UPT Bone Minta Sekolah Hindari Pungutan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

UPT Bone Minta Sekolah Hindari Pungutan

Suasana pengambilan formulir siswa baru di MAN 1 Watampone, Selasa, 30 Mei lalu.

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Potensi jual beli bangku dalam penerimaan siswa baru tingkat SMA tahun ini disikapi Unit Pelaksana Teknis Wilayah Bone Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel.
Kepala UPT Pendidikan Wilayah Bone Drs Andi Syamsu Alam, MPd juga melihat ada potensi praktik jual beli bangku, mengingat tingginya selisih angka lulusan SMP sederajat dibanding angka lulusan SMA yang mencapai 3.514 siswa.

Diakui Syamsu, setiap tahun penerimaan siswa baru selalu menimbulkan persoalan tersendiri. “Persoalan PPDB memang selalu menjadi masalah setiap tahunnya di Bone, karena jumlah lulusan SMP/MTs lebih besar daripada SMA. Akan tetapi, saya sudah koordinasi kepada sekolah agar tidak melakukan pungutan akibat kondisi yang dialami saat ini,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata pihaknya belum menerima petunjuk teknis (Juknis) terkait penerimaan siswa baru. “Kalau juknis itu sudah turun, pasti kami akan segera melakukan rapat koordinasi, untuk mensosialisasikan hal tersebut,” tuturnya.

Jika juknis sudah turun, Syamsu berjanji akan menekankan kepada semua sekolah untuk mengikuti juknis. Karena regulasi adalah sebuah aturan yang dibuat oleh pemerintah dan harus dipatuhi. “Kalau memang standarnya hanya 36 dalam setiap kelas, maka hal itu harus dipatuhi,” paparnya.

Mengenai jumlah siswa yang akan berpotensi tidak tercover, Syamsu akan mengkonsultasikannya ke provinsi. “Kita akan koordinasikan hal tersebut, karena mengingat sarana dan prasarana sekolah di Bone sangat terbatas, sehingga dibutuhkan solusi cepat untuk menyikapi persoalan tersebut,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA sederajat tahun pelajaran 2017-2018 berpotensi terjadi jual beli bangku. Betapa tidak, jumlah lulusan SMP/MTs tahun pelajaran 2016-2017 lebih besar daripada jumlah lulusan SMA/SMK/MA atau siswa yang tamat.

Berdasarkan data yang dihimpun RADAR BONE, jumlah lulusan SMP/MTs tahun ini sebanyak 12.931 siswa. Ini terbagi atas SMP 9.164 siswa, MTs 3.767 siswa. Sedangkan jumlah lulusan SMA hanya 9.417 orang. Berasal dari SMA 5.723 siswa, SMK 1.796 siswa, dan Madrasah Aliyah (MA) 1.898 siswa. Dengan demikian terdapat selisih sebanyak 3.514 siswa, atau yang terancam tidak terakomodir di SMA sederajat karena tidak kebagian kursi.

Apalagi, di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), pada Bab V, Pasal 24 ditegaskan, jumlah peserta didik dalam satu rombongan belajar pada tingkat SMA paling sedikit 20 peserta didik dan paling banyak 36 peserta didik. Sedangkan tingkat SMK paling sedikit 15 peserta didik dan paling banyak 36 peserta didik. Jika hal itu diikuti oleh sekolah, maka bisa dipastikan banyak lulusan SMP/MTs yang tidak tercover di SMA dan sederajat.

Jika hal itu dipaksakan, maka praktik jual beli mobiler tak terhindarkan. Pasalnya, jika tak ada penambahan mobiler, maka siswa baru berpotensi belajar melantai alias tak memiliki bangku.

*

To Top