Staf Bidang PAUD ‘Tumbal’ Kasus Buku – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Staf Bidang PAUD ‘Tumbal’ Kasus Buku

Polisi Harus Buru Aktor Intelektual

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kasus pengadaan buku TK yang diduga menyeret sejumlah staf dan pejabat bidang PAUD dan Dikmas (PLS) Dinas Pendidikan Kabupaten Bone memasuki babak baru. Pihak ketiga pengadaan buku akhirnya angkat bicara menyikapi kasus tersebut.

Penyidik Satuan Reserse dan Kriminal Polres Bone harus transparan dalam memproses kasus dugaan korupsi pengadaan buku TK. Apalagi, saat ini belum ada yang ditetapkan tersangka dalam kasus itu.

Padahal, dugaan praktek curang pengadaan buku ini, masuk kasus terbesar di Sulsel yang ditangani Polres Bone.

Praktisi huku, Randi meminta penyidik untuk serius menangani kasus pengadaan buku TK.

“Jangan sampai penanganan kasus ini tumpul keatas tajam kebawah. Penegakan  hukum harus dilakukan seadil-adilnya dan tuntas,” ujarnya.

Praktisi sosial, Rahman Arif juga meminta pihak kepolisian untuk serius memburu aktor intelektual dari kasus ini. “Jangan sampai oknum yang menikmati aliran dana pengadaan buku Tk, justru tidak tersentuh,” tukasnya.

Sementara itu, penyidik Polres Bone, telah melakukan gelar perkara terkait kasus pengadaan buku TK di Mapolda Sulawesi Selatan. Hasil gelar perkara mengarah pada penetapan tersangka sebanyak tiga orang. Ketiga calon tersangka terdiri dari dua pegawai bertatus ASN di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Bone. Sedangkan satu orang lainnya dari pihak ketiga.
Disebut terlibat dalam kasus korupsi pengadaan buku, Masdar yang merupakan pihak ketiga/penyedia buku TK membeberkan sejumlah fakta. Kepada RADAR BONE, Masdar mengaku harga buku yang dijual ke bidang PAUD sebesar Rp8.500 perbuku. Buku tersebut kata Masdar, dia jual ke pegawai bidang PAUD, Ishan.

Jika ada yang menjual di atas harga tersebut kata Masdar, tentunya yang harus bertanggungjawab adalah bidang PAUD dan Dikmas. “Karena harga yang saya jualkan kepada pak Ihsan (Pegawai Bidang PAUD dan Dikmas), hanya Rp8.500 per buku. Setelah buku itu diserahkan ke PLS kami tidak punya kewenangan lagi. Jadi kalau ada permasalahan bahwa setiap buku itu dijual Rp20 ribu ke kepala TK, tentu yang terlibat adalah pegawasi PLS,” ujarnya.

Diketahui, dari hasil pemeriksaan saksi ditemukan adanya permainan dari pegawai PLS. Salah satunya permainan pada harga buku. Pada tahun 2017, harga standar buku sebesar Rp5.200 namun pihak PLS menjual ke kepala TK seharga Rp20 ribu. Selanjutnya pada tahun 2018 mengalami penurunan karena ada protes dari guru TK, dari harga standar buku tetap Rp5.200 namun dijual lebih murah sedikit yakni sebesar Rp17.500. Atas dugaan permainan harga buku tersebut, telah menimbulkan kerugian negara yang ditaksir Rp5 miliar.

Terungkapnya estimasi kerugian negara ini, setelah penyidik memeriksa pihak rekanan.
Sementara itu, jajaran Kepolisian Resort Bone saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap beberapa saksi termasuk saksi ahli dari Kementrian Pendidikan.

“Kita akan periksa saksi setelah itu, tinggal dilakukan gelar perkara di Polda sekaligus penetapan tersangka dan langsung ditahan. Kemungkinan akhir Juni ini penetapan tersangkanya,” ujarnya.

Dalam perkara ini ada tiga orang yang kemungkinan besar akan ditetapkan tersangka.
“Kalau inisial calon tersangka nanti setelah penepatan tersangka,” tambahnya.
Mengenai kemungkinan menyeret nama Kabid PLS menurutnya tergantung dari pemeriksaan tersangka nantinya.
“Tergantung dari keterangan tersangka, segala kemungkinan bisa saja terjadi,” tutupnya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top