Tak Diakui Kemenag, Sudah Tiga Tahun Beroperasi – Radar Bone

Radar Bone

Uncategorized

Tak Diakui Kemenag, Sudah Tiga Tahun Beroperasi

Kantor Travel PT Alaud Amin yang terletak di Jl RA Kartini, Sengkang, Kabupaten Wajo. Kantor ini merangkap sebagai toko hijab.

Jejak Travel PT Aulad Amin, Membawa CJH Via Filipina

PENULIS : ROSDIANA SULJA

SENGKANG, RB—Perusahaan Travel PT Aulad Amin sudah tiga tahun beroperasi di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo. Beberapa warga pun pernah lolos berhaji melalui travel ini. Karenanya tak heran, jika banyak warga, termasuk dari Bone yang berani melakukan perjalanan haji lewat travel yang diduga ilegal tersebut.

Meski tak terdaftar di Kementerian Agama setempat, sepak terjang PT Aulad Amin sudah terdengar dimana-mana. Bahkan, hingga sampai ke Bumi Arung Palakka.  Buktinya, ada warga Ajangale yang mencoba berangkat menunaikan ibadah haji melalui travel ini. Salah satunya adalah Nurdin.

Isteri Nurdin yang ditemui RADAR BONE, Sabtu 27 Agustus lalu membeberkan awal mula suaminya mendaftar melalui tra-vel yang dikelola pasangan suami isteri, Hj Nasir dan Hj Rahmawati, warga Sengkang yang beralamat di Jl RA Kartini. “
“Hj Wati dan suaminya sudah lama dikenal sebagai pengurus jemaan haji menggunakan travel Aulad Amin. Banyak sekali jemaahnya,” tutur Hj Sitti Nurha-yati, warga Kelurahan Pompanua Kecamatan Ajangale yang merupakan isteri Nurdin, salah seorang JCH yang ditahan di Filipina.

Pengusaha jual beli hasil pertanian ini menuturkan, suaminya tertarik untuk menggunakan jasa travel PT Aulad Amin berdasarkan cerita dari jemaah sebelumnya yang kini telah sukses menunaikan ibadah haji.
“Karena mendengar cerita dari orang sebelumnya yang sukses naik haji dengan cepat menggunakan travel itu, maka suami saya pun mendaftar,” terangnya.

Pemilik usaha kelontongan di depan rumahnya ini pun me-ngatakan awalnya dia yang meng-hubungi Hj Rahmawati melalui sambungan telepon. “Kemudian Hj Wati (Hj Rahmawati) datang ke rumah saya dan calon jemaah haji lain di sini untuk untuk didaftar,” terangnya. Besar ongkos naik haji yang dipatok travel yang diduga bodong alias tak berizin ini pun cukup fantastis jika diban-dingkan ONH yang ditetapkan pemerintah.

“Suami saya mendaftar pada bulan Mei dan langsung membayar Rp135 juta yang kami bayar sekaligus dengan menyetonya ke rekening bu Hj Wati,” terang Nurhayati. Setelah terdaftar, selang berapa waktu kemudian, CJH pun dibawa ke Filipina untuk mengambil paspor

“Keberangkatan pertama di Filipina hanya lima hari dan kemudian kembali ke kampung,” terang isteri Nurdin ini.
Setelah menunggu selama dua bulan lebih, maka suaminya pun berangkat pada Selasa 16 Agustus lalu.
“Suami saya berangkat bersama 60-an jemaah haji lain dari Bone dan Wajo,” katanya.

Ketertarikan Nurdin Cs untuk menggunakan jasa travel PT Aulad Amin cukup beralasan. Pasalnya, beberapa warga pernah lolos berhaji melalui travel milik H Nasir-Hj Rahmawati tersebut. Adalah Hj Muliyana, warga Kampung Tembo Desa Lapaukke Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo, berhasil ke tanah suci tahun lalu lewat travel PT Alaud Amin.
Muliyana menuturkan diri-nya berangkat menunaikan ibadah haji pada 28 Agustus 2015 lalu.

“Saya berangkat sama suami saya dan masing-masing bayar Rp129 juta perorang. Sebenarnya saya mendaftar di travel itu untuk ikut ONH Plus, tetapi setelah menunggu sampai tiga tahun belum berangkat, saya dialihkan menggunakan paspor Filipina,” terang Muliyana seraya mengakui, bahwa saat berangkat tahun lalu, dirinya bersama 23 orang CJH lain.

