Stok Gula 2016 Pabrik Gula Bone Masih Ada Yang Tidak Diserap. Ini Faktanya – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Stok Gula 2016 Pabrik Gula Bone Masih Ada Yang Tidak Diserap. Ini Faktanya

Kunjungan kerja Komisi II DPRD Kabupaten Bone, di Pabrik Gula Bone (PGB) Arasoe. Komisi II mendapatkan fakta masih ada gula produksi 2016 yang belum diserap Bulog

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE— Pabrik Gula Bone (PGB) terkendala dalam memasarkan gula yang diproduksi. Bahkan, masih ada stok gula 2016 yang masih tersimpan di gudang. Setidaknya, ini yang tergambar dari hasil kunjungan kerja Komisi II DPRD Kabupaten Bone, Rabu 4 Juli kemarin . Diketahui, ada dua pabrik gula yang beroperasi di Kabupaten Bone yakni PGB Arasoe dan PGB Camming.

Produksi gula kedua pabrik ini diperkirakan mencapai belasan ribu ton setiap musim giling. Di PGB Camming, produksi gula setiap musim giling mencapai 19 ribu ton.
Ketua Komisi II DPRD Bone, A Muh Idris Alang mengatakan, kendala utama pabrik gula adalah, produksinya tidak bisa langsung dipasarkan di masyarakat.

“Jadi mereka harus jual dulu gula itu di Bulog atau koperasi. Tidak ada regulasi yang menjadi dasar manajemen untuk menjual langsung ke masyarakat,” ungkapnya kepada RADAR BONE, Kamis 6 Juli kemarin.
Idris Alang mengaku, gula yang diproduksi PGB dikirim dulu ke pusat untuk dikemas. “Aturannya harus dijual melalui bulog atau koperasi,” ujarnya.
Harusnya kata dia, gula tersebut dipasarkan langsung ke Bone. Karena jika dikirim dulu ke Bulog, memakan biaya tambahan dan itu yang menyebabkan harga gula mahal.

“Kemarin pabrik gula meminta bantuan ke DPRD bagaimana agar dibuatkan peraturan daerah atau minimal peraturan bupati, sehingga ada dasar PGB memasarkan langsung gulanya ke masyarakat. Karena kita punya dua pabrik, tetapi masyarakat tidak pernah merasakan manisnya itu gula,” tukasnya.
Senada diungkapkan Anggota Komisi II DPRD Bone, Muh Amir SE. Ia menegaskan, selain terkendala pemasaran, PGB setiap tahunnya juga merugi. “Bayangkan masih ada gula hasil produksi 2016, 2017 dan 2018 yang belum diserap bulog. Ini yang harus dicarikan solusi bagaimana memudahkan PGB memasarkan produksi gulanya,” imbuhnya. Salah satunya lanjut politisi Partai Demokrat itu, dengan menelurkan Perbup atau MoU dengan Kementerian BUMN.

“Jadi di perbup itu mengatur bahwa gula hasil produksi PGB bisa dipasarkan langsung di Bone tanpa harus diserap lagi di bulog,” tukasnya. Anggota Komisi II DPRD Bone dari Fraksi PAN, Herman ST turut mendukung adanya perbup, untuk memudahkan gula hasil produksi PGB dipasarkan di Bone.
“Sebaiknya harus ada perbup, agar gula bisa di pasarkan atau paling tidak bisa melalui Bumdes. Itu saya kira bisa mengurangi stok gula yang ada di gudang,” pungkasnya.
“Coba bayangkan stok 2016 gula masih ada. Regulasi sekarang kan gula harus diambil oleh bulog tidak bisa dijual eceran. Tapi paling tidak ada perlakuan khusus atau kebijakan untuk Bone, apalagi ini pabrik gula ada dua di kabupaten,” tukasnya.

Wakil Ketua DPRD Bone, Samsidar Ishak turut mendukung adanya peraturan daerah atau perbup yang bisa menjadi acuan PGB memasarkan produksi gulanya di Bone. Ia optimis jika PGB bisa memasarkan langsung gulanya ke Bone, keuntungan yang didapat bisa berlipat.

“Kemarin saat kunker di Holding di Rasuna Said saya paparkan itu. Kami miris ada pabrik gula, tetapi manisnya tidak bisa dirasakan langsung masyarakat,” pungkas politisi Partai Gerindra itu. Ia juga mengaku saat kunker di Holding, mengusulkan langsung agar produksi gula di Bone memiliki brand tersendiri.

“Masa kita punya tiga pabrik gula (PGB Arasoe, PGB Camming, Pabrik Gula Takalar), tetapi tidak ada brandnya. Kan miris,” ujarnya.
Saat itu, Ia mengusulkan brand untuk produksi gula lokal yakni ‘Gollata’ atau ‘Cenningku’
Ia juga mengaku jika PGB selama ini terkendala pemasaran. Belum lagi utang pajak di pabrik gula itu yang membengkak.
“Kita akan perjuangkan usulan itu, sehingga gula hasil produksi PGB bisa langsung di pasarkan ke masyarakat. Harus ada di swalayan swalayan dan bisa menggandeng Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) untuk memasarkan gula itu,” terang Samsidar.

Kepala Kansilog Bone, Faisal Jafar membenarkan jika produksi gula PGB diserap langsung oleh Bulog pusat.
Soal adanya gula yang belum diserap, Faisal mengaku tak mengetahui pasti. “Mungkin ada tapi tidak terlalu banyak. Tetapi pada dasarnya PTPN IV itu tidak menjual langsung gula ke pembeli. Kecuali kontrak langsung dengan pusat,” kuncinya.
Kesulitan PGB dalam memasarkan hasil produksinya, juga terlihat dari tunggakan pajak bumi dan bangunan dua pabrik gula di Bone itu. Data per April 2018, tunggakan PBB pada dua pabrik gula yang berkedudukan di Bone ini mencapai Rp5 miliar. Tunggakan pajak pada kedua pabrik gula ini tercatat sejak 2007.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top