Terkendala Perda, Pendatang Jadikan Bone ‘Sarang’ Isap Lem – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Terkendala Perda, Pendatang Jadikan Bone ‘Sarang’ Isap Lem

Kumpulan pemuda ini didominasi pendatang, mereka terjaring razia di kawasan air mancur beberapa waktu lalu.

PENULIS: HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB– Generasi muda yang nantinya diharapkan mampu menjadi penerus di Bumi Arung Palakka terancam moralnya rusak. Salah satu pemicunya adalah perilaku isap lem yang terkesan sudah membudaya.

Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE menemukan fakta bahwa awal masuknya perilaku isap lem di Bumi Arung Palakka dibawa kumpulan anak punk dari Kota Makassar yang hendak menyebrang ke Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Anak punk ini awalnya hanya menginap di Pelabuhan Bajoe setiap hendak balik dari Kolaka ke Makassar begitupun sebaliknya.

Lambat tapi pasti, mereka kenalan dengan sejumlah pemuda putus sekolah setempat hingga akhirnya bergaul dan membuat perkumpulan.

Karena terkadang mereka tidak memiliki uang untuk membeli lem, maka kumpulan pemuda ini memilih mengamen di jalan dan warung-warung makan.

Mereka juga mengontrak kamar kost kemudian ditempati hingga belasan orang. Hal ini terjadi bertahun-tahun hingga sekarang.

Seorang anak di bawah umur asal Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, FA (16), yang ditemui saat terjaring razia di Mapolsek Tanete Riattang mengaku, dulunya dia kerap menyabet juara di sekolahnya setiap ada pertandingan. Namun kejadian berbanding terbalik, semenjak dia mengenal isap lem. Semuanya hancur bahkan sempat tinggal kelas dan buntutnya dia dikeluarkan dari sekolah.

“Awalnya saya selalu diajak teman ke kost anak punk asal Makassar dan Kolaka. Disitu mengenal lem, hingga akhirnya terbiasa isap lem, sekarang sudah jarang pulang rumah,” katanya.

FA mengaku, alasan bergabung dengan anak punk karena ingin bebas dari tekanan orang tuanya. Dia mengaku ketika sedang berada di rumah selalu diminta untuk belajar dan mengaji.

“Kalau di rumah, pulang sekolah disuruh lagi mengaji. Makanya saya merasa jenuh. Sementara kalau lagi sama teman-teman bebas mau apa saja, bahkan makan juga bareng-bareng,” tambahnya.

Sementara anggota anak punk asal Kolaka, IM (17) mengaku sudah lima tahun menetap di Kota Watampone. Dia menempati kost di bilangan Jl Majang bersama dengan 15 orang temannya.

“Saya tinggal di Bone, tapi kadang juga ke Makassar dan Kolaka. Banyak teman di sini, kalau isap lem memang biasa. Namun bukan saya yang ajari, hanya saja mereka pemuda yang baru bertemu penasaran ketika melihat kami mengisap lem, hingga akhirnya ikut juga,” katanya.

IM mengaku, memilih tinggal di kota ini dengan alasan aman. Selain itu, dia sudah memiliki banyak teman pemuda setempat.

“Banyak teman, meski sekarang lebih sering tinggal di kostnya karena takut terjaring razia,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah terkesan tak berani mengambil tindakan tegas terhadap pelaku isap lem. Ada kesan penegak hukum lempar tanggungjawab dengan alasan tak ada peraturan yang mengatur tentang isap lem.

Kabid Trantib Satpol PP Bone, H Darmadi berkali-kali mengatakan, bahwa tindakan yang dilakukan terhadap pelaku isap lem hanya sebatas mendata kemudian dilepas.

“Kami terkendala Perda. Kalau pendatang yang kami temukan mengisap lem langsung dikembalikan ke daerahnya masing-masing,” tegasnya.

Patut ditunggu sampai kapan pemuda dari luar daerah menjadikan Kota Beradat sebagai ‘sarang’ isap lem.

Dan apakah pemerintah tetap akan diperdaya dengan tidak adanya Perda.

To Top