Sistem Keselamatan Penumpang Dipertanyakan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Sistem Keselamatan Penumpang Dipertanyakan

im Basarnas saat menyisir pesisir Teluk Bone untuk melakukan pencarian korban penumpang jatuh dari KMP Mishima, Senin 1 Agustus lalu sekira tiga jam setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Bajoe. Sejauh ini, korban Hamsir (38) asal Bulukumba belum ditemukan

SETAHUN, TIGA KASUS WARGA JATUH KE LAUT

PENULIS : ASKAR SYAM-BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB—Penumpang jatuh dari atas kapal yang berlayar kembali terulang. Belum setahun, tercatat sudah tiga kasus warga jatuh dari kapal. Sejumlah kalangan pun mempertanyakan sistem kese-lamatan penumpang transportasi laut yang beroperasi di jalur penyeberangan Bajoe-Kolaka.

Berdasarkan data yang dihimpun RADAR BONE, belum setahun sudah dua penumpang kapal tercebur ke laut. Pada tanggal 29 Februari lalu, seorang pemuda asal Kolaka, Sulawesi Tenggara, Muh Alfian Karamullah jatuh saat menumpangi kapal Raja Laut.
Beruntung dia berhasil diselamatkan oleh nelayan setelah terombang ambing di laut selama 48 jam. Warga asal Watallara Kabupaten Kolaka itu ditemukan dalam kondisi lemas oleh nelayan bernama Ummang pada Rabu, 2 Maret lalu sekira pukul 16.00 Wita.

Sebelumnya, seorang Anak Buah Kapal (ABK) bernama Sanusi ditemukan tewas tenggelam di Pelabuhan Bajoe, Minggu 7 Februari lalu. Jasad korban baru ditemukan Senin malam 8 Februari 2016. Dan peristiwa yang terbaru menimpa Hamsir bin Ramalang (38), seorang penumpang asal Bulukumba. Pria yang menumpangi KMP Mishima ini terjatuh ke laut saat dalam perjalanan ke Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sejauh ini jasad korban belum ditemukan.

Anggota Komisi I DPRD Bone, HA Suaedi mempertanyakan sistem keselamatan penum-pang transportasi laut, khususnya yang boperasi di jalur pelabuhan Bajoe-Kolaka.
Menurut perlu ada perbaikan sistem keselamatan penumpang kepada perusahaan kapal. Di samping pembinaan teknis kepada calon penumpang kapal juga di-tingkatkan.
“Terakhir yang saya baca di media, penumpang yang jatuh ke laut katanya baru habis dari toilet. Kalau itu benar, saya meminta pihak berwenang melakukan penyelidikan. Kapal yang tidak memenuhi standar keselamatan penumpang, jangan diberikan lagi izin untuk berlayar,” tegasnya. Dengan memperketat pengamanan sistem keselamatan penumpang, diharapkan kejadian serupa tidak berulang lagi. “Ini mesti mendapat perhatian dari pihak yang berwenang karena sudah berulang terjadi,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Akademisi Yusdar. Dia menilai, setiap kapal mempunyai suatu sistem manajemen keselamatan dalam rangka menciptakan suatu lingkungan kerja yang berwawasan keselamatan dalam mengoperasikan dan menjalankan pelayaran. Keselamatan pelayaran lanjut dia, tidak hanya dilihat dari kondisi kapalnya, sebab banyak faktor lain yang memengaruhi. Salah satu faktor penting, yakni penerapan sistem perawatan terencana atau planned maintenance system (PMS) yang dapat dilakukan oleh operator atau pun galangan.

“Sistem manajemen keselamatan harus memastikan keta-atan pada aturan dan peraturan wajib, dan bahwa penerapan ketentuan, garis panduan dan rekomendasi standar dari organisasi, administrasi, lembaga klasifikasi, dan organisasi industri maritim dilakukan sebagai bahan pertimbangan,” jelasnya.

Yang dimaksud dengan kese-lamatan kapal, lanjut dia, adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan material konstruksi, bangunan, permesinan dan pelistrikan, stabilitas, tata susunan serta perlengkapan termasuk radio dan elektronika kapal yang dibuktikan dengan sertifikat setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian yang pelaksanaan penilikannya dilakukan secara terus menerus sejak kapal dirancang bangun, dibangun, beroperasi sampai dengan kapal tidak digunakan lagi oleh Pejabat Pemeriksa Keselamatan Kapal.

Setiap perusahaan lanjut dia, perlu mengembangkan, menerapkan dan mempertahankan sistem manajemen keselamatan yang meliputi persyaratan fungsional. Diantaranya, kebijakan keselamatan dan perlindungan lingkungan, petunjuk dan prosedur untuk memastikan keselamatan operasi kapal. “Prosedur pelaporan kecelakaan juga perlu menjadi perhatian khusus. Prosedur untuk siap dan tanggap dalam keadaan darurat,” bebernya.

Sementara itu, Manajer Usaha PT ASDP Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Fuad Bahruddin menegaskan sesuai dengan SOP, nakhoda harus menginformasikan kepada penumpang agar menjaga keselamatan di jalan. “Harusnya nakhoda mengawasi penumpang meskipun safety-nya sudah di-siapkan, tetap juga menjaga de-ngan baik. Begitu juga pada saat kejadian, kapal harus berputar sampai dengan empat kali untuk mencari korban itu, kalau memang tidak ditemukan korbannya baru bisa meninggalkan tempat kejadian,” katanya.

Kepala PT ASDP Pelabuhan Penyeberangan Bajoe, Imran Kuru menambahkan, kasus penumpang jatuh ke laut menjadi tanggungajawab pemilik perusahaan kapal. Dimana sebelum kapal berangkat, kata dia seharusnya diumumkan agar tidak ada penumpang yang berada di pinggir kapal. “Tapi ini tentu ditelusuri dulu, apakah korban itu tidak sengaja atau sengaja lompat. Karena belum diketahui penyebabnya, jangan sampai korban sendiri sengaja lompat atau bagaimana. Apalagi korban itu bersama juga dengan keluarganya,” ungkapnya.

Sistem keselamatan penum-pang transportasi laut di daerah ini dinilai lemah, khususnya saat kapal berlayar, penumpang dengan bebas berkeliaran di atas kapal, tanpa pengawasan dari ABK atau pihak kapal. “Saya pernah menyeberang pakai Fery ke Kolaka. Penumpang bebas pergi ke pinggir kapal. Padahal kapal sudah di tengah laut. Semestinya ada yang jam khusus bagi penumpang untuk bisa meninggalkan tempat dan diawasi petugas kapal. Tapi kelihatannya seperti itu tidak ada,” tutur Eny, seorang warga Manurunge.
Sejauh ini, korban Hamsir belum ditemukan. Pencarian masih terus dilakukan, bahkan melibatkan tim SAR.

*ASKAR SYAM

To Top