Songkok Recca Lebih Bergairah di Daerah Lain – Radar Bone

Radar Bone

Uncategorized

Songkok Recca Lebih Bergairah di Daerah Lain

PENULIS : ASKAR SYAM-ARDI BIN WARIS

WATAMPONE, RB–Songkok Recca sudah dikenal luas. Tak hanya warga Bumi Arung Palakka yang menggunakannya, tapi hingga ke pelosok nusantara. Tak heran jika permintaan songkok khas Bone ini mengalir keluar daerah.

Salah seorang pedagang Songko Recca, Silvia mengatakan bisnis Songko Recca saat ini semakin menjanjikan, bahkan permintaan terus meningkat. “Saat ini, permintaan terhadap Songko Recca semakin tinggi. Dalam sebulan saja, permintaan bahkan mencapai ratusan biji,” kata Silvia, pemilik usaha bisnis Songkok Recca di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone. Desa Paccing adalah sentra pembuatan Songkok Recca yang berlangsung secara turun temurun sejak lama.

Silvia membeberkan dalam sebulan permintaan pengiriman Songkok Recca keluar daerah terus naik. Setidaknya ada dua daerah yang menjadi pasar paling menjanjikan dalam bisnis tutup kepala yang juga dikenal dengan nama Songkok To Bone dan Songkok Pamiring tersebut. “Biasanya, permintaan dari Kalimantan 800 buah dan Makassar 1.200 buah perbulan,” urai Silvia.

Wanita yang merupakan anggota kelompok usaha Songko Recca di Bone ini, mengakui dirinya hanya terjun sebagai penjual bukan pengrajin. Pengrajin Songko Recca, kata dia digeluti umumnya warga di desanya. “Pengrajin Songko Recca itu adalah warga di desa ini. Mereka hanya fokus membuat Songko Recca. Tidak menjual langsung ke masyarakat,” terangnya.

Jika Songko Recca sudah selesai dibuat, para pengrajin selanjutnya membawa produknya untuk dijual di gerai milik Silvia.”Istilahnya saya tinggal membeli dari mereka,” jelas Silvia.
Disebutkan Silvia yang terjun sebagai pengrajin rata-rata merupakan kaum wanita dan anak-anak yang ada di desanya.

Soal produksi, lanjut Silvia tidak menentu tergantung dari kemampuan dari para pengrajin. “Tergantung kemampuan mereka, berapa yang bisa dibuat setiap harinya. Biasanya itu, seminggu saya terima hasil produksi pengrajin mencapai 100 buah,” ungkap Silvia.

Menurut Silvia, saat ini, Songko Recca sudah menjadi ladang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat setempat. Hanya saja, sejauh ini masih dikelola sebagai usaha sampingan.
“Pengrajin Songko Recca kini tidak hanya dilakukan segelintir orang, namun kini ditekuni hampir setiap warga desa,” kata Silvia.

Di tengah menggeliatnya, bisnis Songkok Recca, Silvia berharap dukungan pemerintah daerah. Terutama dukungan permodalan kepada pengrajin dan pelaku usaha Songkok Recca.
Diakui Silvia, selama ini pengrajin menggunakan seadanya untuk tetap melanjutkan usaha yang telah ditekuni secara turun temurun. Bahkan tak jarang ada yang pinjam dari bank.

“Memang pemerintah sering janji pengrajin kasi modal tapi belum ada yang direalisasikan,” tegas Silvia.
Ketua Dewan Adat Kabupaten Bone, Andi Baso Hamid mendorong pemerintah untuk menumbukan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang produksi dan bisnis Songkok Recca. Pasalnya, selain bisa melestarikan kekayaan daerah juga sekaligus membuka peluang kerja yang menjanjikan. Apalagi, Songkok To Bone, kata Baso Hamid semakin diminati warga di luar daerah.

“Kami dari Dewan Adat tentu mendorong pemda untuk menggairahkan pengrajin dan UMKM yang memproduksi Songkok Recca. Tentu ini sangat baik untuk pelestarian kekayaan daerah kita. Selain bisa mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” kata Baso Hamid.

Diakui Baso Hamid permintaan lokal memang masih lesu. Namun, Songkok Recca, kata dia sudah menjadi buah tangan khas bagi warga Bone saat hendak mengunjungi keluarga atau relasi di luar daerah. “Kalau di sini (Bone) kan belum terlalu banyak yang gunakan, tapi kalau kita keluar daerah, Songkok Recca selalu jadi oleh-oleh, karena memang diminati di luar,” paparnya.

