UPT Perintahkan Kembalikan Bantuan Siswa – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

UPT Perintahkan Kembalikan Bantuan Siswa

Dugaan Pemotongan Dana PIP di SMAN 2 Watampone

PENULIS : RISNAWATI

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel menegaskan pemotongan bantuan dana Program Indonesia Pintar (PIP) adalah pelanggaran. Karenanya pihak sekolah yang melakukan hal itu diminta segera mengembalikannya.

Penegasan ini disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Wilayah Bone Dinas Pendidikan Sulsel, Drs Andi Syamsu Alam, MPd saat dikonfirmasi terkait dugaan pemotongan dana PIP siswa SMA Negeri 2 Watampone. Syamsu

Dia menyatakan tidak dibenarkan tindakan pemotongan dana PIP tersebut.”Hal itu tidak boleh dilakukan, dan itu dilarang. Kalau memang hal itu terjadi, maka pihak sekolah harus mengembalikan bantuan itu kembali kepada siswa.  Itu tidak dibenarkan,” tegas Syamsu.

Akademisi, Yusdar A Matareng juga menyayangkan terjadinya pemotongan dana PIP tersebut.
“Semestinya tidak ada hal seperti itu terjadi. Dan pihak pimpinan dalam hal ini kepala sekolah maupun wakilnya, idealnya mengetahui hal tersebut. Inikan sifatnya pengaduan siswa,” kata Yusdar.

Lebih jauh Yusdar mengatakan bisa saja siswa patungan mengeluarkan biaya transport dari dana PIP yang diterima.
Hanya saja, lokasi SMA Negeri 2 Watampone yang berada di wilayah kota, sambung Yusdar sulit dikategorikan sebagai biaya transport. Karenanya, pemotongan dana PIP milik siswa harus dijelaskan peruntukannya.

“Andaikan saja sekolah ini (SMAN 2 Watampone) berada di luar kota. Bisa saja, potongan yang Rp50 ribu itu semacam biaya transport dalam arti kata siswa yang menerima dana patungan beli bensin difasilitasi oleh TU. Tapi ini kan di kota, jadi saya kira tidak masuk kategori kalau dikatakan itu transport,” ungkap Yusdar.

Karenanya, Yusdar meminta pihak sekolah segera menghentikan tindakan pemotongan tersebut.
“Hal ini tidak boleh ada pembiaran. Mesti ada tindakan sehingga hal ini tidak terjadi lagi,” imbuhnya.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Bone, A Saipul juga mengecam dugaan pemotongan dana PIP di SMA Negeri 2 Watampone tersebut. “Dari aturannya saja, siswa harus menerima langsung dananya di bank. Itu menunjukkan, bahwa dana itu tidak boleh dipotong.

Jadi, apapun namanya mau siswa yang menyetor karena diperintah atau dipotong oknum, itu tetap tidak boleh. Ini perlu diusut,” kata Saipul.

Politisi PPP ini menegaskan Program Indonesia Pintar adalah salah satu program nasional (tercantum dalam RPJMN 2015-2019) yang bertujuan untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah.
Selain itu untuk meningkatkan angka keberlanjutan pendidikan yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah.

Lanjut dia, Program Indonesia Pintar melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) adalah pemberian tunai pendidikan kepada seluruh anak sekolah usia 6-21 tahun yang menerima KIP, atau yang berasal dari keluarga miskin dan rentan, misalnya dari keluarga atau rumah tangga pemegang kartu keluarga sejahtera (KKS).

PIP merupakan bagian dari penyempurnaan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) sejak akhir 2014.
“Program ini dulunya bernama bantuan siswa miskin. Jadi, cukup keterlaluan jika masih dilakukan pemotongan,” jelasnya Saipul seraya menegaskan segera membahas persoalan ini di internal komisi.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa penerima PIP di SMA Negeri 2 Watampone mengeluhkan pemotongan dana PIP sebesar Rp50 ribu. Pemotongan bantuan PIP itu dilakukan pada saat siswa mencairkan dana di bank, yang diduga kuat dikoordinir oknum pegawai Tata Usaha SMAN 2 Watampone.

Salah seorang siswa penerima bantuan PIP di SMAN 2 Watampone berinisial IA mengakui adanya pemotongan sebesar Rp50 ribu saat mencairkan dana PIP di bank penyalur dalam hal ini Bank BNI.

“Kami juga tidak tahu apa alasan pihak TU melakukan pemotongan terhadap bantuan PIP yang kami terima. Saya terima di bank Rp1 juta, setelah saya terima, Rp50 ribu kami disuruh kumpul di bagian TU,” ungkapnya.

IA membeberkan jumlah siswa yang menerima bantuan PIP di sekolahnya sekira 100 siswa. Dijelaskan IA, modus pemotongan, yakni setelah siswa selesai mencairkan dana PIP, oknum pegawai Bagian TU yang mendampingi berinisial AG mengarahkan siswa untuk menyetor uang sebesar Rp50 ribu ke bagian TU.

Di tempat itulah, sambung IA menunggu seorang yang akan menerima dana tersebut. “Tapi pintarnya, di sini dia perintahkan siswa untuk kumpulkan uang itu,” ungkapnya.

Pemotongan bantuan PIP yang dilakukan oleh bagian TU kata IA bukan cuma kali ini terjadi, melainkan setiap ada pencairan dana PIP di bank. “Baru lucunya, setiap kami melapor ke pihak sekolah, siswa tidak pernah direspon,” katanya.

“Saya tidak sendiri mengalami hal ini, semua teman-teman saya penerima bantuan PIP mengalami hal yang serupa,” tambahnya.

Hal yang sama dialami penerima PIP lainnya, SN. SN mengakui dirinya sudah beberapa kali diminta menyetor Rp50 ribu ke bagian TU. “Kami juga tidak tahu apa alasan pihak sekolah melakukan hal itu,” ungkap SN.

Click to comment
To Top