Wajo ‘Dikepung’ Banjir – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wajo ‘Dikepung’ Banjir

Warga di Kecamatan Tanasitolo terpaksa memanen padinya menggunakan perahu, akibat lahan pertanian mereka tergenang air danau tempe. Gambar direkam Kamis 21 April

Lima Desa Terancam Gagal Panen

SENGKANG, RB–Banjir yang mengguyur Kabupaten Wajo sejak beberapa hari terakhir, mengakibatkan Danau Tempe meluap dan menggenangi beberapa wilayah di sepanjang aliran Sungai Walannae.
Banjir juga menggenangi sejumlah wilayah di Siwa, dan sempat melumpuhkan arus lalulintas, dikarenakan air menggenangi jalan protokol di wilayah itu.
Selain itu, lima desa yang ada di Kecamatan Tanasitolo, juga terancam gagal panen, akibat lahan persawahan terendam air.
Kelima Desa yang terendam luapan air tersebut, masing-masing Desa Mappadaelo, Desa Cendaranae, Desa Pinceng Pute, Desa Mannagae dan titik terparah berada di Desa Loa.
Seorang petani yang ditemui, Andi Erna mengaku, sejak empat hari terakhir, air kedua sungai (Sungai Walannae dan Sungai Loa), meluap ke lahan persawahan. Selain tanaman padi yang rusak, warga kata dia, juga kesulitan mengangkut hasil panen karena terkendala akses.
“Kami berhatap pemerintah daerah segera turun tangan, agar warga tidak mengalami kerugian yang lebih besar,” ujarnya.
Petani lainnya, Samsu mengaku, dasar sungai Walennae dan Loa yang semakin dangkal, menjadi penyebab air mudah meluap ke lahan persawahan. Sebagian warga kata dia, terpaksa hanya menyewa perahu untuk menyelamatkan padi yang tersisa sebelum membusuk.
“Kita meminta pemerintah segera melakukan revitalisasi kedua sungai tersebut. Agar warga tidak lagi mengalami banjir di musim berikutnya. Tolong diperhatikan nasib warga di 5 desa ini,” pungkasnya.
Disamping itu, Warga yang berdominsili di bantaran Sungai Walannae mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih. Khususnya warga yang bermukim di Kelurahan Laelo yang merupakan wilayah yang berdekatan langsung dengan Danau Tempe.
Salah seorang warga Kelurahan Laelo, Baharuddin mengaku, warga kesulitan mendapatkan air bersih, akibat luapan air Danau Tempe yang memasuki pemukiman mereka.
“Kebutuhan mendadak saat ini adalah air bersih. Selama ini, kami mengkonsumsi air keruh pak. Kalau terus-terus begini, bisa dibayangkan penderitaan warga,” keluhnya kepada RADAR BONE, Kamis 21 April kemarin.
Sejauh ini kata dia, belum ada warga yang mengungsi, meski ketinggian air sudah menghampiri lantai rumah panggung warga.
“Kalau dilokasi saya, ketinggian air masih tergolong rendah. Baru sekitar 50 sampai satu meter. “Yang parah itu di Barru Orai. Ketinggian air sudah mendekati lantai rumah warga,” imbuhnya.
Warga lanjut dia, juga dihadapkan pada penyakit yang diakibatkan banjir.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wajo, Alamsyah menegaskan, pihaknya sudah menerjunkan tim
reaksi cepat penanggulangan bencana, untuk melakukan investigasi lokasi terdampak banjir tersebut.
“Kita bahkan pihaknya sudah menyiapkan perahu karet, untuk mengunsikan warga,” imbuhnya.
Alamsyah menyebutkan, ada 4 lokasi yang terparah digenangi air yakni Kelurahan Laelo, Kelurahan Salomenraleng, Kelurahan Mattirotapparen dan Kelurahan Watanglipue.
“Selain itu, ada 5 desa di Kecamatan Tanasitolo yang ikut terendam banjir. “Terkhusus untuk Desa Lowa, sudah kita koordinasikan dengan kepala desa setempat, jika masih membutuhkan perahu karet akan segera kami tindaklanjuti,” imbuhnya.
Selain itu, banjir lanjut dia, juga menyebabkan tanggul jebol di kawasan Salompare, Kelurahan Belawa, Kecamatan Belawa, Kamis 21 April kemarin. “Akibat jebolnya tanggul di Salompare Belawa, sedikitnya tiga desa dan kelurahan serta ratusan hektar lahan pertanian dan pemukiman warga ikut terendam banjir. Luas kerusakan pada tanggul Salompare diperkirakan selebar 40 meter,” kuncinya.

rusmansyah/usmansommeng

To Top