Wah Ada Apa Yah, Warga Gattareng Ramai-ramai Pindah Domisili – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wah Ada Apa Yah, Warga Gattareng Ramai-ramai Pindah Domisili

1-Warga Dusun Patironge, Desa Gattareng, Kecamatan Salomekko yang memilih pindah domisili ke Dusun Bempesu, Desa Kalero, Kecamatan Kajuara. Mereka menyatakan menolak pemecatan imam dusun tanpa alasan yang jelas.

PENULIS : HERMAN KURNIAWAN

WATAMPONE, RB—Sedikitnya 30 warga Dusun Patirongnge, Desa Gattareng, Kecamatan Salomekko memilih pindah ke desa tetangga. Ini lakukan sebagai bentuk penolakan atas pemecatan iman dusun setempat yang dinilai tanpa alasan jelas. Sebanyak tujuh kepala keluarga warga Dusun Patirongnge, Desa Gattareng, Kecamatan Salomekko menyatakan pindah kependudukan ke Dusun Bempesu, Desa Kalero, Kecamatan Kajuara. Mereka menyatakan pindah desa karena tak terima imam dusunnya dipecat secara semena-mena.

Keputusan pemecatan itu disebut-sebut atas perintah dari Kepala Desa Gattareng, Andi Muhammad Takwa. Kades diduga memerintahkan Imam Desa, Abd Halim memecat Imam Dusun, Mustamin tanpa ada alasan jelas.
Mantan Imam Dusun, Mustamin yang belum lama ini diberhentikan mengatakan, alasan pemberhentian dirinya sebagai imam dusun tidak jelas. Lanjut dia, hanya imam desa yang mendatangi di rumahnya kemudian menyampaikan, bahwa kepala desa meminta dirinya untuk tidak lagi menjadi imam dusun.

“Tidak pernah ada masalah. Selama ini setiap tiba waktu shalat, saya yang pimpin, Begitu juga hari Jumat serta mendampingi warga untuk mengurus administrasi pernikahan di KUA,” bebernya saat ditemui RADAR BONE, Sabtu 21 Januari lalu.

Mustamin menambahkan selama ini dirnya tidak pernah terlibat permasalahan dengan warga maupun pemerintah desa. “Itu juga yang membingungkan, karena sudah satu tahun saya ditunjuk sebagai imam dusun semenjak imam sebelumnya me-ninggal. Tiba-tiba datang imam desa mengatakan mulai saat ini berhenti maki jadi saksi pernikahan. Pak desa yang minta,” jelas Mustamin menirukan ucapan imam desa.

Semenjak ada pemberitahuan imam desa seperti itu, Mustamin pun memilih untuk tidak mengurus persoalan pernikahan warga dan tugas-tugas imam lainnya. Meski begitu dia tetap rutin ber-ibadah secara berjamaah di masjid. “Biasa ada warga datang mau urus pernikahan atau hal lain, namun saya minta langsung ke imam desanya saja,” katanya.

Mustamin juga mengaku telah memutuskan untuk pindah domisili dengan alasan tidak bisa berada di bawah kepemimpinan Kepala Desa Gattareng. “Saya telah pindah domisili. Ini sebenarnya kami lakukan supaya tidak ada ribut-ribut dengan pemerintah. Jadi saya bersama keluarga lain memilih pergi daripada tinggal memperdebatkan masalah ini,” terangnya.

Seorang warga yang ikut pindah, Guntur saat ditemui mengatakan semua warga yang pindah beralasan tidak terima dengan tindakan sepihak yang dilakukan kepala desa bersama dengan imam desa yang memecat imam dusun.“Alasannya pindah domisili cuma satu, kami tidak terima imam dusun yang setiap hari memimpin kami beribadah dipecat tanpa ada alasan yang jelas,” katanya.

Guntur memastikan warga yang pindah akan terus bertambah.“Masih ada yang mau pindah. Sudah ada delapan KK yang mengatakan mau pindah. Dalam waktu dekat juga akan mengurus administrasi kependudukannya,” ujarnya.
Guntur menambahkan, keputusan pindah desa ini dilakukan warga murni karena cara kepemimpinan kepala desa yang tidak mengedepankan cara musyawarah. “Keputusan selalu diambil kepala desa secara sepihak. Saya kira ini tidak ada kepentingan pemilihan desa, karena pemilihan di sini (Gattareng) dilakukan tahun lalu. Dan waktu itu pak Mustamin sudah ditunjuk oleh imam desa,” jelasnya.

Warga lainnya yang ikut pindah domisili adalah Arifin. Arifin mengatakan Kepala Desa Gattareng, Andi Muhammad Takwa bahkan secara terang-terangan menantang warga untuk pindah desa. “Bahkan pak desa sendiri mengumumkan di masjid. Mengatakan kalau mau pindah domisili silahkan saya siap menguruskan biar mau sampai ke Malaysia, atau ke Kalero. Itu disampaikan setelah dia mengetahui kami akan pindah karena imam dusun diberhentikan,” kata Arifin.

Arifin menambahkan, sejak imam dusun diberhentikan, warga yang menunaikan shalat di masjid menurun drastis.“Sekarang antusiasme warga ke masjid tidak sama seperti masih ada imam dusun. Sekarang paling satu dua orang saja datang shalat berjamaah,” tambahnya.

Ditambahkan warga, bahwa Takwa bukan kali ini mendapat protes warga. Namun pernah juga saat dia menjahat kades sebelumya di Bellu. Imam Desa, Abd Halim yang dihubungi via sambungan telepon membantah telah memecat imam dusun.“Bukan dipecat, hanya pe-ringatan. Dan dinonaktifkan mendampingi pengantin,” katanya.
Hanya saja, Abd Halim enggan membeberkan alasan imam dusun dilarang mendampingi pengantin atau menjadi saksi pengantin.“Pak desa yang minta,” tandas Halim. Kepala Desa Gattareng, Andi Muhammad Takwa yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon membenarkan adanya warga yang pindah desa.

“Memang ada yang pindah ke Desa Kalero Kecamatan Kajuara. Mereka yang minta makanya kami fasilitasi. Kalau persoalan alasan, ada yang mengatakan mengikuti keluarga dan ada juga karena imam dusun diberhentikan,” katanya.

Takwa mengaku tidak tahu menahu persoalan pemberhentian imam dusun. Karena sepenuhnya merupakan wewenang imam desa.“Tidak benar itu kalau saya yang berhentikan. Itu wewenang imam desa,” tambahnya.
Takwa mempersilakan war-ganya yang sudah tidak betah tinggal di Desa Gattareng untuk pindah ke desa lain. “Kalau ada warga tidak betah tinggal di Desa Gattareng silakan pindah. Bahkan saya uruskan proses pemindahannya,” kunci Takwa menantang warga.

Sejauh ini sudah tujuh kepala kepala keluarga (KK) warga Desa Gattarengi pindah kependudukan ke Dusun Bempesu, Desa Kalero, Kecamatan Kajuara sejak beberapa bulan terakhir.

 

To Top