Bejat, Ayah Cabuli Anak Kandung di Bone – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Bejat, Ayah Cabuli Anak Kandung di Bone

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kasus pencabulan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Yang menyedihkan, anak-anak menjadi korban paling menonjol. Lemahnya pengawasan orang tua disebut-sebut sebagai pemicu utama meningkatnya kasus ini.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Polres Bone, menunjukkan adanya peningkatan kasus pencabulan dalam tiga tahun terakhir. Sebagai gambaran, pada 2016, Kepolisian Resort Bone mencatat hanya dua kasus pencabulan. Kemudian pada 2017 bertambah satu menjadi tiga kasus. Yang mencengangkan, memasuki 2018, kasus pencabulan melonjak tajam menjadi lima kasus hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan. (Januari-Februari.
Kasus terbaru adalah aksi pencabulan yang dilakukan ayah kandung terhadap anaknya di Pasempe, Kecamatan Palakka.

Ditemui RADAR BONE, di Mapolsek Palakka, Rabu, 1 Agustus kemarin, RS, orang tua korban membeberkan aksi bejat disertai kekerasan yang dilakukan sang suami terhadap anak gadisnya. Menurut RS, pada Jumat, 27 Juli lalu, suaminya SF (38) masuk ke kamar LS (17) dan berusaha menyetubuhinya. LI yang menolak aksi bejat sang ayah punmelakukan perlawanan. Ia berusaha melarikan diri dari cengkraman sang ayah. Beruntung saat kejadian, RS tiba di rumah dan berusaha melindungi anaknya. Namun keduanya, nyaris celaka saat diancam akan dibunuh oleh SF.

“Ia masuk ke kamar anak saya untuk melakukan hal itu (Pemerkosaan), tapi anak saya menolak dan berusaha melawan, sehingga suami saya memukulnya menggunakan selang,” beber wanita yang bekerja sebagai pedagang di Pasar Sentral Palakka. Tak berhasil melampiaskan nafsu bejatnya, sang ayah lalu keluar kamar mencari seragam sekolah milik korban untuk dirusak.

“Lalu ia keluar mencari pakaian sekolah anak saya untuk dirobek, tapi anak saya menyembunyikan pakaian tersebut. Ia lalu memukul dan menendang anak saya. Anak saya menyerahkan bajunya untuk dirobek karena diancam akan dibunuh,” tambah RS.

RS mengakui suaminya sudah sering mencoba memperkosa anaknya. Namun baru kali ini ia berani melaporkan ke polisi karena sudah tak ditahan menjadi korban tindak kekerasan. Wanita ini mengaku kerap meninggalkan anaknya dan suami di rumah karena dirinya berjualan di pasar.

“Sudah sering sekalimi memukul tapi kami takut karena diancam,” jelas ibu korban.
Kepala Desa Pasempe Kecamatan Palakka, Sudirman ia mengatakan pelaku diamankan pihak Polsek Palakka. “Kami bersama ibu korban sudah melaporkan dan saat ini pelaku sudah ditahan di Polsek,” kata Sudirman.

Kapolsek Palakka, AKP A Bashar membenarkan adanya laporan warga Pasempe tersebut. “Benar, pelaku sudah kami amankan di Mapolsek guna penyidikan lebih lanjut,” ungkap Bashar kepada wartawan. Diakui Bashar pelaku sudah kerap melakukan penganiyaan terhadap korban dan ibunya, Termasuk tindakan pelecehan seksual tersebut sudah lama diketahui ibunya tapi takut melapor.

Aktivis Perlindungan Anak, Martina Mardjid mengatakan kasus ini sudah dimonitor dan pihaknya siap melakukan pendampingan, khusus berupaya membantu memulihkan psikologi korban. “Kami sudah dihubungi Polsek terkait kasus ini. Selanjutnya kami akan membantu korban untuk mengembalikan kepercayaan dirinya karena dia sangat trauma,” kata Martina.

Wanita yang akrab disapa Tina ini meminta pihak kepolisian memberikan hukuman berat bagi pelaku. “Polisi harus memberikan hukuman tanpa ampun kepada pelaku. Iya, seberat-beratnya,” tegasnya.  Lebih jauh Tina mengungkap anak-anak merupakan kelompok rentan pencabulan. Pasalnya, anak-anak kata dia, gampang dibujuk dan diintimidasi. Parahnya, sambung Tina, peluang ini dimanfaatkan oleh kalangan terdekat dari mereka, misalnya keluarga. “Anak-anak kan gampang dipengaruhi, diiming-iming dan mudah ditakut-takuti. Inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku, yang justru banyak dari kalangan terdekat, seperti keluarga. Karenanya ini harus salalu diwaspadai,” jelas Tina.

Pemicu yang lain, kata Tina adalah canggihnya teknologi, sehingga orang dengan mudah mengakses film-film porno. Faktor inilah yang kemudian memicu orang melakukan pencabulan dan memilih anak sebagai korbannya karena faktor gampang dipengaruhi tadi.

Karenanya, menurut Tina untuk mengatasi mengatasi aksi pencabulan anak, pengawasan orang tua harus diperketat. “Orang tua tidak boleh longgar pengawasannya terhadap anak. Dan yang terpenting jangan gampang mempercayai orang terdekat untuk menjaga atau mengantar anak-anaknya. Intinya, mari mewaspadai predator anak, dengan memperketat pengawasan kita terhadap anak,” kunci Tina

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top