Sungai di Sibulue Diduga Tercemar Limbah Pabrik PGB Arasoe – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Sungai di Sibulue Diduga Tercemar Limbah Pabrik PGB Arasoe

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Sungai berwarna hitam dan berbau sudah menjadi pemandangan biasa bagi warga dua desa di Kecamatan Sibulue. Air berubah warna dan berbau diduga akibat dari limbah pabrik yang berdiri tak jauh dari kedua desa tersebut beroperasi.

Pantauan RADAR BONE di Sungai Kaju di perbatasan Desa Pasaka dengan Desa Tunreng Tellue, Kecamatan Sibulue, Minggu, 17 September kemarin menemukan air sungai berwarna hitam. Kondisi tak berbeda dengan gambar yang dikirimkan salah seorang warga setempat kepada RADAR BONE, Jumat, 15 September lalu.

Informasi yang dihimpun RADAR BONE dari warga di Desa Pasaka, Kecamatan Sibulue, menyebutkan Sungai Kaju yang mengalir di desanya setiap tahun berubah warna. Selain berubah menjadi warna hitam, air sungai juga mengeluarkan bau tak sedap. Warga mencurigai air sungai tercemar limbah kimia yang diduga berasal dari Pabrik Gula Bone (PGB) Arasoe. Maklum, takkala pabrik gula itu beroperasi atau proses giling, air sungai berubah warna dan berbau.

“Setiap tahun air sungai ini hitam. Asalkan jalan pabrik (PGB Arasoe) airnya hitam. Ada salah satu pintu di situ kalau dibuka itu airnya langsung ke sungai. Saya lihat setelah dia buka pintu itu hampir satu bulan ini air sungai hitam,” ungkap Salmiah, salah seorang warga Desa Pasaka saat disambangi RADAR BONE, Minggu, 17 September kemarin.

Menurut Salmiah, Sungai Kaju yang mengalir di sepanjang Desa Pasaka menuju Desa Tunrung Tellue merupakan akses jalan yang dilalui anak sekolah untuk menuntut ilmu.

Anak sekolah dan warga setempat menggunakan rakit untuk menyeberangi sungai. Di tengah kondisi air sungai yang berwarna hitam dan berbau, Salmiah khawatir akan menimbulkan dampak buruk bagi warga.
Terutama dampak yang dirasakan warga saat ini, kata Salmiah adalah bau air sungai yang menyengat hidung.

“Kebetulan saya mengajar di MTs yang terletak di seberang sungai. Dan itu baunya sampai di sekolah. Bahkan, mengganggu anak-anak yang sementara belajar,” beber Salmiah.
Kepekatan air sungai, sambung Salmiah terlihat jelas saat air sungai dalam keadaan surut. “Ketika mereka (Siswa) menyeberang sungai pada saat air turun, bekas hitam itu masih ada. Biar dicuci pakai sabun tetap juga masih bau,” katanya.

Tak hanya itu, kata Salmiah, ikan-ikan yang ada di sungai ikut mati karena diduga tercemar limbah pabrik tersebut.
“Hari pertama dan hari kedua buang limbah, ikan di sungai teler semua bahkan warga di sini ramai-ramai ke sungai untuk pungut ikan. Mereka tidak tahu bagaimana dampaknya. Air limbah ini juga sampai ke laut tapi saya tidak tahu sampai berapa kilometer itu,” terang Salmiah.

Menurut Salmiah air sungai tercemar diduga dari pembuangan limbah Pabrik Gula Bone (PGB) Arasoe. Pihak pabrik, kata dia menutup kran pembuangan ke sungai takkala warga getol mengajukan protes.
“Bilang orang-orang di sini, katanya sudah lama ini pabrik tapi masa tidak ada usaha untuk itu. Kalau ada warga sudah protes baru ditutup lagi kran yang ke sungai,” tuturnya.

