Tak Beradab, Oknum Polisi dan KAUR Desa di Mamuju Utara Garap Anak Dibawah Umur Asal Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Tak Beradab, Oknum Polisi dan KAUR Desa di Mamuju Utara Garap Anak Dibawah Umur Asal Bone

Korban dugaan pemerkosaan dibawah umur, FR didampingi orang tuanya saat mengadu ke DPRD Bone, Rabu 3 Agustus

WATAMPONE, RB—Seorang bocah asal Desa Mattirowalie Kecamatan Bontocani berinisial FR (13) mendatangi DPRD Bone, Rabu 3 Agustus kemarin.
Dia mengadukan dugaan pemerkosaan yang dialaminya di Desa Ompi Kecamatan Bulutada Kabupaten Mamuju Utara, pada tanggal 4,5,6 dan 7 Juni lalu. Pemerkosaan itu diduga dilakukan empat orang, termasuk seorang oknum polisi dan seorang oknum pemerintah desa setempat.

Kedatangan FR di DPRD didampingi ayahnya, Mappatang. Mappatang adalah seorang warga Desa Mattirowalie Kecamatan Bontocani yang sudah 10 tahun berkebun di Mamuju Utara.
Di hadapan anggota tim pene-rima DPRD Bone A Idris Alang, SH MH, A Suadi, SH MH dan Abulkhaeri, SE, FR mengaku di-sekap selama empat hari sebelum diperkosa.“Saya digilir pak oleh empat orang,” ucap FR lirih.
FR yang masih duduk dibangku sekolah dasar itu, ikut ayahnya yang berkebun kelapa sawit di desa itu.Sebelum digarap, FR juga mengakui diberi minuman yang diduga sudah dicampur obat bius.
“Saya dikasih minum air, baru pusing,” tutur gadis belia yang masih duduk Kelas IVSD itu dengan suara terbata-bata.

Kisah itu diceritakan kepada Koordinator Pendampingan Kekerasan pada Anak dan Perempuan LPP Bone, Martina Madjid, Rabu 3 Agustus kemarin. Namun, tak banyak yang bisa dikorek dari FR. Dia tampak sungkan menceritakan kejadian yang dia alami pada Juni lalu itu. Martina Majid me-ngatakan, korban masih malu-malu menceritakan peristiwa pilu yang menimpa dirinya. “Kejiwaan ini anak masih belum stabil,” ujarnya. Terpisah, ayah korban, Mappatang mengaku datang ke DPRD Bone, karena tidak mendapat keadilan di Mamuju Utara.
“Saya sudah laporkan pak, tapi sampai sekarang pelakunya belum ditangkap,” ungkapnya.
Bahkan dirinya diteror dan diintimidasi. “Kami berharap legislator memperjuangkan nasib kami. Kami inginkan keadilan pak,” pungkasnya.

Legislator penerima aspirasi, HA Suaedi SH MH mengecam keras perbuatan bejat tersebut.
“Saya yakin kapolda (Irjen Pol Anton Charlian) belum tahu persoalan ini. Insya Allah komisi I segera menemui kapolda untuk mempertanyakan penanganan kasus ini,” tegas Suaedi sembari menyebut kasus asusila tersebut terjadi saat Sulbar masih dalam wilayah Polda Sulselbar.

 

To Top