Waspadai Jual Beli Bangku – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Waspadai Jual Beli Bangku

Suasana ujian nasional tingkat SMP sederajat beberapa waktu lalu. Dinas Pendidikan Bone diminta mewaspadai praktik jual beli bangku pada musim pene-rimaan peserta didik baru (PDDB) tahun ini.

PENULIS : ASKAR SYAM – AGUSTAPA

WATAMPONE, RB–Dinas Pendidikan Bone diminta mewaspadai praktik jual beli bangku pada musim penerimaan peserta didik baru (PDDB) tahun ini. Peluang bisnis bangku ini terbuka, menyusul terbatasnya ruang kelas belajar (RKB) di tingkat SMA, sementara calon peserta didik baru diprediksi membeludak. Tingginya angka keluaran SMP, dibanding keluaran SMA, menunjukkan angka selisih yang cukup besar. Sebagai gambaran jumlah peserta UN SMP/MTs sebanyak 12.638 siswa.
Sedangkan peserta UN SMA/SMK/MA hanya 9.130 siswa. Dengan demikian ada selisih yang bertaut jauh, yakni mencapai 3.500 siswa.
Tingginya angka siswa yang terancam tak tertampung, semakin membuka ruang terjadi permainan dalam penerimaan siswa baru. Salah satunya adalah praktik jual beli bangku biasamuncul di setiap musim PDDB.
Anggota Komisi IV DPRD Bone, Muh Ramli meminta disdik mewaspadai praktik curang dalam pelaksanaan PDDB tahun ini. “Kita tidak katakan semua sekolah berbuat seperti itu (Jual beli bangku), tapi tidak tertutup kemungkinan ada oknum panitia yang berbuat. Kita ingatkan hal ini dengan keras agar hal-hal semacam itu tidak terulang,” tegasnya.
Politisi PKS itu menegaskan, pihak sekolah harus taat pada ketentuan kuota yang diberikan.
“Bahwa penerimaan siswa harus disesuaikan dengan daya tampung sekolah itu sendiri. Ja-ngan memaksa diri membuka atau menerima siswa melebihi daya tampung sekolah, karena nanti proses belajar mengajar tidak efektif,” bebernya.
Sementara itu, pengamat pendidikan, Yusdar menilai daya tampung lokal yang ada di Kabupaten Bone masih bisa memenuhi seluruh kuota siswa yang mendaftar. Permasalahan yang terjadi lanjut dia, terjadinya penumpukan siswa di sekolah-sekolah tertentu, khususnya di sekolah unggulan.
“Umumnya siswa memang memilih sekolah favorit, maka-nya distribusi siswa tidak merata. Untuk mengakali persoalan ini, tentunya diimbau sekolah-sekolah untuk menerima siswa sesuai daya tampung, sehingga kemudian penyebaran siswa merata,” tutupnya.
Pengalaman menunjukkan, bahwa 240 siswa SMA Negeri 4 Watampone yang tersebar di enam kelas, terpaksa melantai saat mengikuti pelajaran. Ini terjadi lantaran pihak sekolah menerima siswa di luar kemampuan ruang kelas belajar yang dimiliki.
Sumbangan komite yang dipungut dari siswa beberapa waktu lalu, hanya cukup untuk membangun ruang kelas baru (RKB). Pihak sekolah menghentikan penarikan sumbangan komite saat itu, karena mendapat sorotan dari orangtua siswa.
Wakil Bupati Bone Drs H Ambo Dale, MM meminta pihak sekolah negeri untuk tidak terlalu ambisius dalam menerima siswa baru. Dia meminta pihak sekolah agar mematuhi kuota, agar terjadi pemerataan siswa, sehingga penumpukan siswa tidak terjadi pada sekolah unggulan semata. “Dalam menerima siswa baru, sekolah harus menyesuaikan de-ngan kapasitasnya. Jangan justru melampaui kuota,” tegasnya.

To Top