Poros Bone-Wajo Makin Parah, Titik Amblas Bertambah – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Poros Bone-Wajo Makin Parah, Titik Amblas Bertambah

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Ruas jalan yang amblas di Poros Bone-Wajo butuh penanganan cepat. Jika dibiarkan berlarut-larut, jalur trans Sulawesi terancam terputus. Titik amblas di Poros Bone-Wajo tepatnya di Dusun Kaluku Jengkongnge, Desa Solo Kecamatan Dua Boccoe, bertambah. Setelah jalanan ambrol sepanjang 12 meter, kini muncul titik baru. Titik baru ini tak jauh dari ruas jalan yang amblas sebelumnya.

Pantauan RADAR BONE, titik baru yang mulai retak panjangnya sekira 7 meter. Pihak Kementerian PU, telah memasang tanda khusus, agar titik tersebut tidak dilintasi kendaraan.
“Pemerintah harusnya tidak tutup mata. Ini harus segera disikapi, karena titik amblas semakin parah. Apalagi jalur ini (Poros Bone-Wajo) merupakan akses vital (Jalur trans Sulawesi),” ujar Hamdan, salah seorang pengguna jalan, Rabu 17 Oktober kemarin.

Sebelumnya, pada Jumat 28 September lalu, poros Bone-Wajo sempat lumpuh. Jalur itu tidak bisa dilalui kendaraan bertonase berat. Penyebabnya, ruas jalan amblas di Labembe, Dusun Kaluku Jengkongnge, Desa Solo Kecamatan Dua Boccoe. “Untung saat kejadian, tidak ada kendaraan melintas,” ujar Amin warga setempat. “Jika tidak segera ditangani, jalur trans Sulawesi tersebut terancam lumpuh total,” tambahnya.

Pemerintah daerah pun disarankan membuka jalur baru. Poros Bone-Wajo tak lagi aman untuk pengendara. Jalan amblas, sewaktu-waktu mengancam keselamatan pengendara.
Banyak jalur alternatif yang bisa menjadi pilihan pemerintah untuk dibenahi. Salah satunya, jalur Melle-Timurung atau Ujung-Timurung. Jalur ini, menghubungkan Desa Melle/Ujung, Sailong, Sanrangen, Timurung dan Pompanua. Jalur alternatif lainnya, yakni Pompanua-Taccipi. Jalur ini menghubungkan Kelurahan Pompanua, Timurung, Ajanglaleng, Waengpubbu dan tembus ke Taccipi Kecamatan Ulaweng. Khusus jalur Melle/Ujung-Timurung, kondisinya rusak berat. Pengendara harus berpikir dua kali untuk menembus jalur ini. “Pemerintah daerah harus segera memikirkan jalur alternatif. Poros Bone-Wajo saya kira tidak bisa lagi menjadi prioritas jalur Trans Sulawesi. Apalagi pengikisan jalan di lokasi ini kian parah. Ini mungkin disebabkan pendangkalan Sungai Walanae,” ujar Praktisi Sosial, Rahman Arif.

Ketua DPRD Bone, Drs A Akbar Yahya MM turut mendesak pemerintah untuk segera melakukan perbaikan jalur yang ambles.
“Ini kan jalur cukup padat. Kami minta pemerintah segera lakukan perbaikan. Dikerjakan secepatnya supaya aman, secara permanen, sehingga masyarakat kembali nyaman,” ujar Akbar.
Pendangkalan sungai Walannae di sepanjang poros Bone-Wajo diduga menjadi pemicu utama amblasnya jalan di jalur ini. Ancaman abrasi kini menghantui penduduk yang bermukim di sepanjang bantaran sungai tersebut.

Pendangkalan Sungai Walannae, diduga terjadi akibat maraknya aktivitas penambangan pasir di sepanjang aliran Sungai Walannae. Mulai dari Desa Welado, hingga ke Desa Lea Kecamatan Tellu Siattinge. Selain itu, longsor juga mengancam arus lalu lintas di sepanjang poros Bone-Wajo.

“Kalau tidak segera disikapi, dikhawatirkan terjadi kecelakaan. Karena lokasi longsor, tepat berada di tikungan jalan. Ditambah pada malam hari, tidak ada penerangan jalan di lokasi ini,” ungkap Muhammad Justang, warga Desa Solo, Kecamatan Dua Boccoe.
Warga lainnya, Samsul Alam turut mendesak dihentikannya aktivitas tambang pasir di sepanjang aliran Sungai Walannae.
Selain bisa merusak lingkungan, abrasi akibat ditambang secara liar, juga mengganggu ketertiban umum dengan menempatkan galian pasir di wilayah terlarang.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top