Wanita ini mengaku awalnya tidak mengetahui jika akan menggunakan paspor Filipina. “Nanti setelah paspor ada di tangan baru tahu. Tapi karena sudah telanjur di jalan, maka kami tetap berangkat,” katanya.
Sebelum berangkat ke tanah suci, kata Muliyana, pendam-ping haji dari pihak travel mewanti-wanti agar JCH asal Indonesia tidak banyak bicara. “Kami di suruh diam. Kalau memang ada hal penting harus dibicarakan, disuruh pakai bahasa daerah saja agar tidak ketahuan kalau kami bukan warga Filipina,” katanya. Wanita ini juga mengatakan pengelola travel Aulad Amin me-lakukan kerjasama dengan pengurus haji dari Filipina bernama H Rasidi yang memiliki rumah di Malaysia.

Kapolres Wajo, AKBP Noviana Tursaurrohmad yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon membenarkan jika travel tersebut memang dikelola pasutri H Nasir-Hj Rahmawati.“Travel itu diduga ilegal,” katanya. Saat RADAR BONE menyam-bangi travel PT Aulad Amin di Jl RA Kartini Sengkang, Sabtu 27 Agustus lalu, menemukan travel ini berada di deretan sebuah pusat pertokoan.
Travel itu mudah didapat karena papan reklame yang bertuliskan nama PT Aulad Amin sengaja dipasang menj orok dan dilengkapi dengan nomor sambungan telepon pengelola.

Anehnya, pada bagian depan ruko yang seharusnya menjadi kantor travel itu, malah terpasang nama toko Liha Collection yang menjual berbagai macam jilbab dan pakaian haji dan umrah.
Saat masuk ke dalam tempat itu, aneka jilbab pun tersusun di lantai maupun terpasang pada manekin.
Sebuah lemari kaca yang terdapat pada bagian tengah kota berisikan berbagai alat kosmetik seperti celak, lipstik, sabun asal Tanah Suci.

“Kami menjual di sini dari pagi hingga sore,” terang Ana, salah seorang penjaga toko.
Hanya saja, RADAR BONE tak berhasil bertemu H Nasir dan Hj Rahmawati. Informasi dari karyawan toko, kedua pasutri itu sedang keluar kota.
“Kalau mau mendaftar haji atau umrah ditangani langsung ibu Hj Rahmawati. Tapi puang Hj Wati sekarang lagi di Makassar, sedangkan Puang H Nasir ada di Filipina ikut dalam rombongan haji,” ujar seorang pramuniaga yang ditemui RADAR BONE saat memasuki toko tersebut.

Hj Rahmawati yang berusaha dihubungi melalui nomor telepon yang tertera di papan reklame kantor PT Aulad Amin, tak berhasil. Tak ada jawaban saat dihubungi, kemarin.
Dari informasi yang dihimpun dari warga setempat, travel me-rangkap toko tersebut telah beroperasi selama tiga tahun lebih.
Pasangan suami isteri H Nasir dan Hj Rahmawati, merupakan warga Kota Sengkang Kabupaten Wajo yang dikenal sebagai pe-ngusaha. Mereka memiliki dua unit rumah masing-masing di Jl RA Kartini dan Jl HA Pawellangi.
Kasi Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah Kementerian Agama Kabupaten Wajo, H Suhdi menegaskan bahwa tujuh travel yang diduga kuat menjadi penyebab ditahannya warga Kabupaten Wajo di Filipina, termasuk PT Aulad Amin tidak terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Wajo.

“Kami pastikan travel tersebut tidak terdaftar di Kemenag Wajo. Jadi kemungkinan besar ada calo yang bermain di dalam kejadian ini,” ungkapnya.
Dia juga membeberkan, bahwa warga Wajo adalah yang terbanyak ikut serta dalam 177 CJH asal Sulsel yang ditahan di Filipina. “Ada 62 warga Wajo yang tertahan di Filipina, dari 62 orang tersebut berasal dari tujuh kecamatan salah, antara lain Kecamatan Belawa, Pammana, Tempe, Sabbangparu dan Bola,” jelas Suhdi saat dihubungi RADAR BONE, Kamis 25 Agustus lalu.
Suhdi menyerahkan hal ini kepada pihak kepolisian.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum,” tuturnya.

*ASKAR SYAM

To Top