Sisi Lain Ritual Mattompang Arajang – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Sisi Lain Ritual Mattompang Arajang

Air Suci Didatangkan dari Tiga Sumur Tua

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Mattompang Arajang yang rutin dilakukan saat peringatan Hari Jadi Bone rupanya tak sah, jika tak mendatangkan air dari tiga sumur tua. Sumur ini dianggap sakral dan memiliki ikatan dengan raja-raja di Bone pada masa lampau

SUDRI, Watampone

Prosesi pengambilan air suci (Penyuci benda pusaka) dilaksanakan beberapa hari sebelum kegiatan Massossoro Arajang (Mattompang) dihelat.  Air pembersih benda pusaka diambil dari beberapa tempat, diantaranyaBubung Parani dan Bubung Bissu. Keduanya di wilayah Kecamatan Barebbo. Dan sumur ketiga adalah Bubung Laccokkong yang berada di Kelurahan Watampone Kecamatan Tanete Riattang. Air atau Toja ini dimaksudkan untuk membersihkan benda pusaka atau Arajang.

“Air tiga sumur ini memang ada kaitannya dengan raja raja Bone, Makanya menjadi syarat dalam acara Mattompang,” terang H Andi Muh Yushan Tenritappu, Budayawan kenamaan Bone.
Lebih jauh Yushan menceritakan ikatan sejarah ketiga sumur tua tersebut dengan raja-raja Bone. Bubung Laccokkong misalnya, sumur ini memiliki sejarah dengan raja Bone Karaeng Pilua. Konon, pada saat perjalanan ia pingsan. Namun setelah diberi air yang berasal dari Bubung Laccokkong, sang raja pun siuman, sehingga sumur ini diberi nama Bubung Laccokkong.

“Ketika raja Bone Karaeng Pilua, dibawa dari Palakka ke Bone (kota), saat itu ia pingsan di sinilah di ambilkan air sehingga bisa pulih dari pingsannya itu dengan itulah dinamakan Sumur Laccokkong,” cerita Yushan.

Sumur parani pun punya cerita tersendiri. Sumur ini menjadi tempat permandian para kesatria kerajaan pada saat hendak menuju perang. “Ketika dimasa lampau itu keadaan kerajaan akan genting atau mau perang maka semua laskar dimandikan di sumur itu, sehingga disebutlah Sumur Parani,” tambahnya.

Lain lagi dengan kisah sumur yang terdapat di Lemoape. Sumur ini adalah bekas tempat salah satu Arung Palili yang ikut berjuang bersama dengan raja Bone pada saat tahun 1905.
“Kalau Sumur Lemoape itu sumur yang pernah ditempati salah seorang Arung Palili yang pernah ikut berperang bersama Kerajaan Bone saat perang tahun 1905 atau lebih dikenal dengan sebutan Pumpa’na Bone, dan itulah yang membawa kemenangan bagi Bone,” urai Yushan.

Adapun orang yang bertugas melakukan pembersihan benda kerajaan atau Pattompang ternyata tak sembarang orang. Ia harus punya garis keturunan dengan Petta Panre Bessi yang pusatnya di Awangpone. “Kalau Pattompangnya itu tak sembarangan harus keturunan Petta Panre Bessi, namun karena pusatnya pandai besi itu di Paccing, maka yang keturunannya itu dididik untuk terus menggeluti ini,” kunci Yushan.

(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top