Warga lainnya, Herman membenarkan air Sungai Kaju setiap tahun menghitam.
“Di sini tiap tahun hitam airnya, kalau jalan pabrik yah hitam lagi airnya. Karena kalau penampungan limbahnya penuh yah larinya ke sini dan di sini ikannya mati semua hanya ikan gabus saja tidak mati,” ujar Herman saat ditemui RADAR BONE Minggu, 17 September kemarin.

Diakui Herman, kendati warga terganggu oleh sungai yang tercemar, tapi mereka tidak dapat berbuat banyak.
“Kalau masalah protes, ada yang protes seperti warga yang memiliki empang. Mereka protes karena kalau masuk limbahnya di sana dan ikan-ikannya mati, tapi kalau seperti kami yah tidak protes karena kami hanya orang kecil kasihan,” tambahnya.

Air sungai berubah menjadi hitam takkala PGB Arasoe beroperasi juga diakui warga lainnya, Anti.
“Ya airnya hitam karena pabrik sedang jalan,” kata Anti.

Manajemen PGB Arasoe yang berusaha dikonfrimasi RADAR BONE, Sabtu, 16 September lalu terkait dugaan pembuangan limbah pabrik tersebut tak berhasil.

Pengelola pabrik yang bernaung di bawah PT Perkebunan Nusantara ini sudah bubar kantor.
Namun pegawai PGB Arasoe yang ditemui menampik dugaan pencemaran sungai berasal dari limbah PGB Arasoe.

“Di sini kami memiliki penampungan limbah, kalau limbah padatnya punya tempat sendiri dan begitu pun dengan limbah cairnya punya tempat,” kata Amir, petugas security PGB Arasoe.
Amir pun memperlihatkan beberapa kolam yang diklaim sebagai tempat penampungan limbah cair.

“Di sini ada lima kolam tempat penampungan limbah cair yang dalamnnya itu ada sekira tiga meter. Cara masuk limbah di sini itu melalui selokan-selokan yang ada.

Selokan-selokan itu berfungsi membuat limbah cair menjadi dingin sebelum masuk ke kolam penambungan.
Jadi, limbah cair sudah dingin baru sampai di sini. Dan ini tidak ada penuhnya,” jelas Amir seraya menunjukkan kolam yang merupakan bagian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Terkhusus limbah padat, kata Amir, sebagian warga setempat menggunakan sebagai pupuk. “Kalau limbah padatnya ini sangat bermanfaat karena banyak juga warga yang ambil untuk dijadikan pupuk,” jelasnya.
Kendati memiliki kolam penampungan, Amir juga tak menampik jika limbah cair terbuang ke sungai. Namun demikian, limbah cair yang sampai ke sungai, sambung Amir sudah dalam keadaan aman, alias tidak mengandung zat kimia berbahaya.

“Tidak mungkin tidak sampai, cuma sudah dipakai kemana-mana baru sampai, istilahnya sudah mati. Biasanya musim hujan baru sampai ke sungai.

Kalau musim kemarau seperti ini tidak sampai, apa lagi kalau dipakai di kebun,” tuturnya.
Amir juga mengakui saat ini pabrik dalam proses penggilingan. Masa penggilingan, kata dia membutuhkan waktu sedikitnya 100 hari.

“Kalau di sini biasa pengerjaannya sampai 115 hari atau kadang 105 hari. Bahkan kalau bahan bakunya sedikit hanya membutuhkan 100 hari saja, jadi tergantung dari bahan bakunya,” tuturnya.

Pegawai PGB Arasoe lainnya, Adi menambahkan limbah padat dijadikan pupuk. Sedangkan limbah cair dialirkan ke perkebunan tebu.

“Limbah padatnya diangkut ke lapangan untuk diolah menjadi pupuk, sedangkan limbah cairnya dialirkan lewat selokan sampai di kebun-kebun untuk persediaan air juga,” kunci Adi.

*

Click to comment
To Top