Warning Bagi Pemerintah Daerah – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Warning Bagi Pemerintah Daerah

Drs A Akbar Yahya MM

BNN Temukan 8 Kg Sabu Di Sibulue

WATAMPONE, RB–Pengungkapan kasus sabu seberat 8 kg oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat di Dusun Pakkalenna, Desa Pattiro Sompe Kecamatan Sibulue, Sabtu 9 April lalu menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, terkhusus aparat penegak hukum bekerja lebih maksimal. Buktinya, sabu dalam jumlah besar berhasil lolos masuk ke Bone.
Ketua DPRD Bone, Drs Andi Akbar Yahya, MM menyatakan terbongkarnya kepemilikan sabu yang merupakan terbesar kedua di Sulsel, setelah penemuan 10 kg sabu di Parepare beberapa waktu lalu harus menjadi warning bagi semua stake holder di daerah ini. Betapa tidak, kata Akbar, narkoba merusak generasi muda hingga ke pelosok desa. “Menjadi warning bagi kita semua. Ini tidak bisa dibiarkan. Untungnya sabu 8 kg itu masih bisa setop (Ditemukan BNN), tapi tidak menutup kemungkinan masih yang lain di luar sana. Mungkin jumlahnya kecil-kecil, tapi jika itu akumulasi tentu menjadi besar. Jadi, saya kira menjadi tugas kita semua. Dari atas sampai bawah, termasuk masyarakat untuk memerangi narkoba,” tutur Akbar Yahya saat ditemui RADAR BONE di sela pencanangan kabupaten sehat di gedung PKK, Senin 11 April kemarin.
Lebih jauh Mantan Ketua KNPI Bone itu menegaskan, semua pihak harus bersinergi untuk melawan narkoba yang masuk hingga ke pelosok. Selain penegakan hukum yang dimaksimalkan. Yang tak kalah pentingnya untuk digiatkan, kata Akbar adalah langkah preventif. Langkah preventif perlu ditingkatkan, sehingga narkoba tidak merusak generasi muda di daerah ini. Sejatinya, pemerintah daerah juga mendorong aparat penegak hukum untuk bekerja lebih maksimal, sehingga sepak terjang bandar bisa dihentikan.
Penemuan sabu seberat 8 kg di Sibulue sejatinya memang menjadi peringatan keras bagi aparat di daerah ini. Kasus ini membuktikan, bahwa sabu-sabu sudah sangat banyak beredar di Bone. Ini sekaligus membuktikan, banyaknya bandar besar bermain di daerah ini. Sejauh ini, yang berhasil ditangkap penegak hukum lebih banyak berstatus pemakai dan kurir kecil. Dari investigasi yang dilakukan dan informasi yang dikumpulkan di lapangan, ada 10-an bandar. Hanya saja, tidak tersentuh aparat, termasuk diduga ada salah seorang bandar di sekitar Jl Bhayangkara. Petugas diduga mengetahui ini, tapi tidak mampu meringkusnya. Walaupun sering berintraksi. “Sebenarnya masyarakat sudah lama bertanya-tanya soal bandar besar yang belum tertangkap. Karena selama ini yang tertangkap hanya kalangan pemakai dan kurir kecil saja. Dengan turunnya BNN langsung menemukan sabu dalam jumlah besar patut diapresiasi. Sebenarnya memang harus seperti ini sistemnya. Misalnya di Bone, penyidik dari luar masuk. Begitupula jika kasusnya di Wajo, penyidik dari Bone atau dari daerah lain yang tangani. Bukan kita tidak percaya polisi setempat, tapi kan sindikat itu selalu berupaya bekerjasama dengan petugas setempat. Makanya diperlukan sistem silang. Dan polda bisa mengkoordinir ini,” beber Ali Imran, SH, Koordinator Watampone Anti Corruption saat dihubungi RADAR BONE, Minggu 10 April lalu.
Yang lebih parah lagi, bandar kakap yang berhasil ditangkap Polres Bone beberapa waktu lalu (DPO Polres Bulungan), Saddang, dikabarkan sudah bebas. Walaupun kepastian itu belum didapatkan, karena kesulitan mengakses ke Polres Bulungan. Namun kabar bebasnya Saddang sudah menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Adapun Nursalam (43) alias Allang yang tertangkap tangan membawa sabu 2 kg yang disebut-sebut milik Saddang di Bulungan, Kalimantan Utara telah divonis 16 tahun penjara. Allang berhasil lolos dari tuntutan JPU yang menuntut hukuman mati. Yang juga mengundang pertanyaan publik adalah aset-aset milik Saddang yang disita polisi beberapa waktu lalu. Mulai rumah, tanah, perhiasan emas, motor hingga mobil mewah, tak jelas kelanjutan. Mobil jenis rubicon dan kendaraan lainnya kini tak diketahui rimbanya.

askarsyam/usmansommeng

To Top