Wah Dishub Bone Didera Isu Pungli. Di karcis Tertulis Rp1.000, Supir Bayar Rp3.000 – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wah Dishub Bone Didera Isu Pungli. Di karcis Tertulis Rp1.000, Supir Bayar Rp3.000

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Dugaan pungutan liar terjadi pada penarikan retribusi terminal. Supir angkutan kota atau angkutan desa dimintai pembayaran jauh di atas ketentuan peraturan daerah. Berdasarkan pantauan RADAR BONE di titik penarikan retribusi terminal di poros Bone-Sinjai, tepatnya di Pallengoreng, Minggu, 10 September lalu menemukan supir membayar lebih kepada petugas Dinas Perhubungan yang menarik retribusi kepada supir angdes atau angkot.

Tak hanya itu, sopir tak diarahkan melewati jalur khusus (Pallengoreng) menuju Terminal Tipe C. Melainkan supir angdes bebas menerobos masuk ke dalam kota.

Salah seorang supir angdes, Edi menuturkan dirinya tidak pernah melalui jalur Pallengoreng atau menuju ke Terminal Tipe C, melainkan hanya jalur menuju ke kota.

“Saya sudah tiga tahun sebagai supir angkutan tidak pernah melewati jalur itu (Pallengoreng). Saya selalunya lewat jalur ke kota, yakni depan SMAN 2 Watampone. Saya hanya bayar Rp3 ribu saja sebagai pajak jalan namanya,” ungkap Edi saat ditemui RADAR BONE, Senin, 11 September lalu.

Supir angkot lainnya, H Sanu juga mengakui dengan membayar Rp3 ribu kepada petugas dishub, dirinya bisa lolos masuk ke kota.

“Kalau lewat di situ hanya bayar Rp3 ribu saja, dan saya selalunya lewat depan SMA 2 Watampone,” bebernya.
Meski mereka tahu membayar lebih dari ketentuan yang diatur dalam peraturan daerah (Perda), supir tak mau ambil pusing.

“Kami bayar Rp3 ribu setiap kali melewati jalan Pallengoreng, tapi yang tertulis dikarcisnya itu hanya Rp2 ribu saja, tapi kami tidak protes, yah tidak mau ambil pusing,” ungkap Jusman, sopir angkot yang ditemui RADAR BONE, Rabu, 13 September lalu.

Supir angkot lainnya, Miha pun mengaku setiap hari diminta membayar retribusi terminal sebesar Rp3 ribu.
“Saya juga membayar Rp3 ribu, akan tetapi di karcisnya tertulis Rp2 ribu,” bebernya.

Sesuai tulisan yang tertera pada karcis yang diterima supir, kewajiban membayar retribusi terminal diatur dalam Perda Nomor 03 Tahun 2011. Dimana di karcis besaran retribusi terminal tertulis cuma Rp1.000.
Hal ini juga diakui Bendahara Penerima PAD Dinas Perhubungan Kabupaten Bone, Sulaeman M kepada RADAR BONE, Rabu, 13 September lalu.

“Retribusi terminal untuk angkot itu bayarnya hanya Rp1.000,” tegas Sulaeman.  Ditambahkan Sulaeman, di Bone terdapat tujuh titik penarikan retribusi terminal. Setiap titik, kata dia diberi target perhari. Hanya saja, kata Sulaeman jarang sekali penerimaan retribusi terminal dari setiap titik tersebut mencapai target.

Sulaeman mencontohkan, titik Pellengoreng ditarget Rp300 ribu, Pattiro Rp40 ribu, Jl Bajoe Rp60 ribu, Jl Pallette Rp10 ribu, Jl Wajo Rp200 ribu, Palakka Rp150 ribu, dan Tirong sebanyak Rp20 ribu. “Akan tetapi mereka jarang mencapai target.

Kemudian setoran mereka perminggu bukan perhari,” urai Sulaeman seraya membeberkan, setoran retribusi terminal pada tanggal 4 September lalu hanya Rp2.170.000.

Padahal sejatinya setoran yang masuk berdasarkan target di atas sebesar Rp5.460.000, atau Rp780.000 perhari.
Dengan kondisi ini, penarikan retribusi terminal tidak hanya sarat dugaan pungli, tapi juga kebocoran.

Salah satu petugas pos retribusi terminal di Pallengoreng yang ditemui RADAR BONE, Rabu, 13 September lalu memperlihatkan karcis yang diberikan kepada supir cuma tertulis Rp1.000. Tapi kenyataannya setiap angkot yang lewat tetap membayar Rp3 ribu.

“Khusus untuk angkot atau angkutan umum itu Rp1.000, dan pengangkut barang atau pick up itu Rp2.000, dan mobil enam roda Rp5.000,” tutur Sofyan, Koordinator titik Pallengoreng.

Sofyan mengatakan pihaknya menarik retribusi sebesar Rp3.000 kepada supir karena ia memberikan sekaligus tiga lembar karcis.

“Setiap angkot bayarnya Rp3.000, dan dikasi karcis tiga lembar bersamaan,” dalihnya. Namun ironisnya, supir yang ditemui mengaku cuma menerima selembar karcis. Bahkan, kadang-kadang tak diberi karcis. Yang menarik, supir tetap membayar setiap hari dengan nominal yang sama, yakni Rp3.000 per karcis.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Bone, H Kaharuddin menyayangkan adanya dugaan pungutan liar retribusi terminal oleh oknum petugas dishub. Komisi III, kata Kahar uddin siap menghearing dishub jika betul adanya pungutan di luar ketentuan yang memberatkan para supir angkot dan angdes.

“Harusnya sesuai aturan, apa yang tertera di karcis itu yang dibayar. Kalau supir diminta bayar lebih, itu yang tidak benar. Sudah masuk kategori pungli,” jelasnya.

Kahar menyarankan agar supir berani melapor ketika dipersulit petugas dishub.
“Karena kita tidak bisa tegasi kalau tidak ada bukti kuat adanya pungli itu, dan praktik seperti ini harus dihentikan,” tutupnya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top