Suku Bajo: Kami Butuh Perhatian – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Suku Bajo: Kami Butuh Perhatian

PENULIS : BAHARUDDIN

RADARBONE.CO.ID – WATAMPONE — Suku Bajo yang mendiami Lingkungan Kampung Bajo, Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur berkisar 300-an kepala keluarga. Mayoritas atau bisa dibilang 100%, mata pencaharian suku Bajo adalah sebagai nelayan.

Tak heran jika suku Bajo juga dikenal sebagai suku laut. Tak ada aktivitas lain, selain melaut. Bahkan, sebagian besar dari mereka cuma menjadi buruh atau ikut dengan perahu penangkap ikan milik warga pribumi atau suku Bugis. Hal ini diungkapkan

Tokoh Masyarakat Suku Bajo, Idris saat disambangi RADAR BONE, Kamis, 30 Maret kemarin. Pria yang dikenal sebagai kepala suku ini membeberkan perihal kehidupan dan mata pencaharian suku Bajo.

“Mata pencaharian suku Bajo hanya di laut. Karena mau bersawah tidak punya sawah, mau buka usaha tidak punya modal, mau berkebun tidak punya lahan kebun. Kebiasaan kami secara turun temurun hanya menangkap ikan,” cerita Idris.

Diakui Idris menangkap ikan adalah keahlian suku Bajo. Mulai dengan cara menggunakan pancing hingga melakukan praktik bom ikan.

Karena sulitnya mendapatkan hasil tangkapan ikan dalam jumlah banyak, maka berbagai cara pun ditempuh, termasuk cara-cara yang dilarang oleh pemerintah, seperti bom ikan tersebut. Sejatinya, kata dia suku Bajo ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Mulai dari pemberian bantuan kapal, modal hingga pembinaan, maka diyakini aktivitas penangkapan ikan yang merusak biota laut akan ditinggalkan.

“Seandainya pemerintah memberikan bantuan berupa kapal dengan alat penangkap ikan, maka tentu tidak ada yang melakukan pelanggaran. Karena nelayan tahu kalau melakukan pengeboman ikan itu adalah pelanggaran, tapi apa boleh buat, karena keadaan yang membuat seperti itu. Daripada mati kelaparan, tentu orang berpikir lebih baik ikan mati daripada dirinya yang mati kelaparan,” beber Idris.

Hal itulah, kata dia yang mendorong sebagian nelayan suku Bajo masih melakukan praktik pengeboman ikan secara sembunyi-sembunyi. “Saya kira itulah yang menyebabkan masih ada yang melakukan pengeboman ikan sampai sekarang,” jelas Idris.

Diakui praktik ikan sesungguhnya juga membahayakan bagi pelakunya. Hanya saja, karena terdesak kebutuhan hidup, sehingga praktik seperti itu tetap dilakukan.
Menurut Idris aktivitas bom ikan sudah dilakukan sejak dahulu, namun saat ini pemerintah melarang, sehingga nelayan melakukan secara sembunyi-sembunyi.

” Tapi kami tidak mengetahui cara pembuatannya karena saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kemungkinan bom ikan itu diperoleh dari daerah lain,” paparnya.

Yang memiriskan juga di tengah keterdesakan nelayan menggunakan bom ikan untuk mencari hidup, justru dimanfaatkan oknum tidak bertanggungjawab untuk ‘memeras’ mereka dengan dalih melanggar hukum. Bukan sebaliknya, dibina dan diberi modal agar hidup nelayan suku Bajo lebih sejahtera.

Click to comment
To Top