Subhanallah, Alasan Operator SD Ini Terima Pinangan Penyandang Tuna Netra Sungguh Mulia – Radar Bone

Radar Bone

Daerah

Subhanallah, Alasan Operator SD Ini Terima Pinangan Penyandang Tuna Netra Sungguh Mulia

Muhammad Nurgalib berfose bersama istri Andi Bunga Dirna, Kamis 20 April

PENULIS: HERMAN KURNIAWAN

RADARBONE.CO.ID, WATAMPONE-Entah kebetulan atau memang penulis ditakdirkan untuk bertemu dengan sosok yang terbilang langka ini. Ya, penulis menganggap langka, pasalnya jika melihat dari status sosial dan pekerjaan, Andi Bunga Dirna pasti akan mencari suami yang tampan serta mampu bekerja untuk menghidupinya dengan anak-anaknya.

Namun langkah yang diambil janda satu anak ini untuk menerima pinangan mantan kekasihnya setelah resmi bercerai dengan suaminya banyak  menganggap hal yang sulit diterima secara logika.

Bagaimana tidak, Andi Bunga begitu dia disapa siap menjalani hubungan sehidup semati meski, Muhammad Nurgalib merupakan penyandang disabilitas tuna netra (buta).

Pasangan yang telah dikaruniai putri kembar ini mengisahkan ke penulis. Pada tahun 1996 silam dia dipertemukan dengan Nurgalib. Kemampuan sang pria  menghapal Alquran sebanyak 30 juz membuat, Bunga menjatuhkan pilihannya.

Singkat cerita mereka menjalin hubungan pacaran. Meski jarang ketemu dikarenakan, Nurgalib sibuk dengan organisasinya sementara, Bunga juga punya kesibukan.

“Saat itu bapak (Nurgalib) masih melihat. Kami jalan selama tiga tahun kemudian pisah. Saya dengar kabar waktu itu bapak merantau ke Kalimantan, sementara saya juga nikah dengan orang Jawa,” kisahnya saat ditemui RADARBONE.CO.ID.

Ibarat istilah ‘kutunggu jandamu’, keduanya dipertemukan dengan situasi berbeda. Nurgalib sedang tertimpa musibah, kondisi kesehatannya menurun bahkan penglihatannya perlahan-lahan menghilang.

Pertemuan mereka seakan telah diatur oleh yang maha kuasa. Saat ada kegiatan, Bunga bertamu di kediaman seorang temannya.

Usut punya usut temannya yang didatangi ternyata bertetangga dengan, Nurgalib.

Akhirnya mereka bertemu kemudian masing-masing menceritakan pengalaman hidup selama pisah.

“Di situ baru saya sadar betapa berharganya saya bagi bapak. Buku catatan harian dulu waktu kami kirim surat melalui buku diari masih ada dia simpan, pertemuan itu terjalin mulai akhir 2008 hingga kami putuskan nikah pada April 2009,” tutur putri dari pasangan, Andi Bennu dan Andi Aisyah.

Wanita kelahiran Selayar 22 Juni 1979 namun tumbuh dan besar di Desa Ulaweng Cinnong, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Sulsel mengaku mengagumi sang suami yang selalu mengajarkan bagaimana arti kehidupan.

“Bapak merupakan sosok laki-laki yang penuh pengertian. Dia mengajarkan saya untuk tidak terlalu mengejar dunia,” cetus ibu dari putri kembar,  Nurul Izzah Ainiyyah dan Nurul Izzah Athifah.

Langkah yang diambil, Operator sekolah SD di Bantaeng menikah dengan suami sempat tak direstui orangtuanya. Namun, Bunga tetap berjuang bahwa sang suami mampu membahagiakannya.

“Yang namanya orang tua pasti menolak. Namun saya berusaha meyakinkan hingga akhirnya mendapat restu,” tambahnya.

Dengan status suaminya sebagai penyandang disabilitas tak sedikit laki-laki normal berusaha mendekati, Bunga. Namun dia langsung menolak secara halus.

“Caranya saya ajak bertamu kemudian kasi kenal sama suami. Kadang juga ke rumah teman kasi ikut bapak,” tandasnya.

Kini, Bunga bersama dengan Nurgalib menetap di Kabupaten Bantaeng yang merupakan kampung halaman suami. Mereka membina keluarga bahagia, layak menjadi pembelajaran bahwa hidup ini akan berwarna jika dijalani dengan penuh kesyukuran, Selamat Hari Kartini 2017.

Click to comment
To Top