Legislator Desak Manajemen PGB Tuntaskan Utang – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Legislator Desak Manajemen PGB Tuntaskan Utang

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE—Tunggakan pajak bumi dan bangunan dua pabrik gula di Bone mendapat perhatian serius kalangan legislator DPRD Bone. Komisi II mendesak BUMN yang membawahi pabrik gula tersebut agar menyelesaikan tunggakan PBB keduanya. Tunggakan PBB pada dua pabrik gula yang berkedudukan di Bone, yakni PGB Arasoe dan PG Camming hingga kini belum tuntas. Tunggakan pajak pada kedua pabrik gula ini terjadi sejak 2007. Pihak manajemen berupaya menyicil tunggakan yang ada, namun demikian sejauh ini tunggakan tersisa sebesar Rp5 miliar.

Legislator yang tergabung di Komisi II DPRD Bone menaruh perhatian besar terhadap tunggakan kedua pabrik gula tersebut. Anggota dewan tak ingin utang pajak kedua pabrik gula Bone itu menumpuk sehingga perlu ada pembayaran tunggakan. Namun di sisi lain, legislator juga berharap PGB Arasoe dan PG Camming bisa bangkit.

Ketua Komisi II DPRD Bone, A Muh Idris Alang mengatakan menumpuk-nya tunggakan pajak pada kedua pabrik gula Bone itu berpotensi menimbulkan keduanya pailit. Karenanya, sambung Andi Alang, sapaan akrab legislator Partai Golkar itu, harus ada inovasi dari pihak manajemen pabrik gula untuk me-ningkatkan produksi. Idris mengakui, utang PBB yang mencapai Rp5 miliar, bukan nilai yang sedikit.

Olehnya itu, Komisi II lanjut dia, telah menemui Holding PT Perkebunan Nusantara XIV Jakarta, membahas pelunasan tunggakan PBB kedua pabrik gula tersebut.
“Pihak pabrik gula berjanji akan melunasi utang PBB-nya setelah masa giling, itu yang akan kita lihat apa betul nanti dilunasi,” ujar Idris Alang kepada RADAR BONE, Senin 2 April lalu.

Idris Alang mengakui kinerja manajemen mulai membaik pasca revitalisasi dua tahun silam. “Namun kita tetap mendorong agar produksi pabrik gula terus meningkat. Termasuk me-nyarankan agar bagaimana di kemasan gula yang diproduksi dicantumkan nama Bone (Gula Bone) dan dipasarkan di pasar-pasar tradisional ataupun minimar-ket di daerah ini,” tukasnya.

Anggota Komisi II lainnya, Hj Mintayu Sunusi menambahkan, perlunya manajemen meningkatkan produksi sehingga nantinya bisa menekan umur utang.
Pengamat Ekonomi, Muhammad Kasim melihat tingkat efisiensi produksi sebagian besar pabrik gula milik BUMN sangat rendah. Dia mencontohkan, sebanyak 78% pabrik gula milik BUMN yang berope-rasi sudah menginjak usia di atas 100 tahun. Akibatnya, produktivitas terus terkikis karena pabrik beroperasi dengan tingkat efisiensi yang relatif rendah.

“Untuk menekan impor, kuncinya adalah bagaimana merevitalisasi pabrik yang sudah ada. Di samping itu perlu terobosan untuk mulai mengembangkan perkebunan tebu,” tukasnya.
Kebutuhan gula konsumsi dan industri nasional diperkirakan mencapai 6,8 juta ton pada 2020. Seperti diketahui, permintaan gula nasional sepanjang tahun lalu mencapai 5,7 juta ton, dengan komposisi 2,9 juta kebutuhan gula industri dan sebanyak 2,8 juta ton merupakan konsumsi masyarakat.

“Kebutuhan terus me-ningkat, tapi produksinya terus menurun. Ini yang terjadi di sebagian besar pabrik gula di Indonesia. Termasuk di Bone. Gap yang semakin melebar itu menjadi alasan mengapa impor raw sugar terus meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, produksi gula domestik terus menurun dalam 5 tahun terakhir. Pada 2012, produksi gula perusahaan BUMN dan swasta mencapai 2,59 juta ton. Ang-ka itu terus menyusut hingga hanya sebesar 2,21 juta ton pada 2016. Padahal, terdapat seba-nyak 48 pabrik gula milik BUMN dan 17 pabrik gula swasta yang beroperasi di dalam negeri.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top