Tradisi Cemme Passili di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge. Ritual Untuk Menghindari Ancaman Kekeringan – Radar Bone

Radar Bone

Berita Terkini

Tradisi Cemme Passili di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge. Ritual Untuk Menghindari Ancaman Kekeringan

Salah satu adegan dari tradisi Cemme Passili di Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge. Kegiatan ini kembali dihelat warga setempat, Senin, 27 November kemarin.

PENULIS : SUDRY

RADARBONE.CO.ID_WATAMPONE–Kabupaten Bone kaya akan pesta tradisi. Salah satunya adalah ‘Cemme Passili’ yang setiap tahun dihelat warga Desa Ulo Kecamatan Tellu
Siattingnge. Cemme Passili berasal dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata, yaitu Cemme dan Passili. Cemme dalam bahasa Indonesia berarti mandi, sedangkan Passili memiliki arti membersihkan diri. Cemme Passili merupakan kegiatan ritual yang dilaksanakan warga Ulo setiap tahun rangka menolak bala kekeringan. Kegiatan ini kembali dihelat warga setempat, Senin, 27 November kemarin.

Pelaksanaan ritual ini disangat banyak warga. Tak hanya dari warga setempat, tapi juga berasal dari desa tetangga. Mereka berkumpul dan memadati bibir sungai, tempat pelaksanaan pesta ritual.Prosesi ritual, terlebih dahulu warga melakukan pemotongan kuda, lalu dimasak untuk disajikan bagi para tamu dan kerabat yang berkunjung ke desa untuk melihat pelaksanaan acara sakral tersebut.

“Sebelum acara Cemme Passili dimulai, pasti dilakukan dulu pemotongan puluhan kuda, lalu dibagikan kepada warga untuk dimasak dan kemudian dihidangkan untuk tamu yang berkunjung,” ungkap Siti Mirah, salah seorang warga Desa Ulo.

Ritual Cemme Passili dimulai dengan pemanjatan doa yang dilakukan sesepuh adat. Pada masa Mappe masih hidup, ritual ini dijalankan olehnya sebagai tokoh masyarakat yang dituakan. Setelah itu dilanjutkan dengan menceburkan para tokoh adat dan kepala desa ke dalam sungai. Kemudian berlanjut oleh seluruh warga yang saling menceburkan diri, baik laki-laki maupun perempuan dari berbagai usia. Bahkan dalam prosesi ini, tak jarang warga desa terlibat aksi kejar-kejaran untuk berusaha saling menceburkan ke sungai. Pemandangan inilah yang justru menambah kemeriahan tradisi Cemme Passili tersebut.

“Iya memang semua warga Ulo harus diceburkan ke sungai sebagai salah satu bentuk prosesi sakral mensucikan diri, hal ini dilakukan sebagai salah satu ritual monolak bala pada tempo dulu, “ungkap Firsal, pemuda setempat yang juga cucu mendiang Mappe, sesepuh adat setempat.

Tokoh Pemuda setempat, Idris Afandi SSos MSi menceritakan tradisi Cemme Passili bermula dari bencana kelaparan dan kekeringan yang melanda nenek moyang warga Ulo pada masa lalu, Karena kekeringan yang berkepanjangan hingga akhirnya Datu Salimang, raja pada saat itu mendapatkan petunjuk dalam mimpinya agar berdoa di pinggir Sungai Ulo bersama dengan rakyatnya.

“Pada saat itu masa pemerintahan Datu Salimang, raja pada saat itu mendapat petunjuk dari mimpinya untuk memanjatkan doa di pinggir sungai sebagai salah satu bentuk cara meminta hujan kepada sang pencipta, ia pun memanggil seluruh rakyatnya untuk berdoa meminta hujan bersamanya di pinggir sungai Ulo yang hampir kering itu. Nah, setelah itu hujan turun, karena kegembiraan raja dengan rakyatnya hingga mandi mandilah mereka di sungai itu dengan air hujan dengan niat untuk membersihkan diri,” kunci dia.
Kini warga Ulo, secara temurun mempertahankan tradisi tersebut hingga hari ini.

Kepala Desa Ulo, Hj Andi Paridahwaty SSos mengungkapkan, ritual Cemme Passili wajib dilaksanakan hari Senin. “Karena peristiwa tersebut bertepatan hari Senin. Dan dilaksanakan usai masa panen, sebagai tanda syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah,” ungkapnya

Tokoh Masyarakat setempat, Andi Kusayyeng SSos MSi menceritakan tradisi Cemme Passili bermula dari bencana kelaparan dan kekeringan yang melanda nenek moyang warga Ulo pada masa lampau. Karena kekeringan yang berkepanjangan hingga akhirnya raja yang memimpin pada masa itu (Datu Salimang) mendapatkan mimpi (wahyu) agar berdoa di pinggir Sungai Ulo. Raja pun memanggil seluruh rakyatnya untuk berdoa meminta hujan, sambil bermain air di dasar sungai yang hampir kering.

“Pada saat Raja Ulo memanggil semua rakyatnya untuk berdoa agar terhindar dari bencana kekeringan di sungai ini, seketika itu turunlah hujan dan mulai saat itu ritual ini dilakukan secara turun temurun setiap tahunnya,” jelas pria yang pernah menjabat kepala desa dua periode tersebut.

Lanjut dia, peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin dan waktunya sekira pukul 09.00-10.00 pagi. “Makanya, Cemme Passili dilaksanakan hari Senin dan di mulai pukul 09.00 -10.00 Wita. Pada masa kepemimpinan Datu Salimang, belum dikenal sistem pemerintahan,” bebernya. Sekedar diketahui, Desa Ulo memiliki luas wilayah sekira 17 Km/persegi dan berjarak sekira 26 Km dari ibu kota kabupaten. Awalnya Ulo adalah sebuah kerajaan kecil. Raja Ulo pertama adalah Besse Sembong dan diberi gelar oleh rakyatnya Raja Ulo dengan sebutan Petta Ulo.

Setelah beberapa tahun berkuasa akhirnya digantikan oleh Petta Ulo II yaitu A Saleng. KemudianA Saleng digantikan putranya yaitu Petta Belo. Berhubung karena keadaan berubah, Petta Belo bukan lagi dikenal dengan Petta Ulo me-lainkan Petta Desa.
Petta Ulo merupakan kepala desa pertama yang digantikan Sirajuddin (Petta Lallo 1984-1986). Disaat masih menjabat kades, dia diangkat jadi lurah di Tokaseng dan digantikan kembali Petta Belo (1986-1992). Selanjutnya berturut-turut memerintah A Abdul Rahman (Satu periode) selanjutnya Andi Kusayyeng (Dua periode). Dan saat ini Desa Ulo dipimpin Hj Andi Paridahwaty SSos.
“Kan awalnya Ulo dipimpin perempuan, makanya sekarang dikembalikan lagi pemimpinnya dari kaum perempuan,” canda pria yang kini menjabat Sekcam Awangpone tersebut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top