Wah, Lahan Bakau di Bone Diduga Diperjualbelikan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wah, Lahan Bakau di Bone Diduga Diperjualbelikan

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Hutan mangrove di Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone terancam beralih fungsi. Lahan bakau diduga sudah dikapling untuk kawasan permukiman. Aksi pengrusakan pohon pun tak terhindarkan.

Kawasan hutan bakau ini berada di pesisir pantai terletak Dusun Pacciring Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone.
Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE di lokasi tersebut, Sabtu, 5 Agustus lalu, ditemukan infrastruktur jalan sudah dibangunmenuju kawasan hutan bakau tersebut.

Informasi yang diperoleh dari warga setempat menyebutkan lahan di kawasan hutan bakau tersebut diduga sudah diperjualbelikan. “Setahu saya itu sudah dijual. Harganya kalau tidak salah Rp45 juta,” ujar pria berinisial FM, warga seorang setempat yang ditemui RADAR BONE, Sabtu, 5 Agustus lalu.

Pria ini menambahkan kawasan lahan mangrove yang sudah dilengkapi akses jalan ini sudah bertuan.
“Masing-masing tanah di situ (Hutan Mangrove) sudah ada yang punya, tapi tidak tahu siapa orangnya,” katanya.Warga setempat lainnya, DN mengatakan aktivitas pembangunan di sekitar hutan bakau bermula setahun yang lalu.

Dia mengakui pernah melihat langsung sejumlah orang yang diduga pembeli lahan dan memangkas pohon bakau tersebut.

Aktivitas pembabatan hutan bakau tersebut tidak berlangsung lama. “Pernah saya lihat warga membersihkan hutan bakau itu, tapi sebentar saja. Saya kira mau bangun rumah tapi tidak pernah lagi muncul,” bebernya.

Dugaan jual beli lahan mangrove dan pengrusakan pohon tersebut mendapat perhatian publik.
Salah seorang Aktivis Lingkungan, Umar mengatakan dirinya mengecam pengrusakan hutan mangrove dimaksud.

“Itu adalah pelanggaran keras karena pembabatan mangrove dengan berbagai alasan jelas melanggar ketentuan perundangan-undangan. Pada Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, di antaranya diatur larangan penebangan pohon di wilayah 130 kali jarak pasang laut terendah dan pasang laut tertinggi,” jelasnya.

Tak hanya itu, pohon bakau di Desa Kajuara, Kecamatan Awangpone ditanam sebagian oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone.

“Sebagian ditanam tahun 2014 dan 2015,” ujar Jamaluddin ST, MT, Kabid Pengembangan Kapasitas dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone melalui pesan singkat, kemarin.
Kepala Desa Kajuara, Mastiati yang dikonfirmasi mengatakan kawasan hutan mangrove tersebut bukan hutan lindung, melainkan lahan milik pribadi.

“Di Kajuara tidak ada hutan lindung. Pohon mangrove itu saya yang tanam sendiri. Tanah juga ada sertifikatnya. sejak puluh tahun lalu,” jelas Mastiati saat menghubungi RADAR BONE malam tadi. Lebih jauh dijelaskan, hutan mangrove dimaksud tak berada di pesisir pantai, melainkan di pinggir sungai. Dia mengakui memiliki lahan seluas 4 hektar yang berada di pinggir empang. “Tiga sudah dikapling dan ditimbun untuk bangun masjid,” kuncinya.

*

To Top