UPP Bajoe Diduga ‘Main Mata’ – Radar Bone

Radar Bone

Uncategorized

UPP Bajoe Diduga ‘Main Mata’

Jarak Kendaraan Di Atas Feri Diabaikan

PENULIS : ASKAR SYAM – BAHARUDDIN

WATAMPONE, RB–Pengaturan jarak kendaraan di atas feri mengabaikan aturan yang ada membuktikan lemahnya pengawasan pihak Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Bajoe. Pihak UPP terkesan melakukan pembiaran
terhadap pelanggaran tersebut. Dugaan pelanggaran jarak kendaraan di atas kapal kembali mengemuka, menyusul kandasnya KMP Dharma Kartika sekira dua mil dari Pelabuhan Bajoe, Minggu 19 Februari lalu sekira pukul 18.45 Wita.

Muatan kapal khususnya kendaraan ditengarai melebihi kapasitas, menjadi dugaan kuat kandasnya kapal feri tersebut. Informasi yang dihimpun RADAR BONE, dugaan permainan jarak kendaraan di atas kapal sudah berlangsung sejak lama. Untuk membuktikan hal tersebut, RADAR BONE menyambangi kapal yang dijadwalkan berangkat perdana, Senin 20 Februari lalu. Hasilnya, ditemukan truk diparkir secara berdempetan di atas KMP Fais sekira Pukul 16.00 Wita. Nyaris tak ada celah di antara sisi mobil. Salah satu pengunjung kapal terlihat sulit melewati celah antara truk yang satu dengan lain.

Kendati dia sudah memiringkan badan. Jarak kendaraan bersisian minimal 60 cm dan jarak muka belakang mobil minimal 30 cm, sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2016 tentang Kewajiban Pengikatan Kendaraan Pada Kapal Angkutan Penyeberangan pada Pasal 4 dan 5, tidak ditemukan.
Pemandangan serupa ditemukan di atas KMP Mishima Jakarta, Selasa 21 Februari kemarin sekira pukul 17.00 Wita. Deretan kendaraan di atas kapal masih terlihat cukup rapat.

Meski pelanggaran tersebut terlihat secara kasat mata, namun seolah tak ada tindakan dari pihak pengawasan dalam hal Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Klas III Bajoe.

Pihak UPP tetap meloloskan kapal tersebut untuk berlayar. Kondisi ini menimbulkan spekulasi publik. UPP diduga ‘main mata’ dengan pihak kapal.  Dugaan permainan jarak kendaraan di atas kapal ditengarai menjadi praktik pungli ‘berjamaah’ dari pihak-pihak yang terkait. Bayangkan tarif terpadu, termasuk di dalamnya tarif tiket kendaraan yang berlaku di Pelabuhan Bajoe cukup besar.

Untuk kendaraan golongan IV saja, seperti jeep, sedan, minibus, mikrolet, station wagon atau kendaraan yang memiliki panjang hingga 5 meter, tarifnya sebesar Rp1.425.000 untuk kendaraan penumpang dan Rp1.325.000 untuk kendaraan barang per unit. Kemudian untuk kendaraan golongan V yang di dalamya ada truk, bus, truk tangki yang memiliki panjang sampai 7 meter dibanderol Rp2.800.000 (Kendaraan penumpang) dan Rp2.325.000 (Kendaraan barang). Bahkan untuk kendaraan golongan VI, seperti mobil bus, mobil barang berupa truk/tangki dengan panjang lebih dari 7 sampai 10 meter, tarif tiketnya adalah Rp4.470.000 (Kendaraan penumpang) dan Rp3.850.000 (Kendaraan barang). Malah, untuk kendaraan yang masuk golongan IX dengan panjang kendaraan lebih dari 16 meter, tarifnya mencapai Rp10.400.000.

Praktisi Sosial, Dharmawansyah menilai kandasnya suatu kapal agak jauh hubungannya dengan kondisi cuaca.
“Saya melihat ini murni human error (Kesalahan manusia). Kalaupun persoalan cuaca, tentu ada perintah dari pihak Syahbandar melarang kapal berlayar,” ungkapnya.

Dharmawansyah menilai, ada yang janggal ketika kapal sekelas KMP Dharma Kartika kandas hanya beberapa mil dari pelabuhan. “Ini warning bagi penyelenggara pelabuhan. Jangan coba-coba bermain yang justru membahayakan nyawa penumpangnya,” tegasnya.

Senada diungkapkan Rahman Arif. Dia menegaskan harus ada evaluasi sistem keamanan pelayanan di Pelabuhan Bajoe. “Aturan soal jarak kendaraan sudah ada aturannya (Permenhub Nomor 30 Tahun 2016). Kalau itu yang dijadikan acuan saya kira tidak ada masalah. Yang masalah itu, kalau petugas main mata dengan pihak kapal. ” tegas Rahman.

Pihak Unit Penyelenggara Pelabuhan Klas III Bajoe yang dikonfirmasi RADAR BONE membantah dugaan permainan jarak kendaraan di atas kapal feri tersebut.

Petugas Fasilitas Pelabuhan (Faspel) UPP, Hadrawi Badwi kepada RADAR BONE Selasa 21 Februari kemarin menegaskan tidak ada permainan dalam pengaturan kendaraan di atas kapal.

Pengaturan mobil di atas kapal, diakui dilakukan sesuai perosedur yang ada. Apalagi sebelum pemberangkatan kapal, kata Hadrawi bukan hanya UPP yang memeriksa kendaraan di atas kapal, tapi termasuk juga Otoritas Pelabuhan Penyeberangan (OPP). Baik dalam pemeriksaan jarak kendaraan maupun mengenai pengikatnya.

“Selama ini jarak mobil yang ada di atas kapal sesuai dengan prosedur. Tidak ada yang terlalu rapat, karena jumlah mobil yang ada dalam kapal tidak pernah melebihi kapasitas kapal,” jelasnya.

Sementara itu Kepala UPP Klas III Bajoe, Arifuddin yang berusaha dikonfirmasi tak berkantor., kemarin. Kabarnya, Arifuddin sedang keluar kota. Demikian pula saat dihubungi melalui ponselnya, Selasa 21 Februari kemarin sekira pukul 18.00 Wita dalam status tidak aktif.

To Top