Wow, Bone Masuk Kategori Hitam Kasus Gizi Buruk – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Wow, Bone Masuk Kategori Hitam Kasus Gizi Buruk

Penderita Bertambah, Dukungan Anggaran Minim

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Gizi buruk masih menjadi persoalan serius di daerah ini. Kendati penderita terus bertambah, namun dukungan anggaran dialokasikan pemda dalam APBD sangat minim. Kabupaten Bone belum bebas dari kasus gizi buruk. Bahkan, disebut-sebut sebagai daerah zona hitam kasus gizi buruk.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bone mencatat sebanyak 45 penderita gizi buruk dalam tiga tahun terakhir.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Hj Kartini Abbas SST Mkes mengatakan, pihaknya telah mencatat di atas 10 penderita gizi buruk setiap tahunnya.
“Tahun 2016 Itu 14 orang, kemudian 2017 ada 15 orang. Dan 2018 ini sebanyak 16 orang,” ungkap Kartini saat dikonfirmasi RADAR BONE, beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data yang dibeberkan tersebut, menunjukkan penderita gizi buruk di daerah ini mengalami peningkatan. Diakui Kartini, pemicu terjadinya gizi buruk pada anak cukup beragam.
“Banyak penyebabnya, seperti penyakit infeksi, batuk, diare, faktor kelainan cacat bawaan, dan ada juga karena faktor lingkungan seperti tempat tinggal dan lingkungan, dan juga faktor kemiskinan. Makanya desa dianjurkan untuk Odf,” tambahnya

Diakui Kartini, banyak pasien gizi buruk telah sembuh setelah mendapatkan pendampingan dari Dinas Kesehatan. “Banyakmi yang sembuh, tapi ada juga yang meninggal. Untuk tahun ini saja hanya tambahan, dan sementara kami obati,” jelas Kartini. Kendati kasus gizi buruk di daerah ini menunjukkan peningkatan. Namun dukungan anggaran dari pemerintah daerah untuk penanggulangannya sangat minim.

Berdasarkan data yang dihimpun RADAR BONE, pada APBD tahun 2018 misalnya, Dinas Kesehatan mengalokasikan anggaran program perbaikan gizi masyarakat sebesar Rp31.990.000. Anggaran yang tergolong sangat minim jika melihat luas dan besarnya populasi penduduk Kabupaten Bone. Anggaran perbaikan gizi tahun 2018 tersebut masih jauh lebih baik dibanding tahun 2017 yang cuma Rp18 juta. Anggaran perbaikan gizi cukup memadai hanya dijumpai pada 2015 dan 2016 yang besarnya masing-masing mencapai Rp110 juta. Dan pada tahun 2019, anggaran program perbaikan gizi masyarakat yang tercatat dalam APBD hanya sebesar Rp17 juta. Pengalokasian anggaran yang terburuk dalam lima tahun terakhir.

Minimnya alokasi anggaran untuk program perbaikan gizi masyarakat ini sangat disayangkan publik. Apalagi, Kabupaten Bone, masuk kategori hitam bersama enam kabupaten kota lainnya terkait kasus gizi buruk. Data ini dipaparkan DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Sulawesi Selatan. Persagi merilis tujuh kabupaten yang masuk kategori ‘Hitam’ terkait masalah gizi (Jumlah gizi buruknya tinggi) yakni Enrekang, Sinjai, Tana Toraja, Toraja Utara, Pangkep, Maros, dan Bone.

Kurangnya perhatian dinas terkait (Dinas Kesehatan) terkait penanganan gizi buruk dinilai menjadi akar permasalahan tingginya angka gizi buruk di daerah ini.
Praktisi Sosial, Rahman Arif menegaskan, kasus gizi buruk yang terjadi di daerah ini, harus menjadi perhatian serius pemerintah. Pemerintah harus menunjukkan keberpihakan terhadap masalah ketahanan keluarga.

“Saya masih melihat, pemerintah belum memiliki keberpihakan pada masalah ketahanan keluarga khususnya masalah pemenuhan gizi bagi anak-anak dan balita,” katanya.
Hal ini dibuktikan rendahnya anggaran untuk peningkatan gizi masyarakat.  “Masalah gizi dan kependudukkan adalah isu penting yang harus diprioritaskan. Karena kekayaan suatu negara adalah pada kualitas penduduknya,” katanya.

Gizi buruk kata dia, juga menjadi penyebab utama stunting (Pertumbuhan anak tidak normal).  “Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan juga bisa menjadi penyebab tidaklangsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan,” ujarnya.

Kasus gizi terbaru, yakni terjadi seorang bocah bernama Fikram. Bocah asal Kelurahan Bulu Tempe Kecamatan Tanete Riattang Barat ini dilarikan ke rumah sakit, Jumat, 14 Desember 2018 setelah kondisi fisiknya terus menurun. Muhammad Fikram adalah bungsu dua bersaudara dari pasangan keluarga tak mampu, Hendra-A Sari. Saat dibawa ke rumah sakit,
bobot badan Fikram hanya seberat 3,9 kilogram. Padahal anak seusia dia seharusnya berat badan sudah mencapai 7-8 kg. Dari hasil pemeriksaan dokter, bocah ini diketahui mengalami gizi buruk.

“Alhamdulillah sudah ada perubahan dan anak tersebut ditangani dokter gizi. Dimana awal masuknya di rumah sakit, kondisinya lemas, batuk, sesak napas. Sekarang anak tersebut sedang dirawat sambil menunggu kartu BPJS-nya, karena belum memiliki kartu BPJS,” kata Ramly SH, Kasubag Humas RSUD Tenriawaru saat itu. Tak jauh berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, gizi buruk kerap melanda kalangan keluarga tak mampu.

“Hanya saja kami tidak memiliki kartu BPJS, makanya keluarga kami sedang mengurusnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa diterbitkan sebelum keluar dari rumah sakit agar pembayarannya dapat dibantu pemerintah. Untuk biaya rumah sakit, kami tidakmampu. Karena kami buruh bangunan dan pemasukan tidak menentu.” ucap Hendra kala itu.
Meski kasus gizi buruk banyak berasal dari kalangan keluarga tak mampu, namun dukungan anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah untuk menanggulangi persoalan ini belum berpihak. Selain anggaran yang dialokasikan minim dalam APBD, malah cenderung menurun dari tahun ke tahun.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top