Wah Rekruitmen Panwascam di Bone Diduga Sarat Permainan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wah Rekruitmen Panwascam di Bone Diduga Sarat Permainan

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Panitia pengawas kecamatan (Panwascam) merupakan ujung tombak pengawasan pemilukada di tingkat bawah. Hanya sayangnya, perekrutan personel panwascam terkesan tidak dilakukan secara profesional.

Pasca pengumuman nama-nama peserta yang dinyatakan lolos seleksi tertulis anggota panwascam, Panwaslu Kabupaten Bone menuai sorotan. Pasalnya, pelaksanaan ujian tertulis terkesan hanya formalitas belaka. Ini diperkuat dengan skor hasil ujian peserta yang tak dibuka ke publik. Tak adanya keterbukaan skor hasil ujian makin menguatkan dugaan kongkalikong dalam seleksi tertulis rekruitmen panwascam tersebut.

“Hasil ujian panwaslu kabupaten saja, skornya diumumkan melalui online. Kok ini tidak. Jadi, kami sebagai peserta tidak tahu, apakah nilai kami rendah, atau orang-orang terdekat saja yang diloloskan karena sedianya diumumkan siang, tapi molor sampai sore. Ada apa?,” kata A Kasna, salah satu peserta seleksi panwascam kepada RADAR BONE, Senin, 2 Oktober kemarin.

Parahnya lagi, sambung dia, pelaksanaan ujian tertulis bak kerja kelompok, dimana beberapa peserta bebas bekerja (saling nyontek) tanpa ada teguran dari panitia. Peserta juga bebas membuka handphone. “Padahal di situ juga ada bawaslu provinsi hadir, tapi terkesan dibiar-biarkan,” beber Kasna.

Selain pelaksanaan ujian tertulis yang dinilai amburadul, sejumlah peserta yang lolos ditengarai tercatat sebagai pendamping di beberapa tempat, seperti pendamping desa, pendamping koperasi dan pendamping Tarkim. Posisi sebagai pendamping dinilai sulit untuk melaksanakan tugas secara all out karena memiliki tanggungjawab lain.

Sorotan serupa datang dari peserta lainnya. Henra yang mengikuti ujian tertulis di Gedung I Aula Ponpes Al Junaidiyah Biru menyayangkan sikap panwaslu yang terkesan menutupi skor hasil ujian. “Kalau ada peserta lihat HP saat ujian, itu kembali ke personal peserta. Saya hanya sayangkan panwas kabupaten tidak keluarkan bobot nilai dari hasil tes tertulis itu,” ujar Henra.

Pengamat politik, Ali Anas, SSos, MSi mengatakan hasil seleksi panwascam yang disorot publik menunjukkan ketidaksiapan panitia dalam hal ini panwaslu.

“Ada dua hal yang perlu diwarning, pertama ini menyangkut kesiapan taknis panitia seleksi yang mencerminkan ketidaksiapan sehingga ruangan yang di sediakan berdesakan, sehingga sulit bagi panitia untuk mengontrol jalannya tes, efeknya tentu pada penetapan kelulusan akan merugikan peserta yang ikut seleksi.

Kedua, peserta tidak siap bersaing secara fair untuk menduduki panitia panwas, walaupun pada dasarnya panwas bekerja nantinya sesuai dengan pedoman, nah seleksi itu dilakukan untuk merekrut panwas yang berintegritas sehingga mampu mengawal pemilu secara maksimal,” ujar Ali Anas saat dihubungi RADAR BONE, Senin, 2 Oktober kemarin.

Ali Anas menilai panwaslu terkesan hanya memenuhi kewajiban saja dalam melaksanakan seleksi panwascam, namun diduga mengabaikan hasil yang diperoleh, yakni berupa keanggotaan panwascam yang kredibel.

“Ini terkesan formalitas saja, padahal tahapan itu sangat dibutuhkan untuk menyeleksi kader yang berintegritas tinggi, tapi jika proses seleksi saja kacau bukan kemampuan yang dicari tapi sekadar memenuhi kuota per kecamatan. Sehingga dalam bekerja ke depannya tidak ada output seperti yang diharapkan, yakni pemilu yang jujur, adil, dan rahasia. Kalau panwas tidak berintegritas, maka proses pengawasan tidak akan maksimal,” jelasnya.

Ali Anas menegaskan, panwaslu tidak boleh menganggap sepele perekrutan panwascam. “Panswaslu jangan main-main dengan dengan seleksi ini (Panwascam). Mereka adalah adalah ujung tombak pengawasan. Jika dari proses rekruitmen saja sudah terkesan kacau, akan menjadi preseden buruk ke depan,” tegas dosen tersebut.

Ketua Panwaslu Kabupaten, Hj Jumriah, SPd yang dikonfirmasi RADAR BONE, tak manampik adanya kerjasama peserta (saling nyontek) dalam pelaksanaan ujian tertulis seleksi panwascam. Hal ini terjadi, kata Jumriah karena panitia kewalahan dengan jumlah peserta yang cukup banyak.

“Ini memang perlu kami klarifikasi kejadiannya bukan diawal tapi nanti pada saat habis waktu, kemudian panitia menyampaikan bahwa harus dikumpul semua. Maka disitulah terjadi ada peserta yang memanfaatkan nyontek, jadi situasi akhir ujian yang sudah habis waktu, kemudian peserta mengumpulkan pekerjaannya. Peserta ujian sebenarnya 280 orang, sementara panitia hanya enam orang, jadi memang tidak seimbang tapi itulah karena personel bawaslu terbatas.” jelas Jumriah.

Jumriah juga menegaskan pihaknya sudah memperingatkan kepada peserta di awal ujian untuk tidak bekerjasama dan membawa handphone masuk ke arena ujian. “Tapi diawal kegiatan bawaslu provinsi, sudah menyampaikan tata tertib dan kami menyaksikan mulai awal sampai akhir peserta mengerjakan soal dengan tenang,” tambah Jumriah.
Namun demikian, dari kejadian ini, kata Jumriah akan menjadi pelajaran bagi pihaknya untuk lebih baik ke depan.

“Yang terjadi pada saat ujian tertulis itu menjadi masukan bagi kami panwaslu, untuk lebih baik ke depannya. Dan kami berharap semua masyarakat untuk pro aktif memberikan masukan dan mengawal pemilukada ini,” pungkasnya.

Diketahui pendaftar panwascam sebanyak 503 orang. Namun yang hadir ikut ujian tertulis cuma 479 orang. Ujian tertulis dihelat di dua tempat, yakni Aula Pesantren Biru dan Aula PGSD UNM pada Rabu, 27 September. Kemudian peserta yang lolos seleksi diumumkan, Kamis, 28 September lalu. Hasilnya, sebanyak 81 peserta dinyatakan lolos untuk mengisi panwascam yang tersebar di 27 kecamatan.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top