Wow, Bone ‘Dikepung’ Jalan Rusak – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wow, Bone ‘Dikepung’ Jalan Rusak

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kerusakan jalan menjadi pemandangan biasa di daerah ini. Bone bak dikepung jalan rusak. Kerusakan jalan tak hanya terjadi di pelosok desa, tapi juga di wilayah kota.

Penelusuran RADAR BONE, kerusakan jalan dijumpai di beberapa titik dalam kota, diantaranya Jl Jenderal Sudirman, Jl Sambaloge, Jl Pinra, Jl Agussalim, Jl Menuju Stadion, Jl Reformasi (Depan kantor DPRD), Jl A Pangeran Pettarani, Jl Abu Daeng Pasolong, Poros Lona Rilau, Poros Panyili dan Jl A Celleng.

“Sudah ada beberapa pengendara motor yang jatuh karena menghindari jalan yang berlubang,” ungkap Supriadi, seorang warga di sekitar Stadion Lapatau.  Supriadi menilai langkah pemerintah daerah dalam hal ini Dinas PU dan Penataan Ruang dalam melakukan penanganan sekadarnya saja. Pasalnya, jalan yang berlubang hanya ditimbun tanah sehingga tidak bertahan lama.

“Bagaimana caranya jalan bisa bagus kalau ditimbun tanah saja. Kalau hujan hanyut semua lagi, jadi kembali berlubang,” bebernya.

Parahnya lagi, kerusakan jalan di depan kantor DPRD Bone. Ruas jalan ini kerap dilewati para pengambil kebijakan, baik di legislatif maupun di eksekutif. Namun faktanya jalan rusak sudah tahunan tapi tak kunjung diperbaiki.

Kerusakan jalan tak hanya terjadi di kota. Jalan-jalan di pedesaan juga lebih parah kondisinya. Masih segar di ingatan kita, warga Desa Labotto mengancam pindah domisili ke Wajo, lantarana jalan di desa itu tak kunjung diperbaiki. Padahal, setiap tahun menjadi usulan prioritas di musrenbang. Kerusakan jalan juga terjadi Poros Manajeng-Lewa, Poros Cina-Mare dan Poros Ajangpulu, Kecamatan Cina.

Salah seorang warga Ajangpulu, Kahar mengatakan Poros Desa Ajangpulu yang menghubungkan ke Desa Kanco juga menjadi langganan kecelakaan bermotor. Hampir setiap hari, ada pengendara motor terjatuh karena jalan yang rusak parah.

“Di sini kalau hujan, pengendara motor takut lewat malam. Karena selain jalan rusak parah juga gelap, tidak ada penerangan jalan,” kata Kahar.

Kahar mengatakan masyarakat bisa memaklumi jika anggaran daerah terbatas. Namun demikian, tak berarti jalan di desanya tak diperhatikan. “Harusnya kalau jalan yang rusak seperti ini, jika memang belum ada anggaran untuk pengaspalan, sebaiknya dinas terkait memprogramkan pengerasa dulu. Kasihan masyarakat di sini, setiap tahun dijanji untuk diaspal, namun sampai sekarang tidak pernah terealisasi. Karena lain yang diprogramkan lain juga yang dibangun,” bebernya.

Lain lagi dengan warga Desa Manajang, Kecamatan Sibulue. Pemerintah setempat bersama warga pun melakukan swadaya menimbun jalan berlubang di desanya. Kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki, terpaksa ditangani ala kadarnya.

Kepala Desa Manajeng, Andi Ismail menuturkan, masyarakat tak sabar lagi melihat jalan yang berlubang dengan diameter yang cukup besar.

“Makanya kami warga di sini patungan-patungan menambal lubang jalan ini meski hanya sekedar menambal. Kami hanya meminta bantuan alat berat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bone untuk meratakan tanah timbunan,” ujar Ismail.

Menurut dia, titik terparah kerusakan jalan di wilayahnya berada di Dusun Liwa lantaran jalan tersebut sering digunakan truk pengangkut material.”Sudah dua kali jalan ini diaspal tapi cepat rusak karena sering dilindas truk meterial. Bahkan belum genap setahun setelah diaspal, malah kembali rusak lagi,” bebernya.

Yang memiriskan di tengah kepungan jalan rusak, anggaran yang tersedia untuk pembangunan jalan cukup minim. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas PU dan Penataan Ruang Kabupaten Bone, untuk tahun 2019, program pengaspalan jalan hanya sepanjang 18 km. Ini terbagi atas pengaspalan jalan yang dibiayai dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp32 miliar sepanjang 12,6 kilometer. Kemudian pembangunan jalan yang bersumber dana alokasi umum (DAU) sepanjang 5,5 kilometer dengan jumlah anggaran hanya Rp11 miliar. Terkhusus pembangunan jalan yang dibiayai melalui DAK dipusatkan di poros Lamurukung-Lapuse, poros Telle-Taretta, Welado-Opo dan Usa-Cumpiga.

Sedangkan pembangunan jalan yang dibiayai DAU dipusatkan di poros Libureng-Paccing, Kahu-Palattae, Sanrego, Patimpeng, Desa Ulo Kecamatan Kahu, Bontocani, Taka Kecamatan Bengo, Pasaka Kecamatan Ajangale. Jl Stadion dalam dan poros Panyili.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bone, Jibang mengatakan pengaspalan tahun ini minim.
Masing-masing lokasi yang dibiayai dana DAU rata-rata cuma sepanjang 500 meter. Bahkan ada hanya 300 meter per titik.

“Padahal kami mengusulkan anggaran untuk DAK sebesar Rp250 miliar, sedangkan yang terealisasi hanya Rp32 miliar. Kemudian DAU kami usulkan 1,79 trilliun untuk kebutuhan setiap tahun sedangkan yang direalisasikan hanya Rp11 miliar.  Makanya masih banyak jalan rusak yang belum bisa tersentuh tahun ini,” kata Jibang.

Jibang mencontohkan ruas jalan yang belum bisa ditangani tahun ini, yakni di Tellu Limpoe khususnya di Tapong, Bontocani tersebar di beberapa titik, Cenrana, Ajangale, dan Kahu ada beberapa ruas jalan sulit dilewati kendaraan. Bahkan masih banyak jalanan yang dekat dari kota tidak pernah tersentuh aspal seperti di Desa Kanco dan Ajangpulu Kecamatan Cina sekira 6 km.

“Semua itu membutuhakan dana besar untuk pengaspalan, hanya saja dananya terbatas,” kunci dia.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top