada seseorang.

“Menurut cerita H Darwis, lahannya itu sudah dijual kepada seorang polisi dengan harga Rp5 miliar tapi sampai sekarang baru dibayar Rp100 juta. Tapi kami juga tidak tahu kebenarannya karena tidak pernah kami lihat akta jual belinya,” ungkap Amin.

Malah kades ini berharap segera ada kejelasan mengenai kepemilikan lahan tersebut. “Sudah ada SPPT 2017 dan kami bingung siapa yang bayar nanti,” ujarnya. Mengenai pemanfaatan lahan di TTP tersebut, mantan pegawai rumah sakit ini menegaskan hanya sebagian kecil saja yang digunakan. “Paling hanya dipakai tanam bawang saja, kolamnya pun tidak ada ikannya. Sebagian besar lahannya tidak digunakan sehingga banyak warga yang membawa sapinya masuk merumput di dalam situ (Lokasi TTP),” katanya.

Muhammad Amin

Salah seorang petani Desa Wollangi Kecamatan Barebbo yang rumahnya tidak jauh dari lokasi TTP juga membenarkan, bahwa lahan TTP diketahui masyarakat setempat sebagai lahan pribadi.

“Yang saya dengar dan sudah menjadi pembicaraan warga di sini kalau lahan TTP memang milik seorang polisi. Meski saya juga tahu orangnya,” kata petani tersebut.

Sementara itu Kepala Badan Litbang Kementerian Pertanian RI, Dr Ir Muhammad Syakir melalui rilis yang dikirim ke RADAR BONE, menegaskan dasar dari pelaksanaan TTP Bone, adalah nota kesepahaman antara Balitbangtan Kementan RI dengan Pemerintah Kabupaten Bone, tentang pembangunan dan pengembangan TTP Wollangi Kabupaten Bone yang ditandatangani pada 2015 lalu.

“Selanjutnya dibangun infrastruktur pendukung pada lokasi TTP yang telah direkomendasikan oleh Bupati Kabupaten Bone yang berlokasi di Kecamatan Barebbo Desa Wollangi. Infrastruktur yang telah dibangun berupa workshop, kandang sapi, kolam, gapura, screen house dan kandang itik,” ujarnya.

Sarana pendukung tersebut lanjut dia, dimanfaatkan secara maksimal mulai tahun 2016 beserta kegiatan-kegiatan display inovasi teknologi.  Muhammad Syakir mengklaim, kegiatan-kegiatan dalam TTP tersebut banyak dikunjungi oleh para pejabat di tingkat Kabupaten Bone dan di tingkat provinsi. Bahkan oleh Menteri Pertanian telah melakukan panen raya di TTP tersebut.

“Jadi penilaian, bahwa TTP Bone mangkrak sebenarnya tidak demikian, karena aktifitas di TTP tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan,” ujarnya. “Secara umum kegiatan TTP Bone tahun 2017 merupakan rangkaian kegiatan tahun sebelumnya. Tahun 2017 kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pendampingan teknologi berupa pelatihan-pelatihan dan display inovasi teknologi,” tambahnya.

Muhammad Syakir mengakui, kegiatan display inovasi teknologi di awal tahun 2017 (Januari, Februari bahkan sampai Maret 2017) agak terlambat dilaksanakan, karena secara umum Kabupaten Bone masih dalam kondisi musim kering termasuk di lokasi TTP.

“Sehingga aktivitas pertanaman belum dapat dilakukan secara maksimal. Pada kondisi tersebut memang kelihatan tidak ada aktivitas secara fisik. Namun tahap awal dari kegiatan telah dilakukan antara lain pertemuan sosialisasi dan pelatihan terhadap kelompok-kelompok tani di wilayah TTP tersebut,” pungkasnya.

Lebih jauh dia menyebutkan, rencana pelaksanaan kegiatan, utamanya kegiatan display inovasi teknologi, akan dilaksanakan pada pekan ke IV, April sampai Minggu pertama Mei 2017.

“Tindak lanjut dari pertemuan tahap awal tersebut akan dilakukan implementasi kegiatan antara lain, pembuatan display/demplot tanaman pangan dan horikultura/sayuran, teknologi pembuatan pupuk organik ramah lingkungan, teknologi budidaya bebek dan pelatihan-pelatihan pengolahan dan penanganan hasil-hasil pertanian,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut lanjut dia, didesign atau dilaksanakan sebagaimana tujuan dan fungsi dari TTP, yaitu sebagai wahana implementasi inovasi aplikatif spesifik lokasi yang matang dari hulu ke hilir dengan melibatkan stakeholder terkait.
“TTP ini juga merupakan wahana bagi percepatan dalam pembangunan pertanian di daerah ini,” jelasnya.
Muhammad Syakir juga mengklaim, TTP ini juga sudah diperiksa BPK dan memang ada TGR sebesar Rp63 juta dan ini sudah disetor ke kas negara.

“Sedangkan pengadaan tanah, penetapan lokasi merupakan kebijakan bupati dan didasari dengan SK,” jelasnya.
Namun fakta di lapangan, ditemukan tidak adanya aktivitas di TTP saat RADAR BONE menyambangi lokasi TTP Wollangi, Rabu 26 April kemarin.

Di aula pertemuan hanya teronggok bibit jagung dalam karung khusus. Beberapa unit mesin seperti mesin pengolah cokelat, mesin minyak kelapa, mesin penetas telur, dalam kondisi ditutup terpal dan diduga tak pernah difungsikan.

“Tidak pernah dioperasikan itu mesin-mesin di sana. Karena warga lebih suka jual kelapanya secara butiran. Kalau kakao, tidak banyak ditanam warga. Lagian daya listriknya juga tidak cukup karena masih pengadaan pemilik lahan sebelumnya H Darwis,” kata Muhammad Amin, Kades Padangloang.

Begitu pula dengan kandang itik, dan juga kolam, harus melewati semak belukar untuk menjangkaunya dan tak difungsikan. Sementara lahan 19 hektar yang ada, hanya dua bedengan sedang ditanami cabai dan di sela-sela rumput tinggi terdapat tanaman pepaya

Selain itu kandang itik tidak pernah difungsikan. Itu terlihat jelas, tidak adanya bekas peternakan itik di lokasi tersebut. Ditambah, kandang sapi, dari 10 sekat yang dibangun hanya dua yang terisi.
Sejauh ini, hanya saung yang biasa dimanfaatkan kelompok tani untuk pertemuan.\

*

Click to comment
To Top