Waspada Travel Nakal, Korban Umrah Bermunculan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Waspada Travel Nakal, Korban Umrah Bermunculan

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Satu persatu korban promo umrah murah bermunculan di daerah ini. Kali ini giliran warga Kelurahan Lonrae dan Desa Samaenre angkat bicara terkait ulah travel nakal. Penelusuran yang dilakukan RADAR BONE di Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Jumat, 8 September lalu menemukan sejumlah warga menjadi korban penipuan berkedok promo umrah murah.

Khusus di wilayah Tanete Riattang Timur diduga korban travel nakal mencapai 100-an orang.
Salah seorang warga Lingkungan Bene, Kelurahan Lonrae, Kecamatan Tanete Riattang Timur, H Darwis mengaku menjadi korban travel nakal.

Darwis dan istrinya Hj Mawirah telah membayar Rp11 juta per orang untuk berangkat umrah melalui Travel Rindu Ka’bah. Menurut Darwis ia mendaftar melalui pengurus travel bernama H Nasruddin pada Maret 2015. Namun setelah dua tahun berlalu, ia dan istrinya tak kunjung berangkat.

Pria yang disebut sebagai pengurus travel, H Nasruddin malah tak mau bertanggungjawab. “Di Lingkungan Bene ini, ada belasan orang yang sudah mendaftar, tapi tidak ada yang berangkat satu orang pun,” ungkap Darwis.

Darwis mengatakan dirinya berani mendaftar melalui travel Rindu Ka’bah tersebut, karena mengenal baik pengurusnya, yakni H Nasruddin. Apalagi, dirinya sudah pernah menunaikan umrah dan ibadah haji sebelumnya melalui pengurus yang sama. Namun belakangan ternyata mulai bermain.

“Kami mendaftar di travel itu karena saya sudah mempercayai koordinatornya. Sebelumnya, kami pernah umrah dan naik haji dia juga yang urus. Waktu itu semua berjalan lancar, makanya untuk ketiga kalinya kami mempercayakan keberangkatan umrah kami kepada dia.

Tapi ternyata sampai saat ini ada kabar tidak jadi berangkat, karena travelnya kabur. Padahal pakaian dan paspor sudah jadi, tinggal menunggu saja pemberangkatan,” ungkap Darwis.

Darwis berharap uang setoran umrah dikembalikan. “Koordinatornya (H Nasruddin) pernah dimintai untuk mengembalikan uang kami, tapi dia hanya mau kembalikan Rp5 juta saja perorang. Tidak ada yang mau terima, karena kami membayar Rp11 juta perorang,” bebernya.

Seorang warga Lingkungan Benteng, Kelurahan Lonrae, Sanabong juga bernasib sama.
Sanabong mengaku mendaftar pada 2015, bahkan koper telah diterima dari pengurus travel.

Namun hingga kini tak ada tanda-tanda akan diberangkatkan.”Sampai sekarang tidak ada informasi lagi kapan mau diberangkatkan,” ungkap Sanabong. Wanita ini mengaku dibayarkan biaya umrah oleh salah satu keluarganya yang ada di Kalimantan.

Putri Sanabong, Sudarti mendesak pengurus travel segera mengembalikan uang calon jemaah umrah . “Kami berharap dikembalikan saja uangnya, kalau memang tidak jadi berangkat. Kasihan calon jemaah umrah yang sudah diambil uangnya lalu tidak diberangkatkan,” paparnya.

Sementara itu pengurus Travel Rindu Ka’bah, H Nasruddin yang berusaha dikonfirmasi tak berhasil. Informasi dari partner kerjanya, Hj Nirwana yang bersangkutan sedang ke tanah suci. “Kalau masalah itu tanya saja sama H Nasruddin karena saya tidak tahu itu.

Tapi dia (H Nasruddin) tidak ada di rumahnya. Dia berangkat ke tanah suci,” elak Hj Nirwana. Rumah H Nasruddin yang disambangi di Jl Sukawati tertutup. “Beliau kayaknya ke tanah suci,” ungkap H Bachtiar, tetangga H Nasruddin.

Sesungguhnya tak hanya warga Lonrae yang menjadi korban travel nakal. Sejumlah warga Desa Samaenre, Kecamatan Bengo pun mengalami nasib serupa.

Kepala Desa Samaenre, Kecamatan Bengo, AM Amir Dolo mengaku ada sepuluh warganya menjadi korban travel umrah.

Hanya saja, Amir tidak menghafal semua nama korban yang mengalami penipuan tersebut.
“Desa Samaenre, ada sepuluh orang yang jadi korban,” ujar Amir kepada RADAR BONE, 7 September lalu. Sebagian warga Samaenre mendaftar pada travel yang berkedudukan di Makassar. Para korban, kata Amir tidak mengetahui nama travel tempat mereka mendaftar.

Menurut Amir, warganya mendaftar di travel pada 2 Februari 2016, dan dijanjikan untuk berangkat pada 2 Februai 2017 lalu.

“Warga kami membayar Rp15 juta dan dijanji hanya setahun, tapi sampai sekarang belum juga berangkat,” ungkap Amir. Anggota Komisi IV DPRD Bone, Indra Jaya yang dimintai tanggapnnya, menyatakan sangat prihatin dengan sejumlah warga yang diduga menjadi korban travel nakal. “Ini sangat disayangkan, jika betul warga menjadi korban travel. Ini harus diusut aparat penegak hukum.

Kasian warga sudah menaruh harapan besar, tapi malah dirugikan,” ungkap Polisi Partai Demokrat ini seraya juga meminta pihak Kementerian Agama untuk turun tangan.

Mantan Anggota DPRD Bone, Djunaid Umar memberi dukungan yang sama kepada penegak hukum agar mengusut tuntas travel yang meresahkan warga. “Ini harus diusut tuntas, sehingga ke depan tak ada lagi warga yang dirugikan,” kunci aktivis pemberdayaan masyarakat ini.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top