Eks Pasar Uloe Diklaim Aset Pemda, Ahli Waris Ancam Tempuh Jalur Hukum – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Eks Pasar Uloe Diklaim Aset Pemda, Ahli Waris Ancam Tempuh Jalur Hukum

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bone berkeras membangun puskesmas rawat inap di eks Pasar Uloe Kecamatan Dua Boccoe. Pemkab melalui Dinas Kesehatan mengklaim jika lahan eks pasar tersebut sudah menjadi aset pemerintah daerah.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bone, A Rasyid mengatakan, puskesmas rawat inap mulai dibangun tahun ini. “Soal ada yang mengklaim itu tanahnya nanti kita buktikan. Karena sebelum diusulkan untuk pembangunan, kita sudah sosialisasikan bahwa di lahan ini akan dibangun puskesmas. Saat itu tidak ada keberatan, kenapa saat bangunan di eks pasar Uloe mau dirobohkan tiba-tiba ada yang datang keberatan dan mengaku lahan itu miliknya,” ujarnya saat dikonfirmasi RADAR BONE kemarin.

Selain itu kata Rasyid, sudah ada hasil kesepakatan bersama pemerintah desa dan kecamatan, bahwa eks pasar itu bukan hibah. Tapi itu adalah aset daerah.
Rasyid mengaku, pembangunan puskesmas rawat inap dianggarkan Rp2 miliar lebih.

Camat Dua Boccoe, A Muslam membenarkan penunjukan lahan untuk pembangunan puskesmas rawat inap tersebut, berdasarkan hasil musyawarah pemerintah desa.
Termasuk adanya surat keterangan status tanah yang diterbitkan pemerintah setempat yang menyatakan tanah yang terletak di lokasi pasar lama Uloe, adalah tanah milik negara, dengan luas 97×38 meter.

Camat mengaku, tanah tersebut diserahkan ke pemerintah daerah (Dinas Kesehatan), untuk pemanfaatan pembangunan Gedung UPTD Puskesmas Dua Boccoe.

“Lahan di eks pasar Uloe itu tidak ada rincinya dan itu adalah aset daerah. Saat rencana pembangunan puskesmas, pihak aset sudah turun ke lapangan mengukur tanah tersebut,” ujarnya. Ia juga mempertanyakan kenapa baru sekarang ada warga yang mengklaim kepemilikan lahan itu.

“Tanah di eks pasar Uloe hampir sepuluh tahun tak dimanfaatkan dan tidak ada yang mengajukan untuk dikembalikan kalau memang ada yang merasa punya tanah itu.
Kenapa pada saat mau dibanguni puskesmas tiba-tiba ada yang mengaku ahli waris,” ujarnya.
Ia juga mempersilahkan jika ada pihak yang keberatan dan merasa dirugikan untuk menempuh jalur hukum.

“Pemerintah itu mau membangun untuk kebaikan masyarakat. Supaya tidak jauh masyarakat pergi ke rumah sakit ketika ada yang berobat dan mengharuskan dirawat inap,” pungkasnya.
Terpisah, salah satu ahli waris, H Nanang menegaskan akan menempuh jalur hukum, jika pemerintah tetap berkeras membangun puskesmas di lahan itu.

“Surat keterangan yang dibuat pemerintah desa, itu cacat hukum karena tanpa sepengetahuan dan persetujuan ahli waris disini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara rinci awal mula tanah tersebut dipinjamkan untuk pembangunan pasar.
“Sebenarnya buka hibah tapi pinjaman. Kakek saya meminjamkan lahan itu Tahun 1.954 untuk pemanfaatan pasar. Warga di Uloe semua tahu pemilik tanah itu. Jadi tidak ada dasar pemerintah desa dan pemerintah daerah melakukan penyerobotan,” tegasnya.

Ia mengaku ahli waris pernah diundang untuk mengikuti rapat di kantor desa membahas pembangunan puskesmas itu.

“Saat itu kami kaget, kok amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang langsung dibahas. Ahli waris protes, kok langsung nyerobot mau membangun, tanpa persetujuan kami,” ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, pembangunan Puskesmas rawat inap di lahan bekas Pasar Uloe Kecamatan Dua Boccoe ditolak ahli waris dan warga setempat. Mereka juga memprotes tindakan sepihak Pemerintah Desa Uloe, yang menyerahkan lahan tersebut untuk pembangunan puskesmas.
Yusran salah satu cucu pemilik tanah Eks Pasar Uloe mengaku menolak pembangunan Puskesmas ditempatkan di Eks Pasar Uloe. Ia mengatakan, tanah itu dihibahkan oleh kakeknya bukan untuk pembangunan Puskesmas melainkan untuk pasar.

“Makanya, untuk mengantisipasi terjadinya pembongkaran dari petugas, kami disini mulai jaga-jaga di lokasi,” ujarnya.

Lahan tersebut kata Yusran, merupakan milik La Sau, kakeknya. Luas lahan tersebut mencapai 100 X 50 Meter. Ia mengaku, kakeknya menghibahkan pasar itu, untuk pembangunan pasar Uloe. Setelah pasar dipindahkan ke Kelurahan Unyi, akhirnya lokasi ini tidak ada lagi aktivitas apa-apa hingga ditempati oleh warga dan TK.

“Kami sayangkan tiba-tiba pemerintah desa menyerahkan tanah tersebut ke pemerintah daerah untuk dibangun Puskesmas, makanya kami tolak, apalagi di Uloe sudah ada Puskesmas tersendiri,” katanya.

Ahli waris kata Yusran tidak pernah mempersoalkan hibah warisan ini sepanjang untuk pasar, namun kalau ditempati membangun Puskemas, tentu pihaknya tidak menerima.
“Dan secara hukum pun, bentuk hibah yang telah diberikan juga gugur, karena pemanfaatan lahan tidak lagi dalam bentuk pasar,” tegasnya.

Diketahui, pemerintah desa setempat menyiapkan lahan di eks pasar uloe untuk pembangunan puskesmas rawat inap.

Ironisnya, lahan yang disiapkan pemerintah desa tersebut tanpa seizin ahli waris.
Tokoh masyarakat setempat yang juga Anggota Komisi III DPRD Bone, H Ramlan mengaku, lahan di eks pasar uloe itu milik keluarga besar H Anis. Lahan tersebut lanjut dia, dihibahkan untuk pembangunan pasar. Setelah pasar uloe dipindahkan ke Kelurahan Unyi, lahan tersebut kini dilirik pemerintah sebagai lokasi strategis pembangunan puskesmas rawat inap.

“Masalahnya ahli waris disini bersama masyarakat setempat menolak. Mereka menolak bangunan di pasar lama ini dirobohkan,” ujarnya.

Ia menegaskan, harusnya pemerintah desa setempat membicarakan terlebih dahulu ke ahli waris sehingga tidak ada permasalahan yang timbul dikemudian hari.

Sebelumnya anggota Komisi IV DPRD Bone, Syamsul Bahri mengatakan, Puskesmas rawat inap Dua Boccoe akan dibangun di lahan bekas pasar lama Uloe. Puskesmas Dua Boccoe kata dia, mendapat suntikan anggaran Rp2 miliar.

Hanya saja kata Syamsul Bahri masih ada kendala yang harus segera diselesaikan. Salah satunya adanya lahan di klaim kepemilikannya oleh warga dan itu dibuktikan dengan adanya sertifikat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top