SPBU di Bone Diduga Bermain?. Konsumen Keluhkan Harga Pertalite Bervariasi, Premium Cepat Habis – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

SPBU di Bone Diduga Bermain?. Konsumen Keluhkan Harga Pertalite Bervariasi, Premium Cepat Habis

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Harga bahan bakar minyak jenis pertalite berbeda di setiap SPBU. Kondisi ini dikeluhkan konsumen, pihak SPBU pun diduga bermain untuk mengeruk keuntungan. Salah seorang konsumen asal Desa Cinnong, Abd Wahid mengaku heran saat melihat harga yang tertera pada layar argo SPBU tertulis harga pertalite Rp7.850 per liter. Padahal ia hampir setiap hari mengisi BBM jenis pertalite dengan harga Rp7.800 per liter. Harga berbeda ia temukan saat mengisi BBM di SPBU Biru, Selasa, 6 Februari lalu. Wahid mengaku mengisi BBM hari itu saat petang.

“Saya biasa mengisi pertalite SPBU Ahmad Yani, SPBU Palakka dan SPBU Uloe, harganya hanya Rp7.800, tapi kok di SPBU Biru harganya lebih mahal Rp 7.850. Ini kan bisa merugikan konsumen,” terangnya.

Karena menilai harga yang dipasang pihak SPBU, Wahid pun sempat mengajukan protes kepada petugas pompa.
“Makanya tadi saya komplain karena kok harga beda dengan SPBU yang lain di Bone. Saya bilang kok bisa harganya beda dengan yang lain. Petugasnya menjawab, tidak tahu. Jadi bisa diduga ada permainan,” tutur Wahid kepada RADAR BONE, Selasa, 6 Februari lalu.

Pengawas SPBU Biru, Budi yang dikonfirmasi RADAR BONE, Kamis, 8 Februari kemarin membenarkan harga pertalite di SPBU-nya sebesar Rp7.850 per liter. Ia berdalih kerap terjadi perbedaan harga, karena pertalite dan pertamax berbeda dengan premium dan solar.

“Iya memang harganya sampai saat ini Rp7.850 per liter, itu karena kami juga belinya mahal. Jadi sebenarnya harga di setiap SPBU itu tidak sama semua, apalagi di Bone karena itu tergantung dari zonanya. Beda kalau premium dan solar itu harganya serentak,” jelas Budi.

Yang juga dikeluhkan konsumen di SPBU Biru adalah cepatnya premium habis. Pihak SPBU dinilai seolah-olah sengaja menggiring konsumen untuk membeli pertalite, dengan alasan premium sudah habis.

“Biasa kalau saya pulang kantor antara pukul 16.00-17.00 Wita, saya singgah ke SPBU Biru untuk beli premium, tapi katanya sudah habis.
Ini berlangsung kadang hampir setiap hari. Kalau tangki motor kosong, ya otomotis beli pertalite. Kita seakan-akan sengaja diarahkan beli pertalite, kayak semacam permainan SPBU,” ungkap Baha.

Lain lagi yang terjadi di SPBU Cabalu. Bagi pengendara motor hanya bisa mengisi BBM non premium. Tak jarang mereka diarahkan ke pompa pengisian pertalite. “Yang bisa mengisi premium hanya kendaraan roda empat. Kemudian soal harga tadi saya lihat terpampang di papan informasi Rp7.700 per liter,” beber Syam, salah seorang konsumen.
Yang menarik kendati di papan informasi tertulis harga pertalite tertulis Rp7.700 per liter, namun saat pengisian petugas SPBU mengenakan harga Rp7.800 per liter. Kondisi ini berpeluang mengecoh konsumen.

“Kami hanya menjual sesuai dengan standar harga yang telah ditetapkan, yakni Rp7.800,” jelas Ria, seorang petugas SPBU setempat saat ditemui RADAR BONE, kemarin.
Harga serupa ditemukan di SPBU Palakka. Petugas SPBU setempat, A Agustina mengatakan harga pertalite di tempatnya Rp7.800. “Harga BBM yang ada di SPBU ini tidak pernah dijual di atas harga tersebut,” paparnya.

Demikian pula pada SPBU Cellu dan SPBU Ahmad Yani, pertalite dijual dengan harga sama, yakni Rp7.800 per liter.
Harga pertalite Rp7.800 per liter merupakan harga baru yang kenaikannya terkesan secara diam-diam pada Januari lalu. Dalam kenaikan BBM tersebut hanya dua jenis yang mengalami kenaikan, yakni pertalite (Bensin RON 90) dan pertamax (Bensin RON 92). Untuk pertalite mengalami kenaikan sebesar Rp100 per liter dari harga lama Rp7.700 menjadi Rp7.800. Sedangkan pertamax naik Rp200 per liter dari harga Rp8.500 menjadi Rp8.700. Meskipun kenaikan harganya tidak terlalu signifikan, namun tetap memberatkan konsumen.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top