Terungkap! Pengamen Ajari Pemuda Bone Isap Lem – Radar Bone

Radar Bone

Berita Utama

Terungkap! Pengamen Ajari Pemuda Bone Isap Lem

PENULIS: HERMAN KURNIAWAN
WATAMPONE, RB– Maraknya pesta isap lem yang melibatkan pemuda di Bumi Arung Palakka tak lepas dari peran pengamen yang datang mengadu nasib di daerah ini. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan RADAR BONE, isap lem ini awalnya diperkenalkan oleh kumpulan pengamen dari Kota Makassar yang tiba di Kabupaten Bone pada tahun 2010 lalu.
Saat itu belum ada pemuda Bone mengerti tetang isap lem, kebanyakan anak putus sekolah hanya mengkonsumsi obat-obatan seperti destro.
Setelah kelompok pengamen dari Makassar tersebut merekrut pemuda pengangguran lokal kemudian diajak tinggal dan ngamen bersama di sejumlah tempat seperti Pantai Kering, Lapangan Merdeka, Taman Bunga hingga tempat-tempat keramaian lainnya saat itupula, isap lem mulai digemari pemuda putus sekolah.
“Waktu saya kembali ke Bone dari rantaun di Sulawesi Tengah pada awal 2011, memang sudah ada beberapa pemuda yang tau kalau mengisap lem dapat memabukkan. Saya sempat heran dari mana mereka bisa tau padahal saya saja mulai mengisap lem ketika di Palu. Ternyata memang sudah ada anak punk asal Makassar yang hendak menyeberang ke Kolaka Sulteng singgah mengamen di Bone, dari situlah banyak pemuda lokal berguru,” kata, FJ (29).
FJ menambahkan, perkembangan isap lem di daerah ini terbilang cukup pesat pasalnya anak muda yang merasa dirinya gaul atau kumpulan anak punk mesti mengisap lem.
“Ada pemikiran tersendiri kalau teman-teman mengisap lem kemudian kita tidak maka serasa tidak gaul,” katanya.
Sementara seorang pemuda putus sekolah, SN (20) mengaku isap lem pertama dia kenal ketika terjaring razia yang dilakukan Petugas Satpol PP. Saat itu dia bersama dengan dua rekannya diamankan lantaran kedapatan bolos sekolah, secara kebetulan dia ditangkap bersama dengan sejumlah pelaku isap lem.
“Dari situ saya penasaran kenapa bisa ada orang mengisap lem. Saat pulang kami bersama dengan teman mencoba membeli lem Fox kemudian dimasukkan ke dalam plastik bening lalu di isap. Awalnya saya tidak tahan, tapi lama kelamaan terasa nikmat dan perasaan melayang-layang ketika sudah mengisap lem,” katanya.
Isap lem terus dia lakukan hingga tidak pernah lagi masuk sekolah. Dua bulan membolos, SN akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan hingga saat ini dia ikut mengamen bersama dengan kumpulan pemuda dari Kolaka Sulawesi Tenggara.
“Asal ada lem saya bisa tahan tidak makan dalam satu hari. Selain harganya murah lem lebih cepat reaksinya jika dibandingkan dengan minuman keras dan obat-obatan,” tambahnya.
SN yang mengaku warga, Kelurahan Bulu Tempe, Kecamatan Tanete Riattang ini menceritakan sudah beberapa tahun tidak kembali ke rumahnya dan tidak pernah bertemu dengan sanak keluarganya.
“Kalau kedua orang tua memang sudah lama meninggal. Saya biasanya tinggal bersama dengan saudara, namun semenjak hidup berantakan seperti ini saya malu pulang ke rumah mending ikut bersama dengan teman yang sudah saya anggap sebagai keluarga,” tutupnya.
Kasatpol PP Kabupaten Bone, M Zainal N yang dikonfirmasi beberapa waktu lalu mengatakan, untuk menindaki pengguna lem pihaknya menuai jalan buntu. Tidak adanya Perda yang mengatur tetang pesta isap lem tersebut menjadi alasan penegak Perda takut bertindak.
“Tidak ada peraturan yang mengatur, makanya kami tidak bisa bertindak lebih jauh. Paling didata kemudian orang tuanya dipanggil lalu dibuatkan surat pernyataan,” jelasnya.

To Top