Karenanya, kata dia kecintaan untuk menggunakan Songkok Recca harus terus digemakan, sehingga orang Bone yang bermukim di Bumi Arung Palakka senantiasa menggunakan Songkok Recca sebagai sebuah kebanggaan. “Ini memang perlu terus disosialisasikan,” harapnya.

Menurut Mantan Kepala Badan Pengelola Perkotaan ini, Bone sebagai pemilik Songkok Recca atau Songkok To Bone tidak boleh kalah dengan daerah lain di Sulsel yang justru bergairah dalam mendukung bisnis Songkok khas Bugis ini. Salah satu daerah yang kini dikenal banyak pelaku bisnis Songkok Pamiring-nya adalah Takalar. Penjual Songkok Recca di daerah itu tak sulit dijumpai.

Demikian pula di Makassar, hampir setiap toko penjual souvenir di Makassar. Harga yang dipatok pun bervariasi. Harga tergantung kualitas dan jenisnya. Songkok yang berhias emas (Pamiring Ulaweng), seperti yang digunakan banyak pejabat, harganya mencapai belasan hingga puluhan juta, tergantung kadar emasnya.

Seiring perkembangan zaman. Penggunaan Songkok Recca tak lagi berpatok pada aturan-aturan di zaman kerajaan dahulu. Kini, hampir semua lapisan masyarakat bisa menggunakannya, bahkan dijadikan souvenir untuk tamu dari luar. Songkok Pamiring yang berhias emas bukan lagi cuma milik para raja atau kaum bangsawan.

Songkok satu ini bisa digunakan dalam berbagai formal maupun non formal. Pada setiap acara-acara adat maupun seremonial yang diadakan di Sulawesi Selatan, Songkok Recca yang dipadukan dengan jas tutup ini kerap dijumpai pada acara pesta pernikahan hingga perayaan Hari Jadi Bone. Tak hanya itu, Songkok Recca pun bisa digunakan sehari-hari maupun penutup kepala ketika sholat. Tak heran jika songkok ini menjadi salah satu souvenir favorit ketika berkunjung ke Bone pada khususnya dan Makassar.

Menurut sejarah, Songkok Recca digunakan orang-orang Bone ketika terjadi peperangan dengan Tator tahun 1683. Penggunaan songkok ini sebagai tanda yang membedakan pasukan Bone dengan pasukan Tator.
Kala itu, penggunaan Songkok Bone juga memiliki aturan. Hal ini berkaitan dengan strata sosial di masyarakat. Hanya raja, pembesar dan keluarga bangsawan yang boleh menggunakan songkok berbalut emas. Penggunaan emas pun memiliki aturan yaitu tidak boleh melebihi kadar emas songkok yang digunakan oleh raja.

Songkok yang menjadi identitas Bugis Bone ini memiliki tiga nama sebutan yang berbeda yakni, Songkok Recca, Songkok Pamiring Ulaweng dan Songkok To Bone.
Sebutan Songkok Recca lebih menunjuk kepada proses pembuatan maupun bahan baku yang digunakan untuk membuat songkok tersebut. Dimana bahan yang digunakan terbuat dari pelepah daun lontar yang ditumbuk dan dalam istilah bugis direcca atau ure’cha.

Kemudian sebutan Songkok Pamiring lebih menunjuk ujung atau sisi bagian bawah songkok yang berhias warna keemasan. Biasanya jika bagian bawah berhias benang emas, sebutannya Songkok Pamiring, tetapi bila menggunakan emas sungguhan, disebut Songkok Pamiring Ulaweng (Songkok berpinggir emas).

Sebutan Songkok To Bone merupakan nama yang banyak diucapkan orang-orang luar Bone, Sulawesi Selatan, agaknya terkait dengan sejarah pembuat atau pun pemakai songkok itu, yaitu orang-orang Bone.
Namun dari segi bentuk umumnya sama, yakni bulat dengan bagian atas rata dan berlubang kecil di bagian tengah atas. Umumnya berwarna hitam, coklat, atau krem di bagian atas dipadu warna keemasan di bagian tengah ke bawah

To Top