Tradisi ‘Cemme-cemme’, Wujud Syukur Masyarakat Lakukan Atas Hasil Panen – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Tradisi ‘Cemme-cemme’, Wujud Syukur Masyarakat Lakukan Atas Hasil Panen

RADARBONE.CO.ID–Sungai Batu Mattimbawoe yang terletak di Desa Lakukang, Kecamatan Mare sudah puluhan tahun menjadi tempat perayaan kesyukuran warga setempat setelah panen padi. Batu Mattimbawoe atau warga sering juga menyebut Batu Timbawoe konon kabarnya nama itu diambil rupa batu yang ada di pinggir sungai itu menyerupai gua.

Tak sembarang orang diperbolehkan masuk ke bawah batu itu. Hanya pada momen-momen tertentu saja warga bisa mandi di sungai.

“Sebelum mandi biasanya ada orang yang dituakan melakukan ritual. Perayaan seperti ini baru bisa mandi sepuasnya tapi tetap tidak boleh banyak tingkah karena di sini termasuk tempat yang dipercaya angker, dan sungai juga cukup dalam,” kisah Nurbaeti, salah eorang warga,

Aktivitas Cemme-cemme (Mandi-mandi) dirayakan sekali dalam satu tahun menjadi momen yang dinantikan warga. Bukan hanya penduduk setempat, beberapa warga dari kecamatan lain sengaja datang menyaksikan keseruan tradisi yang masih terjaga itu.

“Untuk waktu perayaan biasanya pada akhir pekan karena banyak juga warga yang bekerja kantoran. Di sini semua kalangan datang, tidak hanya dari kalangan petani yang habis panen,” tambahnya. Bukan cuma usai panen digelar aktivitas Cemme-cemme, warga yang sudah melangsungkan hajatan pesta pernikahan biasanya juga melakukan aktivitas serupa di sungai tersebut.

“Dulu saya waktu habis nikah ke sini juga mandi-mandi. Semua warga yang asli Desa Lakukang mandi bersama pasangannya sehabis menikah. Hanya sebagai ungkapan kesyukuran saja,” beber Fatma, warga Lakukang lainnya.

Dalam gelaran Cemme-cemme, warga saling siram air. Mereka menganut prinsip tak ada pengunjung yang boleh pulang ke rumah tanpa berbasah-basahan.

Puncak keseruan biasanya terjadi jelang warga bubar. Terkadang terjadi aksi kejar-kejaran ketika ada yang hendak pulang namun pakaiannya masih kering alias belum mandi. Sejumlah pria berusaha mengejar dan menyiram, atau diangkat beramai-ramai lalu diceburkan ke sungai.

Begitu pula dengan remaja yang selalu mengabadikan momen menggunakan ponsel. Sekumpulan pemuda biasanya mendatangi kemudian diangkat lalu diceburkan ke sungai.

“Pokoknya diceburkan kalau tidak bisa berenang nanti dibantu. Ini adalah momen sekali setahun jadi betul-betul dimanfaatkan. Setelah menguras tenaga di sawah dari menggarap, menebar benih, hingga panen. Maka hari ini dimanfaatkan untuk bersantai dan bersilaturahmi dengan keluarga,” kunci Asrul, warga lainnya.

*

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top